sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Perubahan iklim picu ledakan hama penyakit tanaman

Jajaran Kementan didorong lebih giat dalam penerapan teknologi pertanian.

Fathor Rasi
Fathor Rasi Senin, 28 Sep 2020 19:23 WIB
Perubahan iklim picu ledakan hama penyakit tanaman
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 516.753
Dirawat 66.752
Meninggal 16.352
Sembuh 433.649

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto meminta Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di bawah Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura agar tetap semangat melakukan tugasnya dalam monitoring OPT, baik di musim hujan maupun pada musim kemarau.

Hal itu disampaikan Prihasto menghadapi musim hujan di awal Oktober 2020, di sebagian wilayah Sumatera dan Sulawesi serta sebagian kecil Jawa, Kalimantan, Nusa Tengagara Barat (NTB) dan NTT.

Prihasto menambahkan, Kementerian Pertanian (Kementan) tetap mendorong dan memacu jajaran di Kementan untuk lebih giat dalam penerapan teknologi pertanian. Ini dilakukan sebagai upaya pengelolaan OPT.

"Tujuannya tak lain untuk memastikan ketersediaan produksi hortikultura untuk tetap aman dan terjaga," ujarnya dalam keterangannya, Senin (28/9).

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, Florentinus Anum, mengatakan bahwa perubahan iklim berimplikasi terhadap munculnya ras, strain, dan biotipe baru dari OPT. 

“Dampak dari perubahan iklim adalah berubahnya pola hujan, bergesernya awal musim, banjir, kekeringan, dan naiknya permukaan air laut yang mana hal tersebut otomatis memicu perubahan pola hidup OPT sehingga dapat menyebabkan ledakan hama penyakit,” ungkap Florentinus.

Beberapa hal yang menurutnya akan terus dilakukan di antaranya adalah mengoptimalkan pemanfaatan sarana prasarana seperti pompanisasi yang ada di petani.

Selain itu mengintensifkan pemantauan dinamika serangan OPT serta penerapan sistem budidaya tanaman yang sehat. Program ini diintegrasikan dalam teknologi pengelolaan hama dan penyakit tanaman secara terpadu. 

Sponsored

Dengan demikian, Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) adalah garda terdepan dalam mengawal dan melindungi pertanian dari serangan OPT dan Dampak Perubahan Iklim (DPI).

Budidaya tanaman hortikultura di musim kemarau maupun di musim penghujan sebenarnya sama-sama memiliki risiko gagal panen. Perbedaannya terletak pada penyebabnya saja. Jika di musim kemarau biasanya disebabkan  kurangnya pasokan air, sementara kalau di musim penghujan disebabkan adanya kelebihan air.

“Curah hujan tinggi juga akan menyebabkan kelembapan yang tinggi. Risiko gagal panen di musim hujan terutama disebabkan oleh penyakit tanaman yang berasal dari jamur dan bakteri,” ujar Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kalbar, Yuliana Yulinda.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, kata Yuliana, jajarannya telah melakukan beberapa hal sebagai tindakan antisipasi, antara lain monitoring dan evaluasi kondisi iklim, baik itu melalui kerja sama dengan BMKG, Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus (SMPK) maupun dari hasil pengamatan  Automatic Weather Station (AWS) yang kemudian dipadukan dengan analisis peramalan OPT.

Selanjutnya berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memetakan daerah sentra hortikultura yang rawan terkena dampak perubahan iklim dan tindakan pengendalian yang dapat dilakukan bersama.

“Termasuk membimbing petani untuk melakukan penyesuaian kultur teknis budidaya sebagai upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, seperti peninggian bedengan tanaman, penggunaan varietas toleran, pengaturan jarak tanam, sanitasi lingkungan, perbaikan drainase, pemupukan dengan dosis yang tepat serta pemanfaatan agensia hayati dalam pengendalian OPT,” paparnya.

Dalam penanganan dampak perubahan iklim di sektor pertanian, UPT Perlindungan TPH Kalbar menggandeng Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat untuk memetakan sebaran daerah rawan kebanjiran hingga tingkat desa.

“Dengan mengetahui lebih awal daerah mana-mana saja yang rentan kebanjiran serta prakiraan perubahan cuaca dan musim yang akan terjadi, kami dapat menindaklanjutinya dengan memberikan edukasi dan sosialisasi tentang prakiraan musim hujan kepada petani terkait budidaya tanamannya,” imbuhnya.

Menurut Yuliana, penting untuk mengantisipasi potensi kerawanan akibat perubahan iklim. “Baik itu oleh petani, kami selaku petugas maupun instansi terkait lainnya. Karena sebagaimana yang kita ketahui bersama kondisi saat ini kurang begitu baik disebabkan adanya pandemi ditambah lagi dengan cuaca ekstrim. Oleh karena itu, kami akan berupaya semaksimal mungkin membantu petani agar mereka bisa tetap panen,” ujar Yuliana.

Sementara itu, Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf, mengajak dan mengimbau petani untuk terus menggunakan bahan pengendali OPT ramah lingkungan.

“Harapannya produksi yang dihasilkan aman konsumsi. Jika pun menggunakan pestisida kimia perlu memperhatikan prinsip 6 (enam) tepat yaitu tepat sasaran, mutu, jenis pestisida, waktu, dosis dan konsentrasi serta cara penggunaan,” tutup dia.

Berita Lainnya