sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Nadiem soal isu penghapusan mapel sejarah: Saya terkejut

Mendikbud Nadiem tegaskan tak ada penghapusan mapel sejarah.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Minggu, 20 Sep 2020 19:04 WIB
Nadiem soal isu penghapusan mapel sejarah: Saya terkejut
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 527.999
Dirawat 66.752
Meninggal 16.646
Sembuh 441.983

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengklarifikasi isu rencana penghapusan mata pelajaran (mapel) sejarah dalam kurikulum terbaru. Dia mengaku terkejut atas beredarnya informasi soal isu penghapusan mapel sejarah tersebut.

“Saya ingin mengklarifikasi beberapa hal, karena saya terkejut dengan betapa cepat informasi tidak benar menyebar mengenai isu mapel sejarah. Saya ingin mengucapkan sekali lagi, tidak ada sama sekali kebijakan, regulasi, atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” ujar Nadiem dalam video yang diunggahnya via Instagram @nadiemmakarim, Minggu (20/9).

Mantan CEO GoJek ini menjelaskan, isu terkait mapel sejarah itu tersebar setelah ada pemaparan internal. Menurut Nadiem, terdapat puluhan versi draf penyederhanaan kurikulum yang masih harus melewati tahapan focus group discussion (FGD), termasuk perlu melewati tahapan uji publik yang belum tentu bisa mencapai final.

“Inilah namanya pengkajian yang benar di mana berbagai macam opsi diperdebatkan secara terbuka. Penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan sampai tahun 2022,” tutur Nadiem.

Di 2021, lanjut dia, Kemendikbud juga hanya akan melaksanakan berbagai prototyping kurikulum baru di sekolah penggerak yang terpilih.

Pelaksanannya, kata dia, bukan ditujukan dalam skala nasional. Sehingga, tidak ada kebijakan apapun yang bakal dikeluarkan Kemendikbud pada 2021 terkait kurikulum nasional. Apalagi, terkait penghapusan mata pelajaran.

“Yang mengejutkan saya adalah komitmen saya terhadap sejarah kebangsaan dipertanyakan. Padahal, misi saya adalah untuk memajukan pendidikan sejarah agar kembali relevan dan menarik bagi anak-anak kita,” ucapnya.

Bahkan, kata dia, mata pelajaran sejarah tidak mungkin dihapus karena dirinya menginginkan kakeknya dikenang sebagai tokoh pejuang dalam kemerdekaan Indonesia.

Sponsored

Di sisi lain, Nadiem juga ingin ayah dan ibunya dikenang sebagai aktivis nasional pejuang hak asasi manusia. “(Ayah dan ibu saya juga) berjuang melawan korupsi, anak-anak saya tidak tahu bagaimana langkah ke masa depan tanpa mengetahui dari mana mereka datang,” ujar Nadiem.

Sebagai menteri, Nadiem mengaku justru ingin menempatkan sejarah sebagai mata pelajaran yang relevan untuk generasi muda. Sebab, identitas generasi baru yang berjiwa nasional hanya dapat terbentuk dari memori kolektik membanggakan dan menginspirasi.

Sebelumnya, PDI Perjuangan monolak keras berbagai bentuk pragmatisme pendidikan dengan menjadikan sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di kurikulum baru.

"PDI Perjuangan menolak keras berbagai bentuk pragmatisme pendidikan, termasuk menghilangkan mata pelajaran sejarah dari kurikulum SMA dan SMK," kata Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto via keterangan tertulis, Minggu (20/9).

Menurutnya, Mendikbud Nadiem Makarim tidak paham bagaimana api perjuangan kemerdekaan bangsa lahir atas pemahaman sejarah hingga memunculkan kesadaran kritis untuk melawan penjajahan, melawan kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme.

Berita Lainnya