sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Muhammadiyah desak pemerintah pulangkan mahasiswa dari China

Antisipasi penularan coronavirus, PP Muhammadiyah meminta pemerintah memulangkan mahasiswa Indonesia di China.

Khaerul Anwar Ardiansyah Fadli
Khaerul Anwar | Ardiansyah Fadli Senin, 27 Jan 2020 12:05 WIB
Muhammadiyah desak pemerintah pulangkan mahasiswa dari China
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta pemerintah segera memulangkan mahasiswa Indonesia yang berada di Wuhan, China. Hal itu penting agar tidak ada WNI yang terdampak penyakit berbahaya coronavirus.

Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan, pihaknya mendesak Pemerintah segera melakukan upaya preventif. Berdasarkan informasi yang diterima dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) China, setidaknya masih terdapat 80 mahasiswa Indonesia di Wuhan, China.

"Sekarang masyarakat di Wuhan diisolasi, termasuk mahasiswa Indonesia, tidak boleh ada warga yang ke luar atau masuk ke kota tersebut," kata Abdul Mu'ti dalam keterangannya di Jakarta, Senin (27/1).

Mahasiswa Indonesia yang berada di Wuhan terjebak dan tinggal di tempat penampungan, aktivitas kuliah pun diliburkan.

"Muhammadiyah mengharapkan agar Pemerintah memulangkan mahasiswa untuk sementara. Penyebaran virus sangat cepat dan berbahaya," lanjutnya.

Hingga Senin (27/1) jumlah korban meninggal di China akibat wabah virus Corona, mencapai 80 orang. Komisi Kesehatan Nasional China menyebut jumlah orang yang terinfeksi virus mematikan itu menjadi 769 orang,

Sementara Pemerintah Provinsi Banten mulai mengantisipasi penyebaran coronavirus atau novel coronavirus (nCoV) di wilayah Banten.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Banten Wahyu Santoso mengatakan, telah mengirimkan surat edaran ke setiap pemerintahan kabupaten/kota dan rumah sakit.

Sponsored

"Kami mengirim surat kewaspadaan dini ke kabupaten/kota dan rumah sakit," kata Wahyu saat dikonfirmasi, Senin (27/1).

Ada lima poin langkah antisipasi dalam surat edaran Dinkes Banten.

1. Pengamatan terhadap peningkatan kasus influenza like ilness (ILI) dan pneumonia melalui sistem kewaspadaan dini dan respons (SKRD).

2. Puskesmas melakukan pemantauan dalam masa inkubasi pada orang yang datang dari negara terjangkit berdasarkan health alert card (HAC) yang diberikan kantor kesehatan pelabuhan.

3. Puskesmas memantau ketat dan melakukan isolasi penderita dengan gejala pneumonia dan mempunyai riwat perjalanan dari negara terjangkit dalam 14 hari sebelum muncul gejala.

4. Melakukan kampanye edukasi kepada masyarakat tentang pneumonia dan cara penularannya. Di antaranya dengan cuci tangan, etika batuk dan bersin, memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan demam, batul sesak dan gangguan pernafasan.

5. Puskesmas dan rumah sakit segera melaporkan kasus pneumonia berat yang memiliki riwayat perjalanan dari negara terjangkit secara berjenjang dar Dinkes kabupaten/kota ke Dinkes Provinsi.

Wahyu menuturkan, belum ada laporan dari masing-masing dinas kesehatan kabupaten/kota di Banten terkait warga yang mengalami penularan atau mengidap virus corona.

"Belum ada kasus terduga nCoV di Banten," tuturnya.

Dia mengimbau masyarakat meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan segera melakukan pemeriksaan ke puskesmas dan rumah sakit jika terkena gejala demam, batuk dan sesak nafas.

"PHBS ditingkatkan. Segera periksa lebih lanjut kalau ada gejala demam, batuk, sesak. Etika batuk dan tingkatkan makanan bergizi," katanya.

Berita Lainnya