sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

MUI dorong negara Islam di KL Summit bersikap keras ihwal Uighur

MUI menilai apa yang dilakukan China pada muslim Uighur merupakan pelanggaran hak asasi manusia.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Jumat, 20 Des 2019 10:30 WIB
MUI dorong negara Islam di KL Summit bersikap keras ihwal Uighur
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 389.712
Dirawat 62.649
Meninggal 13.299
Sembuh 313.764

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas mendesak pertemuan Kuala Lumpur Summit yang dihadiri sejumlah pemimpin negara-negara Islam, melahirkan sikap tegas terhadap kekerasan yang dilakukan pemerintah China terhadap warga muslim etnis Uighur di Provinsi Xinjiang. 

Desakan dari negara-negara peserta pertemuan tersebut, diharapkan mendorong terciptanya jalan keluar yang baik atas persoalan etnis Uighur.

"MUI mengimbau para peserta pertemuan puncak negara-negara Islam di Kuala Lumpur atau KL Summit untuk bersikap tegas dan keras kepada pemerintah China," kata Anwar melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (20/12).

Menurutnya, perlakuan jahat pemerintah China terhadap umat Islam Uighur sudah melewati batas. Pemerintah China telah melakukan penindasan, agar warga etnis Uighur tak dapat melaksanakan ibadah sesuai agama dan keyakinan. 

Umat Islam dunia, kata dia, benar-benar tidak bisa menerima tindakan China terhadap saudara seagama mereka. Apa yang dilakukan China, merupakan pelanggaran hak asasi manusia.

"Kita menyadari bahwa China sebagai sebuah negara memang berhak untuk mengatur negaranya sendiri, tetapi jangan sampai menginjak-injak hak asasi rakyatnya, terutama hak-hak dasar dari umat Islam yang ada di sana," kata dia.

Anwar berpendapat, perlakuan terhadap muslim Uighur berpotensi memunculkan ketegangan baru dalam skala global. Tak hanya itu, jika dibiarkan tanpa penyelesaian yang baik, ketegangan yang sama berpotensi terjadi di masing-masing negara Islam.

Karena itu dia mengharapkan KL Summit dapat memberikan dorongan positif terhadap penyelesaian Uighur. Apalagi Organisasi Kerja sama Islam atau OKI, tampak kurang responsif terhadap persoalan tersebut. 

Sponsored

"Jadi KL Summit ini jelas merupakan sebuah pertemuan yang sangat penting dan strategis karena tidak hanya berarti bagi umat Islam tapi juga bagi umat agama lain. Perhelatan itu agar tercipta saling pengertian sehingga dunia yang aman, tenteram dan damai," kata dia.

KL Summit berlangsung dari 18 hingga 21 Desember 2019 di Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan ini diikuti oleh delegasi dari sekitar 20 negara muslim dunia.

Arab Saudi memutuskan tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Selain karena mendukung China, absennya delegasi Arab Saudi dalam pertemuan tersebut disebabkan keberadaan perwakilan Iran, yang merupakan musuh bebuyutan mereka.

Arab Saudi merupakan salah satu dari 37 negara yang menyatakan dukungan kepada China, dalam menyikapi persoaalan Uighur. Dalam surat yang disampaikan pada Dewan HAM PBB, mereka menilai pemerintah China telah menjalankan kebijakan yang benar terhadap etnis Uighur. Mereka menganggap Uighur sebagai ancaman terorisme dan ekstremisme, sehingga sudah selayaknya dihadapi sebagaimana yang dilakukan pemerintah China saat ini. 

Berita Lainnya