logo alinea.id logo alinea.id

Permufakatan jahat Kivlan Zen bohiri rencana pembunuhan 5 tokoh

Polda Metro Jaya membongkar adanya keterkaitan Kivlan Zen dengan enam tersangka percobaan pembunuhan lima tokoh.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Rabu, 12 Jun 2019 02:38 WIB
Permufakatan jahat Kivlan Zen bohiri rencana pembunuhan 5 tokoh

Polda Metro Jaya membongkar adanya keterkaitan Kivlan Zen dengan enam tersangka percobaan pembunuhan lima tokoh.

Wakil Direktur (Wadir) Krimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi akhirnya mengungkapkan bahwa Kivlan Zein memang benar-benar memiliki keterkaitan dengan keenam tersangka percobaan pembunuhan empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei. 

Berdasarkan pemaparan Ary, Mayor Jenderal (purn) Kivlan Zen telah terbukti memerintah tersangka HK dan kawan-kawannya.

"Ijinkanlah kami penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya menyampaikan perkembangan penyidikan kasus membawa, menyimpan, menguasai dan menyembunyikan senjata api ilegal tanpa hak, tanpa izin dengan motif melakukan permufakatan jahat yang dilakukan dua orang atau lebih sebagaimana definisi di Pasal 88 KUHP untuk melakukan perencanaan pembunuhan kepada lima orang tokoh nasional," terang Ary di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam), Selasa (11/6).

Pembuktian tersebut, dikatakannya setelah kasus ini diinvestigasi secara mendalam dan lebih detail. Temuan-temuan bukti berupa barang dan pengakuan para tersangka menjadi modal kuat untuk mengatakan bahwa Kivlan Zen terlibat dalam kasus tersebut.

Adapun barang-barang yang didapat sebagai barang bukti di antaranya rompi polisi dan empat pucuk senjata api (senpi), tiga senpi merupakan jenis laras pendek dan satu senpi laras panjang. Di antara empat pucuk senpi tersebut, lanjutnya, terbagi dari dua senpi rakitan dan dua senpi pabrikan.

"Saat itu kami juga mengamankan beberapa puluh butir peluru dari tangan para tersangka. Kemudian setelah melakukan pengembangan penyidikan, sebelum akhirnya menangkap dua tersangka lainnya, sebelumnya kami memastikan apakah empat pucuk senpi yang kami amankan ini masih layak, masih berfungsi atau tidak. Kami melakukan uji di Direktorat Intelkam Polda Metro Jaya terhadap keempat senjata api ini dan nyata memang masih berfungsi," ujar dia.

Selain itu, Ary juga memberitahukan sebuah video pengakuan para tersangka yang menjelaskan bahwa beberapa dari mereka memang mendapatkan perintah langsung dari mantan Danjen Kopassus tersebut.

Sponsored

Pertama ia memutar video pengakuan dari HK atau yang lebih dikenal dengan Haji Kurniawan. HK sendiri merupkan pemimpin daripada kelompok yang diperintahkan Kivlan untuk mengeksekusi mati lima tokoh dalam aksi 21-22 Mei.

Dalam video yang diputar, dengan terang HK mengaku telah menerima uang dari Kivlan sejumlah Rp150 juta. Semuanya diberikan agar HK dapat membelikan alat berupa senjata, yaitu senjata laras pendek dua pucuk, dan laras panjang dua pucuk. Uang tersebut berjumlah 15.000 dolar Singapura yang langsung kemudian HK tukar ke money changer.

Pria yang tinggal di bilangan Cobinong, Bogor, Jawa Barat mengku telah beberapa kali bertemu Kivlan dan mendapatkan penawaran. Bahkan, HK juga mengaku pernah mendapatkan teguran karena uang yang diberikan belum juga ia gunakan untu membeli senpi

"Di mana pada bulan Maret, sekitar bulan Maret dan saudara Tadjudin (TJ) dipanggil Bapak Kivlan Zein untuk bertemu di Kelapa Gading. Di mana dalam pertemuan tersebut HK mengaku telah diberi uang Rp150 juta untuk pembiayaan alat, senjata, yaitu senjata laras pendek 2 pucuk," ujar dia.

Pada tanggal 21 Mei, HK sebenarnya telah diperintahkan juga untuk memantau suasana di KPU, agar apabila menemukan masa tandingan harus melindungi massa perusuh dan anak buahnya. "Tanggal 21 menjelang siang itu pemanasan. Tapi sayang KPU sepi," lanjut dia.

