sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

ICMI kendaraan Habibie, geser ketergantungan Soeharto pada militer

Perwira militer sempat mencurigai ICMI sebagai organisasi sektarian yang membahayakan persatuan negara dan bangsa.

Mona Tobing Robertus Rony Setiawan
Mona Tobing | Robertus Rony Setiawan Sabtu, 14 Sep 2019 14:43 WIB
ICMI kendaraan Habibie, geser ketergantungan Soeharto pada militer

Puluhan pelayat yang memenuhi rumah keluarga besar almarhum BJ Habibie hanya bisa mengamini sungguh-sungguh penuturan Ilham Akbar Habibie. Putra pertama Bacharuddin Jusuf Habibie itu menyampaikan sambutan singkat memulai doa tahlilan bagi mendiang ayahnya.

Ilham mengatakan, ada kesan mendalam dari saat-saat terakhir ayahnya dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Hingga beberapa jam sebelum Habibie mengembuskan napas terakhir Rabu petang (11/9), sejumlah kerabat, sahabat, anggota keluarga, dan kolega satu per satu mengunjungi dan menciumi ayahnya. Ilham pun mencurahkan seluruh waktunya untuk menemani ayahnya di kamar perawatan Cerebro Intensive Care Unit (CICU) RSPAD Gatot Subroto.

Dalam suasana duka tapi juga diliputi kesan mengharukan itulah, Ilham mengungkapkan simbol dari nama Habibie.

“Bapak meninggal dalam pelukan cinta dari kita semua. Saya kira itu adalah (alasan) mengapa hari ini saya lihat Bapak wajahnya seperti senyum. Itulah yang saya kira harus kita artikan dari nama Habibie, ‘yang dicintai dan yang mencintai’,” ucap Ilham.

Ilham mengenang, saat upacara pemakaman pada siang harinya, ia melihat seulas senyum di wajah ayahnya. Dalam proses pemakaman, Ilham dan adiknya, Thareq Kemal Habibie, bersama-sama menadahkan tangan dalam liang untuk menerima jasad ayahnya.

“Bapak itu meninggal, wafat, dalam kebahagiaan, dia bukan saja mencintai orang tapi juga dicintai orang,” katanya.

Bacharuddin Jusuf Habibie yang memiliki panggilan semasa muda Rudy dilahirkan di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. BJ. Habibie adalah Presiden ketiga Republik Indonesia dengan periode terpendek, yaitu 21 Mei 1998–20 Oktober 1999. Habibie menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998.

Habibie mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMAK Dago, Kota Bandung pada 1954. Dia melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung. Hanya beberapa bulan di ITB, dia memutuskan mengikuti jejak teman-temannya bersekolah di Jerman. Dia memilih Jurusan Teknik Penerbangan di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule, Jerman, pada 1955–1965.

ICMI dan Orde Baru

Dalam ingatan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie, Habibie merupakan sosok yang sangat inspiratif. Setelah sempat bekerja di perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bölkow-Blohm yang berpusat di kota Hamburg, Habibie memenuhi permintaan Presiden ke-2 RI Soeharto untuk kembali ke Tanah Air. Pada 1973 ia “pulang kampung”.

“Sepulang dari Jerman, dia memunculkan pemikiran Iptek dan Imtak. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) berperan penting untuk membangun kualitas intelektual, sementara keimanan dan ketakwaan (Imtak) membangun integritas,” kata Jimly. 

Kala itu, menurutnya, terjadi kontroversi di masyarakat terhadap ide Habibie itu. Jimly mencontohkan, sekitar 1980-an, sejumlah kalangan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyanggah pemikiran iptek-imtak tersebut. Keduanya terdengar aneh bagi benak publik.

“Dua istilah itu tidak lazim karena di Indonesia biasanya kita hanya mengenal ilmu pengetahuan, tanpa ‘teknologi’. Habibie memperkenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ucapnya.

Sementara itu, Habibie juga mengusulkan imtak sebagai prinsip dari keimanan yang menyatu dengan ketakwaan. Meski kurang diterima masyarakat, iptek-imtak lama-kelamaan berkembang sebagai praksis pemikiran kecendekiaan ala Habibie. Jimly menjelaskan, iptek dan imtak merupakan bagian integral yang utuh dan seimbang.

