logo alinea.id logo alinea.id

Pengusaha kulit di Magetan merupakan bendahara JI

SA merupakan bendahara jaringan JI yang melakukan kontrol atas perkebunan kelapa sawit.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Kamis, 11 Jul 2019 17:36 WIB
Pengusaha kulit di Magetan merupakan bendahara JI

Mabes Polri mengungkap peranan terduga teroris berinisial SA yang ditangkap di Magetan, Jawa Timur. Menurut polisi, SA memiliki peranan penting dalam kelompok Jamaah Islamiah (JI).

SA yang berprofesi sebagai pengusaha kulit di Magetan itu juga berperan penting dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit milik JI. “Dia (SA) merupakan bendahara di JI yang melakukan kontrol untuk perkebunan kelapa sawit,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Humas Polri, Jakarta, Kamis (11/7).

Menurutnya, perkebunan kelapa sawit milik JI menjadi sumber penghasilan utama kelompok teroris yang berada di balik Bom Bali. Sebagai bendahara, SA mengontrol perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara dan Kalimantan.

“Dia (SA) ini mengelola hingga basic ekonominya dan termasuk ke dalam struktur sentral JI model baru pimpinan PW (Para Wijayanto),” tutur Dedi.

SA ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri di Desa Candirejo, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada 3 Juli 2019. Ia ditangkap saat hendak pulang dari pabrik kulit miliknya.

Penangkapan SA merupakan kelanjutan dari penangkapan pimpinan JI, Para Wijayanto. Para Wijayanto ditangkap di sebuah hotel di Jalan Raya Kranggan Nomor 19, Jati Raden, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu 29 Juni 2019. 

Meski dibubarkan melalui putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bahwa JI sebagai organisasi terlarang pada 21 April 2008, jaringan ini kembali membangun kekuatan secara diam-diam untuk membuat negara khilafah. 

Mereka bahkan memiliki perkebunan kelapa sawit yang berada di Sumatera Utara dan Kalimantan. Para pejabat JI mendapat gaji Rp10 juta-Rp15 juta per bulan dari penghasilan kebun kelapa sawit mereka. 

Sponsored

JI melakukan aksi teror di tingkat internasional dengan menggunakan bendera Al Qaeda. Di Indonesia, anggota JI menyusup ke kelompok-kelompok teroris lain tanpa terang-terangan memperlihatkan identitasnya.