logo alinea.id logo alinea.id

Polisi bongkar sindikat penyelundup benih lobster senilai Rp8,5 miliar

Benih lobster yang diamankan polisi hendak diselundupkan ke Vietnam dan Singapura.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Selasa, 13 Agst 2019 17:21 WIB
Polisi bongkar sindikat penyelundup benih lobster senilai Rp8,5 miliar

Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dit Tipidter) Bareskrim Polri membongkar sindikat penyelundup benih lobster senilai Rp8,5 miliar. Rencananya, benih lobster tersebut hendak diselundupkan ke dua negara berbeda yakni Vietnam dan Singapura. 

Kasubdit IV Bareskrim Polri, AKBP Parlindungan Silitonga, mengatakan dalam mengungkap kasus ini, pihaknya menangkap 10 tersangka yang tergabung dalam sindikat tersebut. Mereka masing-masing bernama Yacobson, Mulyadi, Sutrisno, Fidriansyah, Juliadi, Joni Arifin, Irpan Irawan, Topan Purnama, Tumin dan Henry Gunawan. 

“Mereka melakukan jual-beli benih lobster secara ilegal di wilayah Lampung,” kata Parlindungan Silitonga saat ditemui di Jakarta pada Selasa (13/8).

Parlindungan menjelaskan, praktik jual-beli benih lobster yang dilakukan sindikat Lampung tersebut berlangsung cukup lama. Setelah sampai ke Vietnam sebagai negara tujuan, benih lobster kemudian dibudidayakan. Baru kemudian dijual kembali ke pasaran saat sudah memenuhi kriteria usia dan berat yang cukup.

Berdasarkan keterangan para pelaku yang diamankan, kata Parlindungan, mereka menjual benih lobster jenis mutiara dan pasir dengan harga Rp100.000 sampai Rp150.000. “Jika ditotal nilai yang berhasil diselamatkan oleh Polri terkait kasus ini adalah Rp8,5 miliar. Kami pastikan akan kembangkan terus perkara ini," tutur Parlindungan.

Selain menangkap 10 pelaku penyelundupan, Parlindungan menuturkan, juga mengamankan barang bukti berupa benih lobster sebanyak  57.058 ekor untuk jenis pasir. Kemudian 203 ekor benih lobster jenis mutiara. Selain itu, kendaraan roda empat dan tabung oksigen juga turut disita dari tangan para tersangka. 

“Benih lobster itu ditempatkan di dalam kotak-kotak yang sudah disediakan para pelaku dan ditaruh di gudang persembunyiannya beserta alat packing di sebuah gudang di wilayah Lampung,” ucap Parlindungan.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 88 Jo Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Para tersangka terancam hukuman enam tahun penjara dan denda Rp1,5 miliar.

Sponsored