sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Perang batin seorang dokter mendengar 100 rekan sejawatnya gugur

 “Kami ingin lari tapi tidak tega melihat pasien yang berharap pertolongan"

Fathor Rasi
Fathor Rasi Selasa, 01 Sep 2020 13:54 WIB
 Perang batin seorang dokter mendengar 100 rekan sejawatnya gugur
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 377.541
Dirawat 63.576
Meninggal 12.959
Sembuh 301.006

Meningkatnya pasien akibat wabah Covid-19 semakin memberatkan pekerja kesehatan di rumah sakit. Hal ini disampaikan Ketua Umum Dokter Indonesia Bersatu (DIB), Dr. Eva Sri Diana. 

Beban dan risiko yang tinggi, kata Eva, tidak sebanding dengan pendapatan yang semakin rendah. Ini yang antara lain menyebabkan dokter dan tenaga kerja kesehatan mulai mengundurkan diri dari rumah-rumah sakit. 

"Alat pelindung diri yang kurang memadai, risiko kematian tenaga kesehatan (nakes) akibat Covid yang tinggi. Belum lagi pendapatan yang rendah membuat mereka harus berpikir ulang untuk terus bekerja. Terutama mereka yang memang bukan pegawai negeri," jelas Eva kepada media di Jakarta, Selasa (1/9).

Ia turut menyampaikan duka cita dan penyesalan yang mendalam atas gugurnya dokter dan tenaga kesehatan lainnya dalam tugas melawan Covid.

“Kami sangat menyesal sampai pagi ini sejawat kami dokter yang gugur dalam berjuang melawan wabah Covid-19 ini sudah mencapai angka 100 orang. Jujur ini membuat kami jadi maju mundur juga dalam perang wabah ini. Sebagai manusia, wajar kami punya rasa takut. Tapi rasa takut kami sering kalah dengan rasa kemanusiaan kami yang harus menolong sesama,” ungkapnya. 

Eva menambahkan, setiap kematian tenaga kesehatan membuat perang batin pada setiap dokter. “Kami ingin lari tapi tidak tega melihat pasien yang berharap pertolongan. Sumpah dokter, rasa kemanusiaan membuat kami terus mencoba bertahan, entah sampai kapan,” ucapnya.

Untuk itu, lanjut dia, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto perlu segera memberikan jalan keluar atas persoalan yang dihadapi dokter dan rumah-rumah sakit saat ini.

"Pak Terawan perlu segera mencari jalan keluar. Karena ada peningkatan kasus terbaru akibat klaster-klaster di perkantoran di Jabodetabek. Kami ngeri kalau gak ada jalan keluar," katanya.

Sponsored

Eva juga meminta agar para dokter bersabar dan tetap bertahan agar rumah sakit tidak kekurangan dokter di tengah wabah Covid-19 yang kembali meningkat. 

"Kalau bukan dokter dan semua tenaga kesehatan, siapa lagi yang akan melayani pasien di rumah sakit. Kalau para dokter mundur semua, kami yang di rumah sakit umum pasti akan semakin kelelahan dan jatuh sakit. Kematian hanya soal waktu saja," tegasnya. 

Saat ini, sambung Eva, masyarakat sudah banyak yang tidak peduli lagi dengan bahaya Covid-19. Mungkin karena desakan ekonomi dan kejenuhan. 

“Maka kita bisa lihat masyarakat sudah banyak di luar rumah, memacetkan jalan raya, bahkan tidak jarang mereka bebas berkeliaran diluar tanpa masker seakan sudah lupa dengan wabah,” katanya. 

Padahal, lanjut dia, bertemunya banyak orang menyebabkan persebaran wabah Covid-19 semakin tinggi karena penyakit ini mudah menular. Bahkan tidak perlu waktu berkali-kali atau waktu lama untuk terpapar.

“Akibat penularan yang mudah, masyarakat yang terpapar covid-19 makin tinggi. Maka angka pasien yang berobat terutama ke rumah sakit makin tinggi,” ujarnya. 

Ia mengatakan, pada ruang isolasi dan ICU hampir penuh semua pada dua rumah sakit tempat ia bekerja. Sehingga kebanyakan pasien terpaksa harus dirujuk. 

“Namun karena rumah sakit rujukan pun sudah banyak yang penuh, akibatnya pasien harus menunggu di ruang IGD kami sampai rumah sakit rujukan ada. Akibatnya tidak jarang meninggal juga karena terlambat dapat perawatan intensif,” kata va.

