sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Banyak figur muncul di pilkada karena publik tak percaya parpol

Para figur yang muncul mencalonkan diri di pilkada diharap masuk parpol terlebih dahulu.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Minggu, 05 Jan 2020 18:14 WIB
Banyak figur muncul di pilkada karena publik tak percaya parpol

Direktur Eksekutif Politika Research & Consulting, Rio Prayogo, mengakui ada krisis kepercayaan dari publik terhadap partai politik atau parpol. Fenomena demikian terjadi baik di perhelatan pemilihan kepala daerah atau pilkada maupun pemilihan legislatif atau pileg.

Karena publik mulai tak percaya kepada parpol, kata Rio, maka tak heran jika pada perhelatan pilkada atau pileg muncul figur-figur di luar parpol yang mencalonkan diri untuk maju. Para figur tersebut pun akhirnya berani maju karena diminati banyak masyarakat. 

Meski demikian, Rio berharap para figur yang maju mencalonkan diri di pilkada atau pileg masuk terlebih dahulu menjadi kader parpol tertentu. Namun, Rio tak menjamin para figur yang bergabung dengan parpol itu adalah kader berkualitas. Pasalnya, masih ada persoalan ketika seseorang bergabung ke parpol yakni masih kentalnya oligarki, mahar politik atau politik uang. 

“Oleh karena itu, kami berpandangan bahwa dengan adanya penguatan di sisi distribusi kader partai, baik itu yang level pilkada maupun legislatif, itu akan memperkuat,” kata Rio dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Minggu (5/1).

Direktur Riset Politika Research & Consulting, Dudi Iskandar, membenarkan adanya krisis kepercayaan masyarakat terhadap parpol. Untuk menanggulangi krisis kepercayaan tersebut, dia menuturkan masyarakat sipil perlu aktif mendesak parpol agar berbenah diri. Selanjutnya, peran media massa juga penting untuk terus mengkritisi kinerja parpol. 

“Kalau teman-teman wartawan teriaknya (mengkritisi parpol) berkurang, ya apalagi rakyatnya," kata Dudi.

Lebih lanjut, Dudi mengungkapkan, alasan pentingnya calon yang ingin maju Pilkada 2020 harus berasal dari parpol. Itu karena kader parpol merupakan salah satu penunjang demokrasi. Selama ini, kata Dudi, banyak calon yang maju bukan berasal dari kader salah satu parpol. Menurut dia, apabila ada figur non-kader yang mencalonkan diri sebaiknya masuk terlebih dahulu ke dalam sistem partai politik. 

“Bahwa yang paling utama adalah figur (calon kepala daerah) itu harus menjadi (kader) partai politik dulu, baru dia bisa naik. Alasan yang paling utama adalah distribusi kadernya partai politik adalah soko guru demokrasi,” ujar Dudi. 

Sponsored

Seperti diketahui, sebanyak 270 daerah akan melaksanakan Pilkada 2020 secara serentak yang rencananya berlangsung pada 23 September 2020. Dari 270 daerah, 9 di antaranya merupakan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, 37 pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota, dan 224 pemilihan Bupati dan Wakil Bupati.

Berita Lainnya