sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pengamat: Teknologi intelijen tak bisa tangkal aksi teror ZA

Upaya memitigasi aksi teror dengan mendeteksi potensi radikalisme seseorang sangat sulit.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Rabu, 07 Apr 2021 15:47 WIB
Pengamat: Teknologi intelijen tak bisa tangkal aksi teror ZA
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi menyebut, teknologi dan intelijen secanggih apapun, seperti di Eropa dan Amerika Serikat, tidak akan bisa menangkal aksi terorisme. Dia menganggap, aksi teror Zakiah Aini di Mabes Polri bukanlah suatu kecolongan. 

Sebab, upaya memitigasi aksi teror dengan mendeteksi potensi radikalisme seseorang sangat sulit. "Tidak bisa mengukur batin seseorang. Intelijen secanggih apapun tetap berbasis teknologi. Mempelajari peta-peta (radikalisme) dan gestur-gestur secara komunal. Tetapi, kalau secara personal ini pasti akan lemah. Itu diluar kontrol, seperti ZA kemarin di Mabes Polri,," ucapnya dalam diskusi Alinea Forum ‘Memperkuat Kontra Radikalisme’, Rabu (7/4).

Dia khawatir, lone wolf (seseorang melakukan tindakan terorisme sendirian dan di luar struktur komando apapun) menjadi tren aksi teror ke depan. Menurut Islah, untuk mencegahnya, perlu memperkuat sektor hulu, yaitu masyarakat harus memiliki resisten (penolakan) terhadap radikalisme.

Jika yang diperkuat hanya sektor hilir atau penindakan aparat penegak hukum, maka aksi teror akan terus terjadi. Penguatan pencegahan radikalisme harus dari keluarga.

"Betapa pentingnya keluarga di sini, karena anak mencontoh orang tuanya. Ini mungkin konsep-konsep yang sudah dilakukan di beberapa negara terutama di Thailand Selatan dan Srilangka. Ketika ada konflik etnis atau agama (akhirnya bisa diatasi dengan) penolakan radikalisme sacara terkultur, membudaya," tutur Islah.

Namun, penguatan resistensi terhadap radikalisme yang terkultur dalam masyarakat Indonesia bukanlah hal instan. Penguatan resistensi terhadap radikalisme membutuhkan waktu lama, harus komprehensif, dan masif. 

"Agama Islam, Kristen, hingga kapitalisme, komunisme, kalau dia berbasis intoleransi, dia akan mencetak radikalisme ataupun ekstrimis," ujar Islah.

Sebelumnya, petugas pengamanan di dalam lingkup Mabes Polri menembak seseorang yang tidak dikenal. Orang itu jatuh dan tersungkur. Pantauan Alinea.id di lokasi kejadian, Rabu (31/3), sekitar pukul 16.35 WIB terdengar beberapa kali suara tembakan di area dalam Mabes Polri. Lokasi penembakan berada di dekat kantor utama Kapolri.

Sponsored

Belakangan diketahui identitas pelaku teror berinisial ZA (25). Perempuan yang tinggal di wilayah Jakarta Timur (Jaktim) itu merupakan mantan mahasiswa salah satu universitas. Namun, keluar (drop out) pada semester lima. Polisi sudah menggeledah rumah pelaku.

"Ditemukan map kuning yang dibawa tersangka saat melakukan aksi; surat wasiat; dan pesan di WA (WhatsApp) grup keluarga, dia berpamitan; juga postingan di Instagram, 21 jam lalu, (berupa) bendera ISIS," tutur Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/3).

Setelah mereka meniup peluit...

Setelah mereka meniup peluit...

Kamis, 22 Apr 2021 16:48 WIB
Memutus belenggu generasi sandwich

Memutus belenggu generasi sandwich

Kamis, 22 Apr 2021 14:25 WIB
Burma dan saga biksu-biksu revolusi

Burma dan saga biksu-biksu revolusi

Rabu, 21 Apr 2021 17:33 WIB
Berita Lainnya