sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Eijkman: Terapi plasma konvalesen tak bisa sembuhkan pasien Covid-19 bergejala berat

Pengobatan plasma konvalesen perlu dilengkapi alat pengukur kadar antibodi karena pemilihan waktu dapat meningkatkan keberhasilannya.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Senin, 01 Mar 2021 17:21 WIB
Eijkman: Terapi plasma konvalesen tak bisa sembuhkan pasien Covid-19 bergejala berat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diminta melengkapi pelayanan pengobatan plasma konvalesen dengan alat pengukur kadar antibodi. Alasannya, pemilihan waktu (timing) yang tepat dapat meningkatkan keberhasilan, apalagi pasien Covid-19 kategori bergejala berat hingga kritis tidak dapat dibantu dengan terapi ini.

"Penting ini untuk penyedia plasma seperti PMI (Palang Merah Indonesia) atau rumah sakit lain yang sudah divalidasi. Tahu kadarnya (antibodi) berapa, kiranya bisa direncanakan untuk bantuan kepada PMI agar saat menyiapkan kantong darah ada tulisan, oh ini isinya berapa sehingga bisa dengan tepat kita menolong pasien Covid-19 itu," ujar Deputi Bidang Penelitian Translasional dan Kepala Laboratorium Hepatitis Lembaga Eijkman, David Handojo Muljono, dalam webinar, Senin (1/3).

Eijkman, sambungnya, masih mengembangkan metode mengukur kadar antibodi plasma konvalesen dengan mengevaluasi reagen-reagen yang beredar di pasaran. Harapannya, plasma dari penyintas lebih cepat diputuskan untuk diberikan kepada pasien Covid-19 terkait atau tidak.

Eijkman sudah mengukur antibodi plasma menggunakan plaque reduction neutralization test (PRNT) yang menjadi standar emas (gold standard). Namun, pemakaiannya secara kontinu akan menelan biaya mahal dengan prosedur rumit karena membutuhkan laboratorium biosafety level (BSL) 3. Sementara itu, donor plasma konvalesen menjadi salah satu terapi andalan dalam mengobati pasien Covid-19.

Sponsored

David melanjutkan, terdapat dua khasiat plasma darah konvalesen, menetralisasi virus (antibodi sebagai antivirus) dan imunomodulasi (menormalkan kembali sistem imun). Dengan demikian, mempercepat penyembuhan dan mencegah keparahan pasien Covid-19.

Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro, sebelumnya menyatakan, terapi ini sudah masuk tahap uji klinis. Kesimpulan sementara, donor plasma konvalesen terbaik berasal dari penyintas kategori sedang hingga berat dan diperuntukkan kepada pasien kategori ringan menuju sedang.

Di sisi lain, ketersediaannya tidak sebanyak kebutuhannya dan tergantung golongan darah. "Sehingga sering terjadi kondisi pasien yang sebenarnya masih bisa sembuh dengan mendapatkan terapi ini, tetapi karena tidak mendapatkan, akhirnya harus meninggal dunia," ujarnya dalam telekonferensi, Kamis (11/2).

Berita Lainnya