logo alinea.id logo alinea.id

Formula E dinilai tak untungkan Jakarta

Berkaca pada bambu getah getih, Anies diingatkan tidak mengeluarkan anggaran besar yang kemudian tidak memiliki manfaat jangka panjang.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Kamis, 15 Agst 2019 15:03 WIB
Formula E dinilai tak untungkan Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI) berencana kembali menyelenggarakan perlombaan olahraga berskala internasional. Kali ini Pemprov DKI ingin menggelar balap mobil atau Formula E.

Formula E atau yang dikenal dengan FIA Formula E Championship adalah balap mobil kursi tunggal yang menggunakan energi listrik. Terakhir kali kejuaraan ini diselenggarakan di Ad Diriyah, Saudi Arabia, tahun 2018. 

Pemprov DKI, lewat Gubernur Anies Baswedan, ingin penyelenggaraan Formula E dapat berlangsung di Jakarta. Akan tetapi, sejumlah pihak menyangsikan manfaat ajang balap bagi Pemprov DKI.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Pieter Abdullah yang menyebut perlombaan tersebut tidak ada manfaatnya. Sebaliknya, Pieter mengusulkan agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memprioritaskan hal lain yang manfaatnya lebih terasa bagi masyarakat. Misalnya upaya untuk mengurangi kemacetan di Ibu Kota. 

"Berapapun biayanya, bagi saya kegiatan tersebut tidak bermanfaat bagi DKI Jakarta. Saya lebih mengutamakan dan menunggu bagaimana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menata Ibu Kota," ujar Pieter kepada Alinea.id, Kamis (15/8).

Ada baiknya, kata Pieter, Gubernur Anies fokus menangani kemacetan Ibu Kota dan berupaya mendisiplinkan masyarakat dalam berlalu lintas. Fokus tersebut dinilai lebih nyata ketimbangan berupaya mengadakan Formula E. 

Toh kejuaraan balap mobil tersebut tidak menguntungkan masyarakat lebih luas. "Menata lalu lintas, kali atau sungai, pedagang kaki lima lebih diutamakan. Banyak sekali yang harus dilakukan oleh Pemprov DKI, " tutur Pieter.

Pengamat Transportasi dan Tata Kota Yayat Supriatna turut meragukan keuntungan yang diperoleh dari kegiatan yang memakan banyak biaya tersebut. Kalaupun tetap diselenggarakan, Pemprov DKI diminta mempublikasikan secara rinci pengeluaran dan pendapatan yang akan diperoleh.

Sponsored

Kemudian dihitung, kata Yayat, apakah acara balap mobil listrik mampu mengangkat pamor positif Jakarta di mata dunia yang akhir-akhir ini justru lebih dikenal sebagai kota dengan tingkat polusi tinggi. 

"Anggaran kan cukup besar. Jadi jangan sampai diramaikan seperti Getah Getih lagi yang mengeluarkan dana sekitar Rp500 juta tetapi hilang begitu saja," ucap Yayat kepada Alinea.id.
 
Seperti diberitakan, Gubernur Anies meyakini kalau penyelenggaraan Formula E berpotensi dari sisi perputaran ekonomi. Gubernur Anies mengklaim, acara tersebut berpotensi meraih pendapatan hingga Rp1,2 triliun.

"Rp1,2 triliun dari sektor mana saja? Jadi nanti sorotan masyarakat itu tidak pada besaran uang yang dikeluarkan Pemda. Tapi nilai manfaatnya secara ekonomi itu diperbandingkan dan disandingkan," katanya.

Menurut Anies, pengeluaran tersebut masih lebih murah jika dibandingkan dengan balapan F1 hingga Piala Dunia.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menilai, jumlah yang dibayarkan untuk menjadi penyelenggara sangat wajar. Perhelatan internasional memang membutuhkan uang untuk menjadi tuan rumah, termasuk Asian Games sekali pun.

Biaya penyelenggaraan Formula E akan diusulkan kepada DPRD DKI untuk memperoleh dari APBD. Ia optimistis usulan tersebut mendapat restu dari para Dewan.

"Insyaallah jadi, tapi waktu persisnya saya hanya bisa umumkan saat bersama dengan pihak FIA (pemilik balap Formula E). Kajiannya sudah selesai dan Insyaallah disetujui," kata dia.

Gubernur Anies juga menyebut telah mengantongi restu Presiden Joko Widodo setelah melaporkan rencana kegiatan tersebut. Ia optimis Jakarta akan lebih banyak dikenal dan mendatangkan lebih banyak turis.