logo alinea.id logo alinea.id

Pemerintah bentuk tim khusus tanggulangi karhutla

Per 10 September, BMKG mencatat ada 829 titik api yang potensial menyebabkan karhutla.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Jumat, 13 Sep 2019 20:01 WIB
Pemerintah bentuk tim khusus tanggulangi karhutla

Pemerintah membentuk satuan tugas yang disebut Pasukan Pemadam Reaksi Cepat (PPRC) untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini diambil sebagai respons karhutla yang melanda sejumlah wilayah semisal, Kalimantan, Riau, dan Jambi. 

Menurut Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, asap karhutla kali ini telah mengganggu aktivitas warga setempat dan warga negara tetangga di perbatasan. 

"Memang betul titik api pada bulan yang sama di tahun ini dan tahun lalu itu meningkat," kata Wiranto usai rapat koordinasi dalam menanggulangi karhutla, Jakarta, Jumat (13/9).

Rapat koordinasi dihadiri sejumlah pejabat terkait, yakni Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Kepala BMKG Dwikora Karnawati, dan Kepala BNPB Doni Monardo. 

Selain itu, hadir pula beberapa gubernur dan kapolda yang daerahnya terdampak karhutla, yakni Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Tanpa menyebutkan jumlah secara rinci, Wiranto menegaskan, penyebab kebakaran kali ini lebih banyak karena ulah manusia. "Persentase kebakaran hutan (terbanyak) bukan disebakan alam, tapi karena ulah manusia," tegasnya.

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG sejak 1 September, jumlah titik api naik dari 381 titik menjadi 787 titik pada 4 September 2019. Titik api sempat menurun menjadi 513 titik pada 6 September dan kembali naik menjadi 829 titik pada 10 September.

Lokasi titik panas itu antara lain berada di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Selain itu, titik api juga terdeteksi di Malaysia, seperti Semenanjung Malaysia dan Serawak, hingga Thailand, Filipina, Papua Nugini, Vietnam, dan Timor Leste

Sponsored

Menurut Wiranto, puncak musim panas masih berlangsung hingga Oktober nanti. Karena itu, pemerintah bakal terus bersiaga menanggulangi karhutla. "Artinya masih ada musim panjang. Rasio kebakaran masih ada," lanjutnya.

Wiranto kemudian menguraikan strategi pemerintah dalam menanggulangi karhutla, semisal menambah anggota pemadam kebakaran, perlengkapan, dan pengadaan hujan buatan. BNPB juga telah menyiapkan sebanyak 42 helikopter untuk memadamkan api di titik yang tak bisa dijangkau petugas. 

"Ada daerah yang jauh dari pemukiman, jauh dari jalan, salah satu (cara menanggulangi) adalah bom air. Kita sudah menyiapkan heli, dilaporkan tadi oleh Kepala BNPB, ada 42 helikopter," kata dia.