logo alinea.id logo alinea.id

Peluru menembus dada Adam saat hendak pulang untuk sahur

Sebelum dilarikan ke rumah sakit karena tertembak, Adam sempat berbalas pesan dengan keluarga. 

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Jumat, 24 Mei 2019 20:08 WIB
Peluru menembus dada Adam saat hendak pulang untuk sahur

Yuliana tak pernah mengira putra sulungnya, Adam Nooryan ikut menjadi salah satu korban meninggal dalam kerusuhan di Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (22/5) lalu. Pasalnya, sebelum dilarikan ke rumah sakit karena tertembak, Adam sempat berbalas pesan dengan keluarga. 

Dini hari itu, tepatnya sekitar pukul 04.15 WIB, Yuliana sempat meminta Adam untuk pulang dan santap sahur via pesan singkat telepon seluler (ponsel). 

"Setelah itu jam setengah lima temannya ngabarin, 'Bu, ini Adam masuk Rumah Sakit Tarakan'," kata Yuliana saat ditemui di kediamannya di Jalan Sawah Lio II Gang 3 no 6A, RT 6/ RW 1 Kelurahan Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, Jumat (24/5) siang.

Mendengar kabar mengejutkan tersebut, Yuliana mengaku langsung mengajak suaminya bertolak ke RSUD Tarakan. Keduanya sempat melihat Adam ditangani oleh dokter dan perawat.

"Pakai bantuan alat pernapasan dan selang kesehatan yang nempel ke dadanya. Tapi, sudah tidak ada (meninggal)," ucap Nur Warsito, ayah Adam, menyambung cerita sang istri. 

Menurut Warsito, tak ada gelagat Adam bakal ikut-ikutan aksi unjuk rasa 22 Mei. Apalagi, ia sempat bercengkerama dengan Adam, Selasa (21/5) petang hingga menjelang malam. Ketika itu, Adam pun tidur di rumah. 

Namun, kira-kira tengah malam, Warsito mengatakan, Adam diajak temannya berboncengan menggunakan sepeda motor untuk 'mengecek' lokasi unjuk rasa dan kericuhan. "Katanya mau lihat situasi di jalanan kayak apa," ujar dia. 

Adam sebenarnya tak lama di lokasi kerusuhan. Usai menerima pesan singkat dari sang ibu, Adam sudah bermaksud pulang. Namun, menurut Warsito, ia terhalang aksi saling serang antara para perusuh dan aparat kepolisian. 

Sponsored

Di tengah situasi mencekam itu, lanjut Warsito, Adam melihat seorang lelaki yang terjatuh. Syahdan, Adam pun menolongnya. Saat itulah, peluru--yang tidak diketahui dari mana asalnya--melubangi punggung kanan dan dadanya. 

"Saya ikhlas, ternyata Adam juga punya kepedulian. Saya jadi merasa bangga. Apalagi setelah orang yang dia tolong bilang ke saya, 'Kalau enggak ditolong Adam, mungkin saya yang mati'," kata Warsito. 

Adam ialah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan YP IPPI Petojo, Gambir, Jakarta Pusat. Dia mengambil konsentrasi studi administrasi dan lulus tahun 2018. Belum genap sebulan ia bekerja sebagai barista di sebuah kafe di Pluit, Jakarta Utara.

Nur Warsito (kanan), ayah Adam, berbincang dengan seorang relawan Bulan Sabit Merah Indonesia di rumahnya, di Kelurahan Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, Jumat (24/5). Alinea.id/Robertus Ronny Setiawan

Janji Adam

Warsito mengenang kembali saat ia bercengkrama dengan Adam di rumah sehari sebelum sang putra meregang nyawa. Pekerjaan baru Adam sempat menjadi bahasan keduanya. Ketika itu, Warsito sempat meledek Adam. 

"Waktu itu saya ledekin, 'Gajian kok lama amat'?" kata Warsito. 

"'Iya, Yah. Adam juga lagi nungguin. Mau beli baju buat ayah sama adik,'" kata Warsito menirukan ucapan Adam. 

Namun, janji itu tak mungkin lagi direalisasikan putranya yang baru berusia 18 tahun tersebut. Meski perih, Warsito dan Yuliana mengaku telah merelakan kepergian Adam. 

Yuliana mengatakan, ia juga merasa tersentuh dengan kepedulian Pemprov DKI Jakarta menanggung semua biaya perawatan dan permakaman Adam. Terlebih, Gubernur DKI Anies Baswedan juga sempat menghibur keluarga saat di rumah sakit.  

"Pak Anies juga menggotong keranda (anak saya) saat di masjid lalu dibawa dengan ambulans. Alhamdulillah, kami diringankan," kata Yuliana. 

Fenomena cocoklogi versus ilmu pengetahuan

Fenomena cocoklogi versus ilmu pengetahuan

Senin, 24 Jun 2019 22:15 WIB
Siasat turunkan harga tiket pesawat domestik

Siasat turunkan harga tiket pesawat domestik

Jumat, 21 Jun 2019 20:21 WIB