“Jadi Pak Habibie membayangkan masa depan Indonesia bergantung pada intelektualitasnya, baik dari segi kualitas maupun integritasnya. Jadi bukan hanya sebagai ilmuwan, tapi juga cendekiawan,” kata Jimly.

Ketika pada Februari 1990 berlangsung pergerakan para ilmuwan Muslim yang terpecah-pecah, sekelompok mahasiswa yang prihatin menggelar forum kecil di Universitas Brawijaya, Malang.

Para mahasiswa Unibraw yang di antaranya meliputi Erik Salman, Ali Mudakir, dan M. Zaenuri, menemui Immaduddin Abdurrahim dan M. Dawam Rahardjo. Mereka berembuk membicarakan dibentuknya wadah cendekiawan muslim nasional.

Mereka lalu diantar oleh Imaduddin Abdurrahim, M. Dawam Rahardjo, dan Syafi'i Anwar menghadap Prof BJ. Habibie yang saat itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Habibie diminta untuk memimpin kesatuan para cendekiawan muslim senasional.

Jimly menyebutkan, salah satu alasan yang paling mendekati cerita di zaman itu ialah karena kebutuhan sosok cendekiawan Muslim yang memiliki level nasional dan internasional.

“Juga yang diterima oleh umat Islam, diterima masyarakat Indonesia keseluruhan, dan pemerintah,” ujarnya menambahkan.

Buah dari upaya itu ialah didirikannya Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) di Malang, Jawa Timur, 7 Desember 1990. Habibie diangkat secara aklamasi sebagai Ketua Umum ICMI pertama. Lewat ICMI, Habibie menorehkan babak baru dalam masa pemerintahan Orde Baru.

“Beliau (BJ Habibie) simbol dari intelektuil yang berpikir dan peduli tentang kemajuan bangsa dan umat Islam. Dia menjadi pelopor bagaimana agar kaum intelektual tidak sekadar saintis atau ilmuwan, tetapi intelektual yang punya kepedulian kepada bangsa,” kata Jimly.

Dimusuhi Militer

Kilas balik eksistensi ICMI terjadi sebelum otoritas Presiden Soeharto berakhir. Soeharto memang telah memulai untuk merangkul kekuatan Islam.

Ia sadar kalau posisi muslim sangat penting dan strategis. Selama ini Soeharto memang lebih banyak bergantung pada dunia militer. 

Soeharto mulai memeluk kekuatan sipil muslim dan secara perlahan meminimalkan ketergantungan politiknya pada militer. Peran Habibie pun makin mantap untuk meminimalkan peran militer dalam pemerintahan, setelah berhasil terpilih menjadi Wakil Presiden berdasarkan Sidang Umum tahun 1998. 

Karpet merah dari Presiden untuk ICMI membuat sejumlah pihak gerah. Dalam tulisan Abdul Haris Fatgehipon dengan judul 'The Relationship Amongst Soeharto, Military and Muslim in the End of New Order', Regime menulis mayoritas militer melihat ICMI sebagai ancaman baru terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. 

Perwira militer bahkan mencurigai ICMI sebagai organisasi sektarian yang membahayakan persatuan negara dan bangsa. Sebab hanya memberi prioritas kepentingan umat Islam.

Ilmuwan Politik Amerika William Liddle menilai, pada awalnya ICMI dianggap sebagai instrumen yang dirancang dan digunakan oleh Soeharto untuk tujuannya sendiri.

Sayang, Soeharto salah sangka, ICMI tidak bekerja untuk menjaganya. Sebaliknya, Soeharto malah digantikan oleh orang kepercayaannya yang menjabat sebagai Wakil Presiden yakni Habibie. 

Rupanya dalam catatan Liddle, setelah kongres ICMI sejumlah aktivis Islam yang menempati posisi strategis dalam pemerintahan justru bertekad untuk mengambil alih kekuasaan dari Soeharto cepat atau lambat dengan atau tanpa Habibie. 

Keberadaan ICMI tidak bisa disangkal berperan bagi politik umat Islam, meski belakangan peran tersebut menyurut dengan hadirnya banyak partai Islam yang tampil memperjuangkan kepentingan umat Islam. Sepeninggal, Habibie tentu ICMI diharapkan tetap bernaskan dari bagian gerakan modernisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.