Menurutnya, jumlah pasien menjadi tinggi sehingga tidak lagi sebanding dengan jumlah dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang melayani. Ketidakseimbangan ini menyebabkan kelelahan pada tenaga kesehatan. 

“Apalagi ini terus berlangsung berbulan-bulan, yang menyebabkan imunitas akan menurun sehingga tenaga kesehatan berpotensi mudah terinfeksi Covid-19 dan berujung kematian,” pungkasnya. 

Sebelumnya, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih, Senin (31/8), menyampaikan bahwa sudah ada 100 dokter yang meninggal dunia lantaran terinfeksi Covid-19.

"Sejawat yang gugur dalam penanganan Covid-19 sudah mencapai 100. Demikian juga petugas kesehatan lainnya yang gugur juga bertambah," kata Daeng yang diunggah pada akun Twitter resmi IDI.

Berdasarkan informasi yang diterima redaksi Alinea.id, berikut ke-100 dokter yang gugur tersebut: 

1. Prof. DR. dr. Iwan Dwi Prahasto (Guru Besar FK UGM)
2. Prof. DR. dr. Bambang Sutrisna (Guru Besar FKM UI/IDI Jakarta Timur)
3. dr. Bartholomeus Bayu Satrio (IDI Jakarta Barat)
4. dr. Exsenveny Lalopua, M.Kes (IDI Kota Bandung)
5. dr. Hadio Ali K, Sp.S (IDI Jakarta Selatan)
6. dr. Djoko Judodjoko, Sp.B (IDI Bogor)
7. dr. Adi Mirsa Putra, Sp.THT-KL (IDI Bekasi)
8. dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ (IDI Jakarta Timur)
9. dr. Ucok Martin Sp. P (IDI Medan)
10. dr. Efrizal Syamsudin, MM (IDI Prabumulih)
11. dr. Ratih Purwarini, MSi (IDI Jakarta Timur)
12. Laksma (Purn) dr. Jeanne PMR Winaktu, SpBS (IDI Jakarta Pusat)
13. Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH (Guru besar Epidemiologi FKM UI)
14. Dr. Bernadette Sp THT meninggal di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo (IDI Makassar)
15. Dr. Lukman Shebubakar SpOT (K) (IDI Jakarta Selatan)
16 .Dr Ketty di RS Medistra (IDI Tangerang Selatan)
17. Dr. Heru S. meninggal di RSPP (IDI Jakarta Selatan)
18. Dr. Wahyu Hidayat, SpTHT (IDI Kab. Bekasi)
19. Dr. Naek L. Tobing, SpKJ (IDI Jakarta Selatan)
20. Dr. Karnely Herlena (IDI Depok)
21. Dr. Soekotjo Soerodiwirio SpRad (IDI Kota Bandung)
22. Dr. Sudadi, MKK, SpOK (IDI Jakarta Pusat)
23. Prof. Dr. H. Hasan Zain, Sp.P (IDI Banjarmasin)
24. Dr. Mikhael Robert Marampe (IDI Kab. Bekasi)
25. Dr. Berkatnu Indrawan Janguk (IDI Surabaya)
26. Dr. Irsan Nofi Hardi Nara Lubis, Sp.S (IDI Medan)
27. Dr. Boedhi Harsono (IDI Surabaya)
28. Dr. Soeharno (IDI Kediri)
29. Dr. Amir Hakim Siregar SpOG (IDI Batam)
30. Dr. Ignatius Tjahjadi SpPD (IDI Surabaya)
31. Dr. Esis Prasasti Inda Chaula, SpRad (IDI Tegal)
32. Dr. Hilmi Wahyudi (IDI Gresik)
34. DR. dr Heru Prasetya, SpB, SpU (IDI Banjarmasin)
35. dr. Miftah Fawzy Sarengat (PPDS FK Unair, RS Soetomo, IDI Balikpapan)
36. dr. Bendrong Moediarso, SpF, SH (IDI Surabaya)
37. dr. H. Dibyo Hardianto (IDI Bangkalan)
