sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pendiri Sokola Rimba ingin dialog dengan Nadiem

Butet berharap kepala adat dapat diberi kesempatan untuk menjadi pengajar di sekolah.

Rizki Febianto
Rizki Febianto Kamis, 31 Okt 2019 08:21 WIB
Pendiri Sokola Rimba ingin dialog dengan Nadiem

Pendiri dan perintis Sokola Institute atau lembaga pendidikan alternatif bagi masyarakat terasing dan terpencil di Indonesia Saur Marlina Manurung mengingatkan, Menteri Pendidikan dan Budaya (Mendikbud) Nadiem Makarim untuk mengadakan pendidikan di Indonesia yang sifatnya kontekstual. 

Butet, panggilan dari Saur Marlina mengatakan, pendidikan kontekstual sangat penting untuk menyesuaikan kebutuhan akademik di lingkungan peserta didik. Plus, meningkatkan pengetahuan soal adat istiadat dan pengetahuan lokalnya terlebih dahulu. 

"Jika di desa kamu, banyak ular cobra, belajarlah terlebih dahulu mengobati bisa cobra. Jangan malah belajar kalkulus dulu, jadi apa yang ada di lokal kita kuatkan dulu, baru kamu bisa lebih luas lagi dari itu," ujar Butet. 

Butet berharap mantan bos Gojek tersebut, memberi kesempatan bagi ketua adat dan ahli tradisi untuk menjadi guru di sekolah. Mereka dapat memberikan pengetahuan soal budaya lokal bagi peserta pendidik. 

Butet berharap dapat bertemu dengan Nadiem guna menyampaikan gagasannya soal pendidikan untuk masyarakat terpencil di Indonesia. Kemendikbud bisa menjadi saluran penyampaian aspirasi masyarakat pendalaman.

"Apabila saya ada kesempatan, ingin audiensi sama Nadiem. Kami ingin menyampaikan gagasan didapatkan dari penduduk," ujar Butet.

Butet mengaku telah tiga tahun diajak Kemendikbud untuk berunding merancang kurikulum. Sayang, dalam perundingan tersebut berjalan dengan alot. 

Kendalanya karena masyarakat adat atau pedalaman tidak cocok dengan kurikulum yang diusung dari pusat. Mengatasi persoalan ini, Butet menilai jalan keluarnya adalah menerapkan pendidikan kontekstual yang sesuai dengan lingkungan dan daerah peserta didik. 

Sponsored