sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menolak hadiri sidang, HRS akan rugi

Munarman, kuasa hukum HRS, mengatakan kliennya tidak setuju sidang secara virtual. Jika ini dilanjutkan, hakim melawan prinsip hukum.

Achmad Rizki
Achmad Rizki Selasa, 16 Mar 2021 21:03 WIB
Menolak hadiri sidang, HRS akan rugi

Habib Rizieq Shihab (HRS) dan kuasa hukum menolak persidangan secara virtual. Jika terus seperti itu, HRS yang akan mengalami kerugian.

"Bila HRS tidak mau hadir di persidangan, maka justru merugikan diri HRS yang akan kehilangan hak membela diri yang diberikan oleh hukum," kata pakar hukum pidana Universitas Indonesia Indriyanto Seno Adji kepada wartawan, Selasa (16/3).

Pengadilan Negeri Jakarta Timur mengadakan sidang secara virtual kasus kontroversi tes usap (swab test) di Rumah Sakit Ummi, Bogor, dengan terdakwa Rizieq Shihab, siang tadi. Sidang berlangsung ricuh. 

Kuasa hukum menolak HRS mengikuti sidang secara virtual dari kantor Bareskrim Polri. Munarman, kuasa hukum HRS, mengatakan kliennya tidak setuju sidang secara virtual. Jika ini dilanjutkan, menurut dia, hakim melawan prinsip hukum.

Sedangkan majelis hakim berpijak pada Perma Nomor 4 Tahun 2020 bahwa persidangan selama pandemi Covid-19 dijalankan secara online. Ini sudah berlangsung sejak Juni. Hakim yakin sidang berjalan lancar karena teknis persidangan sudah disiapkan dengan baik.

Indriyanto berpendapat, tidak ada aturan yang hakim langgar karena memang persidangan secara virtual sudah diatur Perma. "Semua ini justru untuk mencegah penyebaran pandemi dan meminimalisasi kerumunan berdampak paparan Covid-19," ujar Indriyanto.

Indriyanto justru menilai keputusan HRS dan kuasa hukum menolak sidang virtual merupakan bentuk tidak berkelakuan baik dalam proses pengadilan. Dia menduga, kubu HRS  diselimuti kekhawatiran dalam menghadapi persidangan.

"Ini memang merupakan Obstruction of Justice dalam bentuk Misbehaving in Court (tidak berkelakuan baik dalam proses pengadilan)," tegas Indriyanto.

Sponsored

Kasus yang menjerat HRS ini berawal dari laporan Satgas Covid-19 Kota Bogor terhadap manajemen Rumah Sakit Ummi. Pihak rumah sakit diduga menghalangi upaya Satgas melakukan swab test terhadap Rizieq.

Setelah gelar perkara, penyidik Bareskrim Polri menetapkan Rizieq, Direktur Utama Rumah Sakit Ummi Andi Tatat, dan menantu Rizieq, Hanif Alatas sebagai tersangka. Mereka diduga melanggar Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular.

Berita Lainnya