sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pengungsi Rohingya perlu penanganan khusus

Gelombang pengungsi Rohingya yang masuk ke Indonesia dinilai perlu perhatian khusus dari pemerintah. 

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Sabtu, 24 Nov 2018 23:17 WIB
Pengungsi Rohingya perlu penanganan khusus
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 502.110
Dirawat 63.722
Meninggal 16.002
Sembuh 422.386

Gelombang pengungsi Rohingya yang masuk ke Indonesia dinilai perlu perhatian khusus dari pemerintah. 

Peneliti Suaka Gading Gumilang Putra mengatakan pemerintah perlu mengambil langkah untuk menekan angka keterlantaran pengungsi di Indonesia. Kini, banyak pengungsi yang depresi sehingga terpaksa tinggal di jalan.

Tak adanya akses untuk memenuhi kebutuhan juga mengakibatkan pengungsi menjadi terlantar. Pasalnya, pengungsi memenuhi kebutuhan dasar dengan mengandalkan uang pribadi dan uang tabungan. Dia menghitung, uang pengungsi habis dalam waktu 3-4 tahun selama tinggal di Indonesia.  

"Seperti di Kalideres, itu menjadi siklus ketika pemerintah tidak ambil peran. Kalau mereka tidak bisa bekerja, otomatis akan minta dari lembaga-lembaga kemanusiaan," paparnya dalam diskusi publik di Cikini, Jakarta, Sabtu (24/11).

Gading menuturkan, banyak dari para pengungsi yang belum mendapatkan akses kebutuhan. Indonesia juga dinilai tak memberikan kebutuhan dasar, seperti akses pendidikan, dan mata pencaharian.

"Apalagi untuk pengunsi yangvtinggalnya independen. Khususnya pengungsi yang rentan, akhirnya mereka tidak bisa mengakses bantuan makanan," paparnya.

Sejauh ini para pengungsi baru mendapatkan perhatian dari lembaga kemanusiaan saja. Jumlahnya juga dinilai masih terbatas. Dia menyebut, dari data yang dia miliki, masih ada sekitar 7.000 pengungsi yang belum mendapatkan sarana pengungsian.

"Dari 14.000, yang dapat sarana pengungsian hanya 6.000-7.000, jadi ini menimbulkan depresi. Akhirnya pengungsi terpaksa tidur di jalanan," paparnya.

Sponsored

Timbulkan kerawanan

Kendati demikian, Pengamat Keamanan Nasional Ubhara Jaya Indah Pangestu Amaritasari mengatakan perlu adanya riset lebih lanjut untuk mengetahui jumlah dan permasalahan yang dialami oleh para pengungsi. Dengan demikian, bisa ditemukan solusi yang pas bagi para pengungsi.

Nantinya, hasil riset akan menjadi acuan dalam penanganan pengungsi. Sebab apabila salah ambil kebijakan, masalah pengungsi justru dapat menimbulkan kerawanan lainya seperti di negara-negara Afrika. Di sana, banyak pengungsi yang menjadi kriminal di negara transit, sehingga menimbulkan ketakutan bagi warga setempat.

"Kalau kami lihat di Kenya dan Tanzania, menunjukan bahwa pengungsi bisa berujung pada ancaman dan xenophobia," paparnya.

Sementara itu di tempat yang sama, salah satu pengungsi Rohingya Muhammad Zubair menepis kekhawatiran itu. Dia menyatakan kaumnya tak radikal. Dia juga menjamin tak akan melakuan tindakan kriminal. Di mata Rohingya, Indonesia merupakan negara yang baik, karena telah menyelamatkan dari rezim militer Myanmar.

"Kami bukan kaum radikal ataupun teroris. Kami mau membantu dan bekerjasama dengan otoritas di Indonesia untuk ikut  menjaga keamanan Indonesia. Kami bersyukur, kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia dan kaum muslim di negara ini, karena telah menolong kami dan mau menerima kami sehingga kami bisa melanjutkan hidup kami," pungkasnya.

Menjinakkan La Nina demi ketahanan pangan

Menjinakkan La Nina demi ketahanan pangan

Senin, 23 Nov 2020 16:42 WIB
Efek domino kekerasan perempuan berbasis online

Efek domino kekerasan perempuan berbasis online

Minggu, 22 Nov 2020 14:48 WIB
Berita Lainnya