sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Polri ciduk pengunggah hoaks KTP palsu

Pelaku berinisial SY (35) bekerja sebagai teknisi komputer di Bandung.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Rabu, 21 Nov 2018 12:48 WIB
Polri ciduk pengunggah hoaks KTP palsu
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1790
Dirawat 1508
Meninggal 170
Sembuh 112

Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Polri telah menciduk seorang pelaku penyebar hoaks KTP palsu melalui akun youtube. Pelaku berinisial SY (35) ditangkap tadi malam sekitar pukul 21.20 WIB di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan SY menyebarkan hoaks tersebut melalui alamat https://www.youtube.com/user/arjuna dengan keterangan “110 juta e-KTP yang dibuat warga Cina siap kalahkan Prabowo di tangkap TNI kemana Polri ya.”

“Konten tersebut adalah konten yang tidak benar yang merupakan kompilasi beberapa video,” ujar Dedi, Rabu (21/11).

Pelaku telah menggabungkan video penangkapan yang dilakukan jajaran Polres Tidore terhadap pelaku pembuat KTP palsu pada November 2017. Selain membuat konten di chanel youtube, tersangka juga menyebarkan link youtubenya di akun facebook.

Pelaku merupakan teknisi komputer di Bandung. Tujuan membuat konten itu untuk mendapatkan iklan dari chanel youtube yang telah memiliki 46.793 subscriber tersebut.

“Pengakuan tersangka belum pernah mendapat honor, karena konten yang diuploadnya melanggar ketentuan hak cipta yang ditentukan oleh platform,” katanya.

Atas penangkapan itu sejumlah alat bukti juga diamankan, seperti peralatan yang digunakan pelaku untuk membuat konten dan akun-akun milik SY. Saat ini SY pun masih menjalankan pemeriksaan lebih lanjut oleh tim penyidik.

Akibat perbuatannya, ia dikenakan Pasal 15 UU No.1 tahun1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, karena telah menyiarkan kabar yang tidak pasti / kabar yang berkelebihan / tidak lengkap, sementara tersangka patut menduga bahwa kabar tersebut dapat menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat, dengan sanksi hukuman penjara paling lama dua tahun.
 

Sponsored
Berita Lainnya