38. dr. Deny Dwi Yuniarto (IDI Sampang)
39. dr. Gatot Prasmono (IDI Sidoarjo)
40. dr. Sukarno (IDI Sidoarjo)
41. Arief Basuki SpAn (IDI Surabaya)
42. Herry Nawing SpA (IDI Makassar)
43. dr. Theodorus Singara SpKJ (IDI Makassar)
44. dr. Nyoman Sutedja, MPH (IDI Denpasar)
45. dr.Putri Wulan Sukmawati (PPDS Anak FK Unair/RS Soetomo Surabaya)
46. dr. Sang Aji Widi Aneswara (IDI Semarang)
47. dr. Elianna Widiastuti (IDI Semarang)
48. dr. Agus Pramono (IDI Sidoarjo)
49. dr. Ane Roviana (IDI Jepara)
50. dr. Sovian Endi (IDI Grobogan)
51. Pepriyanto Nugroho (IDI Blitar)
52. Ahmadi NH, Sp.KJ (IDI Semarang)
53. Zulkiflie Saleh (IDI Banjarmasin)
54. Abdul Choliq (IDI Probolinggo)
55. Prof. dr. H. Mgs. Usman Said, SpOG (K) (IDI Palembang)
56. dr. H. Khiarul Saleh, SpPD (IDI Palembang)
57. dr. Anna Mari Ulina Bukit (IDI Medan)
58. dr Herwanto SpB (IDI Kisaran)
59. dr. Maya Norismal Pasaribu (IDI Labuhan Batu Utara)
60. dr. Budi Luhur (IDI Gresik)
61. dr. Deni Chrismono Raharjo (IDI Surabaya)
62. dr Arif Agoestono Hadi (IDI Lamongan)
63. dr. Djoko Wiyono (IDI Surabaya)
64. Prof. Dr. dr. Andi Arifuddin Djuanna, SpOG (K) (IDI Makassar)
65. dr. Aldreyn Asman Aboet, SpAN, KIC (IDI Medan)
66.  M. Fahmi Arfa’i (IDI Semarang)
67. dr. M. Ali Arifin (IDI Sidoarjo)
68. dr. M. Hatta Lubis, SpPD (IDI Padang Sidempuan)
69. dr. Elida Ilyas, SpKFR (K) (IDI Jakarta)
70. dr. I Wayan Westa, Sp.KJ (K) (IDI Denpasar)
71. dr. Sony Putrananda (IDI Blitar)
dr. H. Muhammad Arifin Sinaga, MAP (IDI Langkat)
72. dr. Andhika Kesuma Putra, Sp.P (K) (IDI Medan)
73. dr. Edi Suwasono (IDI Kota Malang)
74. dr. Ahmad Rasyidi Siregar, SpB (IDI Medan)
75. dr. HM Syamsu Rizal (IDI Natuna)
76. dr. Dennis (IDI Medan)
77. dr. Adnan Ibrahim, SpPD (IDI Makassar)
78. dr. I Nyoman Sueta (IDI Denpasar)
79. dr. Paulus Sp.PD (IDI Jakarta Pusat)
80. dr. Sulis Bayu Sentono, dr., M.Kes., Sp.OT (K) (IDI Surabaya)
81. Prof. Dr. dr. R. Mohammad Muljohadi Ali, Sp.FK (IDI Malang Raya)
82. dr. Hery Prasetyo (IDI Blora)
83. dr. Sriyono (IDI Balikpapan)
84. dr. Sabar Tuah Barus SpA (IDI Medan)
85. dr. John Edward Feridol Sipayung (IDI Siantar Simalungun)
86. dr. Ach. Chusnul Chuluq Ar, MPH (IDI Malang Raya)
87. dr. Fatoni (IDI Ogan Komuring Ulu)
88. dr. Asriningrum Sp.S (IDI Mataram)
89. dr. R. Nurul Jaqin SpB (IDI Yogyakarta)
90. dr. Donni (IDI Deli Serdang)
91. dr. Adi Rahmawan (IDI Depok)
92. dr. Riyanto SpOG (IDI Tuban)
93. dr. Muh. Rum Limpo SpB (IDI Selayar)
94. dr. Titus Taba SpTHT-KL (IDI Sorong)
95. dr. H. Edisyahputra Nasution (IDI Samarinda)
96. dr. I Made Widiartha Wisna (IDI Buleleng)
97. dr. Nastiti Noenoeng Rahajoe, SpA (K) (IDI Jakarta Pusat)
98. dr. Daud Ginting, SpPD (IDI Medan)
99. dr. Aris Sugiharjo, SpPD (IDI Banjarmasin)
100. Dr. Edwin Marpaung, Sp.OT(K) (Medan). 

Berita Lainnya