logo alinea.id logo alinea.id

Polres Malang Kota antisipasi paham radikalisme jelang PMB

Dari 56 universitas di Malang, beberapa diantaranya dinyatakan terindikasi paham radikalisme

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Selasa, 24 Jul 2018 17:08 WIB
Polres Malang Kota antisipasi paham radikalisme jelang PMB

Organisasi kampus dan paguyuban rektor digaet Polres Malang Kota untuk mengantisipasi paham radikalisme saat Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB).

Beberapa organisasi itu di antaranya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Persatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII) serta organisasi lain seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

“Paham radikalisme di sejumlah kampus sudah ada bibitnya. Beberapa kali dimonitor baik, di medsos maupun hasil penyelidikan inteligent ada sejumlah kelompok di kampus yang mencoba menanamkan paham radikalisme,” kata Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri, di Malang, (24/7).

Dari 56 universitas di Malang, beberapa diantaranya terindikasi terpapar paham radikalisme. Beberapa kelompok radikal memang menyasar maba dengan modus menawarkan kos gratis. Setelah kos gratis itu ditempati, terjadi brainwash dan pemberian paham radikalisme dilakukan kelompok radikal. Modus lainnya adalah mengajak ikut pengajian yang belum jelas alirannya.

Selain itu, Polres Malang Kota juga membentuk paguyuban rektor universitas di Malang. Nantinya paguyuban tersebut akan membahas penanganan radikalisme di kampus.

“Apabila paguyuban ini terbentuk kita akan mengambil langkah mencari solusi atau mencari cara bertindak yang efektif bagaimana mengatasi atau mengantisipasi paham radikalisme di kampus,” paparnya.

Ketua Senat Universitas Merdeka Malang, Kasuwi Saiban, membenarkan paham radikalisme pernah menyebar di kampus. Namun langsung ditindak tegas dengan mengeluarkan mahasiwa yang terindikasi paham tersebut.

“Kebijakan dari rektor yaitu, mengeluarkan mahasiswa yang terindikasi virus radikalisme. Dengan cara seperti itu mereka otomatis tersingkir,” ujar Kasuwi.

Sponsored

Kelompok seperti itu lebih sering  menargetkan mahasiswa jurusan eksakta karena dianggap mudah untuk dipengaruhi. Mayoritas mahasiswa yang terindikasi pun, minim pemahaman ilmu agama.