Hanya saja, lantaran suasana KPU landai sedari paginya di tanggal 21 Mei, ia kemudian memutuskan untuk kembali terlebih dahulu ke sebuah tempat yang disebut sebagai markas mereka, yakni Rumah Proklamasi nomor 36.

Adapun senjata yang dia pegang merupakan senjata yang didapatkan dari seorang ibu-ibu yang kebetulan juga masih keluarga besar TNI. Dikatakannya, hanya dengan uang Rp50 juta ia bisa mendapatkan senjata tersebut.

"Sedangkan senjata yang mayer kaliber 22 dan ladies gun kaliber 22 yang saya dapatkan dari saudara Akmil. Yang berjenis mayer saya percayakan kepada sauadara Armi. Armi sendiri merupakan pengawal, ajudan, sekaligus driver Pak Kivlan," kata dia.

Dan satu lagi senpi bejenis ladies gun HK percayakan kepada Tajudin atau TJ. Semuanya dilakukan untuk membunuh Wiranto dan Luhut Panjaitan sebagai prioritasnya.

"Alat pengaman pribadi selama menjalankan aktivitas pemantauan dan penggamabaran. Adapun sesuai TO yang diberikan oleh Bapak Kivlan kepada saya dan saya sampaikn kepada Udin (Tajudin), yaitu Bapak Wiranto dan Bapak Luhut Panjaitan," kata dia.

Dua orang ini harus dihabisi karena merupakan pengkhianat bagi institusi TNI. Hal tersebut dikatakan HK berdasarkan keterangan Kivlan.

Hal tersebut dibenarkan oleh Tajudin (TJ). Menurutnya, ia mendapatkan perintah dari Kivlan melalui HK untuk menjadi eksekutor penembakan target atas empat tokoh nasional seperti Wiranto, Luhut Pandjaitan, Budi Gunawan, dan Gories Mere. TJ sendiri diberikan uang tunai total Rp55 juta dari Kivlan melalui HK.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M. Iqbal (tengah) didampingi Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi (kiri) dan Kasubdit 1 Dittipidum Bareskrim Polri Kombes Pol Daddy Hartadi (kanan) usai memberikan keterangan pada wartawan terkait perkembangan kericuhan 21-22 Mei 2019 di Media Center Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6). / Antara Foto

Lembaga survei

Sementara itu, aparat kepolisian pada akhirnya membeberkan nama satu pimpinan lembaga survei yang menjadi target pembunuhan oleh tersangka HK dan kelima komplotannya yang diperintahkan langsung oleh Kivlan Zen. Pemimpin lembaga survei tersebut ialah Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya atau akrab disapa Toto.

Hal ini terungkap berdasarkan keterangan salah satu tersangka, IR atau Irfansyah dari video yang ditayangkan oleh aparat kepolisian di Kantor Kemenko Polhukam, Selasa (11/6) siang.

Berdasarkan keterangan IR, ia mengaku mendapat tugas dari Kivlan untuk menghabisi Yunarto sebelum pada akhirnya ia dibekuk polisi pada tanggal 19 Mei 2019. Perintah tersebut, dikatakan IR bermula dua hari pasca-Pemilu 2019.

“Pada bulan April sehabis pemilu, dua hari saya dihubungi Army, pengawal Pak Kivlan Zen untuk bertemu Pak Kivlan di Masjid Pondok Indah. Kebetulan saat Army menelepon, saya sedang bersama Yusuf di Pos Peruri, pos security,” papar IR.

Berangkat dari ajakan dan tergiur dengan apa yang akan diberikan, IR dan Yusuf keesokan harinya latas langsung bergegas ke Masjid Pondok Indah. Sampai di sana, mereka disambut oleh Army yang pada saat itu mengunakan sepeda motor di lapangan parkir masjid.

Setelah bertemu Army, tidak lama kemudian datang Kivlan bersama Eka yang merupakan sopirnya. Sebelum membicarakan rencana, terlebih dahulu Kivlan izin untuk melaksanakan salat Ashar.

Setelah menunggu Kivlan salat Ashar, Kivlan mengajak IR untuk berbicara di dalam mobil. Di dalam mobil tersebut barulah Kivlan memerintahkan IR untuk menjalankan rencana. “Lalu Pak Kivlan mengeluarkan HP dan menunjukkan alamat serta foto Pak Yunarto,” bebernya.

