sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

ICMI kendaraan Habibie, geser ketergantungan Soeharto pada militer

Perwira militer sempat mencurigai ICMI sebagai organisasi sektarian yang membahayakan persatuan negara dan bangsa.

Mona Tobing Robertus Rony Setiawan
Mona Tobing | Robertus Rony Setiawan Sabtu, 14 Sep 2019 14:43 WIB
ICMI kendaraan Habibie, geser ketergantungan Soeharto pada militer

ICMI dan Orde Baru

Dalam ingatan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie, Habibie merupakan sosok yang sangat inspiratif. Setelah sempat bekerja di perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bölkow-Blohm yang berpusat di kota Hamburg, Habibie memenuhi permintaan Presiden ke-2 RI Soeharto untuk kembali ke Tanah Air. Pada 1973 ia “pulang kampung”.

“Sepulang dari Jerman, dia memunculkan pemikiran Iptek dan Imtak. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) berperan penting untuk membangun kualitas intelektual, sementara keimanan dan ketakwaan (Imtak) membangun integritas,” kata Jimly. 

Kala itu, menurutnya, terjadi kontroversi di masyarakat terhadap ide Habibie itu. Jimly mencontohkan, sekitar 1980-an, sejumlah kalangan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyanggah pemikiran iptek-imtak tersebut. Keduanya terdengar aneh bagi benak publik.

“Dua istilah itu tidak lazim karena di Indonesia biasanya kita hanya mengenal ilmu pengetahuan, tanpa ‘teknologi’. Habibie memperkenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ucapnya.

Sementara itu, Habibie juga mengusulkan imtak sebagai prinsip dari keimanan yang menyatu dengan ketakwaan. Meski kurang diterima masyarakat, iptek-imtak lama-kelamaan berkembang sebagai praksis pemikiran kecendekiaan ala Habibie. Jimly menjelaskan, iptek dan imtak merupakan bagian integral yang utuh dan seimbang.

“Jadi Pak Habibie membayangkan masa depan Indonesia bergantung pada intelektualitasnya, baik dari segi kualitas maupun integritasnya. Jadi bukan hanya sebagai ilmuwan, tapi juga cendekiawan,” kata Jimly.

Ketika pada Februari 1990 berlangsung pergerakan para ilmuwan Muslim yang terpecah-pecah, sekelompok mahasiswa yang prihatin menggelar forum kecil di Universitas Brawijaya, Malang.

Para mahasiswa Unibraw yang di antaranya meliputi Erik Salman, Ali Mudakir, dan M. Zaenuri, menemui Immaduddin Abdurrahim dan M. Dawam Rahardjo. Mereka berembuk membicarakan dibentuknya wadah cendekiawan muslim nasional.

Mereka lalu diantar oleh Imaduddin Abdurrahim, M. Dawam Rahardjo, dan Syafi'i Anwar menghadap Prof BJ. Habibie yang saat itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Habibie diminta untuk memimpin kesatuan para cendekiawan muslim senasional.

Jimly menyebutkan, salah satu alasan yang paling mendekati cerita di zaman itu ialah karena kebutuhan sosok cendekiawan Muslim yang memiliki level nasional dan internasional.

“Juga yang diterima oleh umat Islam, diterima masyarakat Indonesia keseluruhan, dan pemerintah,” ujarnya menambahkan.

Buah dari upaya itu ialah didirikannya Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) di Malang, Jawa Timur, 7 Desember 1990. Habibie diangkat secara aklamasi sebagai Ketua Umum ICMI pertama. Lewat ICMI, Habibie menorehkan babak baru dalam masa pemerintahan Orde Baru.

“Beliau (BJ Habibie) simbol dari intelektuil yang berpikir dan peduli tentang kemajuan bangsa dan umat Islam. Dia menjadi pelopor bagaimana agar kaum intelektual tidak sekadar saintis atau ilmuwan, tetapi intelektual yang punya kepedulian kepada bangsa,” kata Jimly.