sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pemprov Jatim perluas penanganan stunting

pencegahan stunting telah menjadi komitmen nasional

Adi Suprayitno
Adi Suprayitno Jumat, 05 Apr 2019 14:35 WIB
Pemprov Jatim perluas penanganan stunting

Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengaku memperluas penanganan kasus stunting menjadi di 12 kabupaten/kota. Dua belas kabupaten itu, adalah Sampang, Pamekasan, Bangkalan, Sumenep, Jember, Bondowoso, Probolinggo, Nganjuk, Lamongan, Kabupaten Malang, Trenggalek, dan Kabupaten Kediri.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Kohar Heri Santoso, Pemprov Jatim dibantu tim nasional dalam penanggulangan kemiskinan, terutama penanganan stunting.

"Penanganan stunting diperluas dari sepuluh ke 12 kabupaten/kota. Tujuannya agar angka stunting bisa ditekan lagi," ujar Kohar, dikonfirmasi, Jumat (5/4).

Berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG), jumlah penderita stunting di Jawa Timur mencapai 26,2%  Agar penanganan lebih tepat sasaran, Dinkes Jawa Timur dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tengah melakukan riset bersama untuk mendapatkan jumlah pasti penderita stunting

Sejumlah langkah strategis telah diupayakan pemprov untuk menekan stunting di Jawa Timur. Misalkan saja, mengintervensi penanganan bayi, ibu hamil hingga perencanaan kehamilan oleh remaja. 

"Remaja putri diberikan tablet (obat), diberikan pemahaman terkait kesehatan reproduksi," tuturnya. 

Upaya penanggulangan sejak dini ini, dinilai penting. Mengingat stunting berbeda dengan penyakit lain yang bisa diobati dengan sekejap. Penanganan stunting membutuhkan waktu yang cukup lama.

Sementara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenkomaritim) mendorong kesadaran masyarakat terkait bahaya penyakit stunting atau kekurangan gizi menahun yang menyebabkan gagal tumbuh kembangnya anak setelah usia dua tahun.

Sponsored

"Stunting akan menjadi masalah besar di masa akan datang, sebab tidak seperti wabah yang tiba-tiba muncul, karena menghitungnya pelan. Dan kalau sudah terjadi tidak bisa dikembalikan," kata Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenkomaritim Agung Kuswandono di Surabaya, Kamis.

Ia mengaku ingin menjadikan upaya menghapus stunting di Indonesia sebagai isu nasional, dan masalah bersama bangsa sehingga tidak hanya menjadi beban salah satu bidang saja yakni kesehatan, namun lebih pada isu holistik dan semua harus bertanggungjawab.

"Kita ingat masyarakat Jepang dulu kan kecil-kecil waktu menjajah bangsa Indonesia. Namun sekarang mereka bisa lebih tinggi dan tampil di Piala Dunia dengan adanya kesadaran stunting ditambah pemberian gizi yang bagus," kata Agung yang ditemui dalam acara Fokus Group Discussion (FGD).

Salah satu upaya yang dilakukan Kemenkomaritim, tambahnya, mendorong fortifikasi garam makan dengan diberi yodium untuk konsumsi makan di Indonesia, melalui regulasi pangan dengan melakukan monitoring dan evaluasi peredaran garam konsumsi dalam negeri.

"Mari jadikan rakyat ini subyek dan tidak menjadi obyek, agar ke depan tidak terkena stunting," lanjutnya.

Fortifikasi yodium pada garam konsumsi bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, sebab yodium merupakan unsur mineral yang menjadi nutrisi penting bagi tubuh.

"Yodium menjaga fungsi tiroid tetap stabil. Hormon tiroid yang baik berperan dalam mengoptimalkan fungsi otak dan sistem saraf. Selama masa pertumbuhan sejak dari dalam kandungan. Hormon tiroid membantu perkembangan janin, agar fungsi otak dan sistem saraf berkembang normal," jelasnya.

Sementara berdasarkan data nasional, fenomena stunting di Indonesia sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan, pada 2013, sekitar 37% anak Indonesia dibawah usia 5 tahun atau lebih kurang 9 juta anak mengalami stunting.

Pemerintah Indonesia juga telah melakukan akselerasi demi mencegah stunting, bahkan pencegahan stunting telah menjadi komitmen nasional, seperti pada 2018 yang telah terjadi penurunan stunting yakni 30,8%. (Ant)