Kivlan, dikatakan IR awalnya hanya memerintahkan dirinya untuk memantau kediaman Yunarto di bilangan Petogogan Jakarta Selatan dan melaporkan hasil pantauannya ke Kivlan. Sebagai uang operasional, IR diberikan uang sebesar Rp5 juta.

Jika memang IR sukses dapat mengeksekusi Yunarto, IR dijanjikan hadiah lebih. Berdasarkan pengakuannya, Kivlan menjanjika keluarga (anak dan istri) IR akan hidup sejahtera. Bukan hanya itu, IR beserta keluarga juga dijanjikan dapat berkeliling dunia ke mana pun ia mau.

Lepas pertemuan tersebut, keesokan harinya IR beserta Yusuf memantau rumah Yunarto. Kemudian ia memberikan laporan kepada Army lewat foto dan video suasana rumah. Namun sejak saat itu tidak ada kabar lagi dari Army. Hal tersebut membuat IR dan Yusuf berpikir bahwa tugasnya mungkin sudah selesai dan tidak jadi mengeksekusi Yunarto.

Sementara itu, saat hendak dikonfirmasi oleh Alinea.id, awalnya Yunarto enggan menanggapi rencana pembunuhan atas dirinya. Untuk sekarang ia hanya ingin menikmati waktu liburnya bersama anak dan istri.

Namun, pada akhirnya ia memberikan sedikit tanggapan yang intinya ia dan keluarga telah memaafkan dan tak memiliki dendam apapun baik kepada perencana maupun eksekutor. “Situasi ini membuat saya belajar kembali tentang apa itu kasih. Memaafkan orang yang memusuhi kita membuat saya merasa lebih bisa mensyukuri dan menikmati kehidupan yang diberikan Sang Empunya,” kata Yunarto saat dihubungi, Selasa (11/6).

Bagi Yunarto, kejadian ini sejatinya harus dilihat bukan dalam konteks keselamatan orang-orang yang ditarget. Akan tetapi bagaimana demokrasi yang telah tercemar. Misalnya seperti tercemar ujaran kebencian yang tidak bisa 'membunuh' perbedaan, tercemar dengan aneka rupa kebohongan yang anti terhadap keberagaman.

Ia menambahkan, permainan politik identitas dalam perhelatan demokrasi harus diakui sering terjadi di berbagai negara, meski bukan sesuatu yang diharapkan. Tapi, ketika dilumuri dengan berbagai ujaran kebencian dan hoaks, hasil akhirnya adalah terkoyaknya modal sosial sebagai bangsa.

“Ini bukan sekadar untuk disesali, tapi seyogianya menjadi pembelajaran bersama agar tak lagi terulang di waktu-waktu yang akan datang,” kata dia menambahkan.

Kendati begitu, Yunarto sendiri mengucapkan banyak terima kasih dan mengapresiasi sebesar-besarnya atas langkah-langkah pengamanan yang dilakukan oleh Polri-TNI yang berhasil membuat situasi menjadi kondusif. Ia juga mengimbau agar masyarakat dapat mempercayakan proses hukum berjalan tanpa diiringi oleh tekanan dan ujaran kebencian dari pihak manapun.

“Karena itu, jangan lelah untuk terus mencintai Indonesia. Memperkuat persatuan dan merawat kebinekaan dalam satu tarikan nafas sebagai manusia Indonesia. Untuk sekarang ini dulu statement saya, saya ingin menikmati liburan terlebih dahulu bersama keluarga,” lanjut dia.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kasus dugaan makar di masa pemerintahan @jokowi bukan kali ini saja ramai. Pada 2 Desember 2016, beberapa tokoh nasional, seperti Sri Bintang Pamungkas, Rachmawati Soekarnoputri, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Adityawarman, Firza Husein, Alvin Indra, dan Kivlan Zen ditangkap terkait aksi bela Islam 212, yang diduga terkait perencanaan makar. Setelah itu, polisi juga mengamankan Rizal dan Jamran, yang diduga terlibat permufakatan jahat melakukan aksi makar. • • #alineadotid #makar #aksi22mei #islam212 #pemerintah #jokowi #presiden #tersangka #eggisudjana #masyarakat #tokoh #instapost #instagram #politik #politisi #provokator #unjukrasa #peoplepower #indonesia #partai #partaipolitik

A post shared by Alinea (@alineadotid) on