sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pasien Covid-19 Indonesia masih diberi hidrosiklorokuin

WHO telah menghentikan pemakaian hidrosiklorokuin sejak akhir Mei.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Senin, 29 Jun 2020 15:46 WIB
Pasien Covid-19 Indonesia masih diberi hidrosiklorokuin
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 68079
Dirawat 33135
Meninggal 3359
Sembuh 31585

Pemerintah hingga kini masih memberikan obat hidrosiklorokuin (hydroxychloroquine) kepada pasien positif coronavirus baru (Covid-19). Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta dihentikan.

Direktur Registrasi Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Lucia Rizky Andalucia, menyatakan, pemakaian obat malaria itu kepada pasien Covid-19 dihentikan saat organisasi profesi kesehatan telah merilis penelitian terkait khasiat hidrosiklorokuin. 

"Ketika hasil penelitian sudah di-publish, sudah ada hasilnya, dan memang menunjukkan ketidakbermanfaatkan, tentunya kami akan menghentikan penggunaannya," ucapnya di Graha BNPB, Jakarta, Senin (29/6).

Pada akhir Mei 2020, WHO menghentikan sementara uji coba pemanfaatan hidrosiklorokuin untuk pengobatan Covid-19. Keputusan merujuk studi dalam jurnal The Lancet, di mana tidak efektif dan beberapa pasien mengalami masalah jantung dan berisiko meninggal.

BPOM Amerika Serikat (The Food and Drug Administration/FDA) pun memutuskan demikian. Kebijakan berdasarkan hasil riset recovery trial yang dilakukan Universitas Oxforxd, Inggris. 

Meski demikian, Rizky mengklaim, hasil tersebut tidak bermakna dibanding yang tidak diberikan hidrosiklorokuin. Pun kondisi pasien dan dosis yang diberikan berbeda.

Karenanya, Indonesia tetap memberikan obat keras tersebut dalam pengobatan pasien terjangkit SARS-CoV-2. "Kami masih memberlakukan emergency use authorization," ucapnya.

Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Agus Dwi Susanto, menambahkan, terdapat lima syarat penggunaan hidrosiklorokuin dalam pengobatan Covid-19 di Indonesia. Pertama, diberikan kepada pasien positif dewasa di bawah 50 tahun.

Sponsored

Selanjutnya tak memiliki riwayat sakit jantung, pada pasien anak hanya diberikan pada kondisi berat dan kritis dengan pemantauan ketat, hanya untuk pasien rawat inap karena ada efek samping yang harus dipantau dengan pemeriksaan yang hanya bisa dilakukan di rumah sakit. Terakhir, dihentikan ketika muncul efek samping.

"Tentunya (hanya diberikan kepada pasien Covid-19) dengan gejala ringan, sedang, dan berat. Tidak dapat diberikan kepada pasien tanpa gejala," katanya.

Di sisi lain, Rizky meminta masyarakat tidak membelinya secara bebas, khususnya melalui niaga elektronik (e-commerce) karena hidroklorokuin tergolong obat keras dan mesti berdasarkan resep dokter hingga di bawah pengawasan.

Pun diimbau membelinya di apotek resmi. "Sehingga, keamanan masyarakat dapat terjamin," tutupnya.

Berita Lainnya