sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pemerintah tetapkan Idulfitri 1441 Hijriah pada Minggu

Keputusan diambil dalam sidang isbat yang digelar Kemenag.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Jumat, 22 Mei 2020 19:24 WIB
Pemerintah tetapkan Idulfitri 1441 Hijriah pada Minggu
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23851
Dirawat 16321
Meninggal 1473
Sembuh 6057

Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1441 Hijriah atau Lebaran 2020 jatuh pada Minggu (24/5). Keputusan diambil dalam sidang itsbat yang dilaksanakan Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta dan secara daring (online), Jumat (22/5) petang.

"Semua melaporkan tidak melihat hilal (bulan baru). Oleh karena metode hisab posisi hilal di bawah ufuk dan laporan perukyat tidak melihat hilal, maka sidang isbat secara bulat menetapkan 1 Syawal 1441 Hijriah jatuh pada Minggu, 24 Mei 2020," tutur ucap Menteri Agama, Fachrul Razi, beberapa saat lalu.

Sidang isbat digelar sesuai protokol kesehatan karena digelar saat pandemi coronavirus anyar (Covid-19). Pembatasan peserta, salah satunya.

Dengan demikian, sidang hanya diikuti beberapa tamu undangan. Sementara itu, unsur pimpinan ormas Islam mengikuti pertemuan melalui aplikasi pertemuan daring dan wartawan meliput via siaran langsung di televisi yang ditunjuk ataupun media sosial Kemenag.

Untuk mengetahui posisi hilal, Kemenag menyebar perukyat di 80 titik se-Indonesia. Mengukur awal Syawal sesuai hisab, cara yang ada dan dilakukan mayoritas ormas Islam, serta rukyat.

"Secara hisab, awal Syawal 1441H jatuh pada hari Minggu. Ini sifatnya informastif. Konfirmasinya, menunggu hasil rukyat dan keputusan sidang isbat," ujar pakar astronomi Tim Falakiyah Kemenag, Cecep Nurwendaya.

Salat Id
Sementara itu, Wakil Presiden, Ma'ruf Amin, menyatakan, salat Id berjemaah, baik di masjid maupun di ruang terbuka, saat pandemi tidak sesuai dengan prinsip Islam karena berpotensi meningkatkan penularan.

"Tahun ini, kita masih dalam suasana mudarat. Andai kata kita memaksakan untuk mengadakan di masjid atau di lapangan, kemudian terjadi penularan, itu berarti tidak sesuai dengan prinsip ajaran agama," terangnya melalui keterangannya, terpisah.

Sponsored

Ketua Umum nonaktif Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu melanjutkan, Islam mengajarkan umat membangun maslahat atau mendatangkan kebaikan. Sementara, memaksakan diri mengikuti salat Id berjemaah kala pandemi akan memperbesar bahaya bagi masyarakat luas.

"Agama Islam mengajarkan untuk senantiasa memperbesar kemaslahatan, ta'dzimul al-mashalih. Karena itu, di dalam menjalankan ajaran agama, kita senantiasa menyesuaikan dengan keadaan tahun ini. Dan hari raya tahun ini, kita masih dalam suasana kedaruratan, kebahayaan," bebernya. (Ant)

Berita Lainnya