logo alinea.id logo alinea.id

Novel: Pimpinan Polri dan KPK tak serius ungkap penyiraman air keras

"Penyerangan terhadap saya itu juga memang sengaja tak diungkap."

Rakhmad Hidayatulloh Permana
Rakhmad Hidayatulloh Permana Kamis, 01 Nov 2018 15:04 WIB
Novel: Pimpinan Polri dan KPK tak serius ungkap penyiraman air keras

Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, sudah memasuki usia lebih dari 500 hari. Namun hingga saat ini belum terungkap siapa pelaku penyerangan yang meninggalkan luka pada mata kiri Novel. 

Menurut Novel, para aparat terkesan takut untuk mengungkap pelaku penyerangan terhadapnya itu.

“Pimpinan Polri ada kemungkinan takut mengungkap, karena saya tahu mungkin pimpinan Polri takut ada intervensi. Penyerangan terhadap saya itu juga memang sengaja tak diungkap. Saya menduga kuat, proses penyidikan kasus saya itu formalitas,” kata Novel dalam diskusi #500HariNovelBaswedan: dari Munir ke Novel, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (1/11).

Menurut Novel, para pimpinan KPK juga terkesan ogah-ogahan mengungkap kasus ini. Padahal, dia menegaskan, hal ini bukan tentang dirinya pribadi, tetapi soal keadilan. 

“Seandainya kasus saya tidak diungkap, tidak apa-apa. Saya ikhlas. Saya tidak dendam. Saya tidak mau perjuangan saya terganggu,” katanya. 

Novel menjelaskan, perjuangan yang ia lakukan bukanlah atas nama pribadi, tetapi atas nama keadilan. Sebab, menurut dia, bukan hanya dirinya yang pernah mengalami teror dan penyerangan. Para pegawai KPK yang lain, juga pernah mengalami hal serupa meskipun tidak seheboh seperti kasusnya.

“Yang diserang bukan cuma saya. Banyak pegawai lainnya yang diserang. Pernah ada pegawai KPK diculik, saya berani katakan diculik karena saya juga penyidik,” imbuh dia.

Meski mengungkapkan kekecewaannya, namun Novel masih berharap presiden, polisi, dan pimpinan KPK, berani untuk mengungkap semua kasus ini.

Sponsored

Istri aktivis HAM mendiang Munir Said Thalib, Suciwati, yang hadir dalam acara tersebut, juga menyayangkan tentang sikap polisi dalam mengungkap kasus ini. Menurut Suciwati, para polisi tidak profesional dalam mengusut kasus Novel, meski kata dia, kasusnya sederhana.  

“Saya pikir penyerangan terhadap novel sangat sederhana. Apa polisinya harus sekolah dulu?” kata Suciwati.

Dia berharap, Presiden Joko Widodo memberi instruksi pada aparat negara untuk melanjutkan proses hukum kasus penyiraman air keras terhadap Novel ini.  

“Kita harus mendorong presiden menyuruh aparatnya bekerja dengan benar,” ujar Suciwati. 

Dukungan terhadap penuntaasan kasus Novel, mendapat dukungan dari sejumlah kelompok sipil dan aktivis. Di dunia maya, petisi penuntasan kasus novel yang diunggah di laman change.org, telah mendapat 175 ribu dukungan.

Membaca peluang Garbi menjadi partai politik

Membaca peluang Garbi menjadi partai politik

Rabu, 17 Jul 2019 20:50 WIB
Jalan sunyi seorang perias jenazah

Jalan sunyi seorang perias jenazah

Selasa, 16 Jul 2019 18:23 WIB