sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pergerakan kelompok radikal di kampus susupi organisasi

Kegiatan keagamaan Islamis di lingkungan kampus itu dikuasai oleh kelompok Tarbiyah atau mantan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Jumat, 31 Mei 2019 19:30 WIB
Pergerakan kelompok radikal di kampus susupi organisasi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 22271
Dirawat 15497
Meninggal 1372
Sembuh 5402

Gerakan radikalisme yang menjangkiti mahasiswa terus berkembang di kampus-kampus perguruang tinggi negeri. Beberapa kelompok bahkan menggunakan organisasi keislaman sebagai kedok untuk menyebarkan paham dan ajaran. 

Temuan itu merupakan hasil penelitian terbaru Setara Institute bertajuk ‘Wacana dan Gerakan Keagamaan di Kalangan Mahasiswa’ yang dibeberkan hari ini. Direktur Riset Setara Institute, Halili, mengatakan sudah ada beberapa kampus ternama yang telah terpapar paham radikalisme.  

“Di berbagai kampus masih berkembang wacana dan gerakan keagamaan eksklusif yang tidak hanya digencarkan oleh satu kelompok keislaman tertentu, tapi juga oleh beberapa kelompok seperti gerakan Salafi-Wahabi, Tarbiyah dan Tahririyah,” kata Halili di Hotel Ibis, Jakarta Pusat, Jumat (31/5).

Menurut Halili, kegiatan keagamaan Islamis di lingkungan kampus itu dikuasai oleh kelompok Tarbiyah atau mantan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Secara umum, corak gerakan kelompok Islamis di kampus ini bersifat homogen dan eksklusif atau bergerak secara tertutup. 

Kegiatan kelompok Islam eksklusif ini, kata Halili, ditandai dengan tiga hal. Yaitu berpegang teguh pada Alquran dan hadis, selalu beranggapan bahwa agama Islam saat ini dalam kondisi tertekan, serta cenderung membenci individu atau kelompok yang berbeda dengannya.

Biasanya, kata Halili, kelompok itu terlihat biasa saja. Namun, ajaran di dalam kelompok tersebut mengandung unsur radikalisme. Dalam pola gerakannya, kelompok Islam eksklusif ini ingin menguasai masjid dan musala kampus untuk menjadikannya markas besar kelompok radikal tersebut.

Halili menyebut, kelompok Islam eksklusif itu sangat mudah berkembang di lingkungan kampus. Sebab, kelompok tersebut memanfaatkan tidak adanya kegiatan rutin di kampus, seperti forum diskusi. Dia menilai, saat ini ruang diskusi alternatif untuk mahasiswa di lingkungan kampus sudah sangat minim.

"Surutnya iklim diskusi itu memicu berkembangnya gerakan Islam eksklusif ini. Misalnya UGM, UI, dan IPB yang sudah terjadi kemunduran untuk mengadakan forum (diskusi) alternatif mahasiswa. Dengan demikian, kelompok Islam eksklusif ini mudah memasuki ruang mahasiswa,” ucap Halili.

Sponsored

Menurut Halili, perkembangan kelompok berkedok agama ini sangat berbahaya. Pasalnya, paham radikalisme yang dianut dalam kelompok tersebut mengajarkan untuk menghilangkan ideologi Pancasila di Indonesia.

"Dalam situasi tertentu, kondisi ini sesungguhnya berpotensi menjadi ancaman Pancasila, demokrasi dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," ucap Halili.

Untuk mencegah paham radikalisme di kampus, kata Halili, ada salah satu kampus yang bisa dijadikan sebagai contoh, yakni UGM. Di UGM, upaya kampus untuk mencegah dan memitigasi ajaran radikalisme dari kelompok islam ekslusif tersebut, salah satunya dengan melakukan perubahan struktur organisasi masjid kampus yang dipegang langsung oleh rektor.

Berita Lainnya