logo alinea.id logo alinea.id

Polri kesulitan ungkap pelaku teror bom pada pimpinan KPK

Kendala terjadi karena polisi kesulitan mendeteksi sidik jari pelaku.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Senin, 14 Jan 2019 18:59 WIB
Polri kesulitan ungkap pelaku teror bom pada pimpinan KPK

Banyaknya warga sekitar yang memegang botol molotov membuat tim Inavis kesulitan deteksi sidik jari pelaku pelemparan bom molotov.

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menyatakan menghadapi kendala dalam mengungkap pelaku teror terhadap dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Polri kesulitan mendeteksi sidik jari yang menempel pada benda yang digunakan pelaku, untuk melakukan teror di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif.

Di rumah Laode yang berada di Jalan Kalibata Selatan nomor 42 RT 01/03, Kelurahan Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, polisi kesulitan mendeteksi sidik jari yang berada dalam botol bom molotov. Padahal sidik jari tersebut akan menuntun tim penyidik untuk mengusut siapa pelaku pelemparan teror bom itu.

“Ada beberapa kendala yang ditemui, karena kejadiannya sudah terlalu banyak dari warga sekitar yang pegang itu," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Senin (14/1). 

Menurut Dedi, saat ini barang bukti itu masih dalam proses uji Laboratorium Forensik (Labfor). Adanya sidik jari orang lain, yang diduga warga sekitar, membuat tim penyidik membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar menemukan pelakunya. 

Selain itu, menurut Dedi, kondisi botol yang sempat disiram air oleh warga untuk memadamkan asap yang keluar, juga mempengaruhi proses identifikasi. Dedi pun mengungkapkan perlunya teknik tambahan dalam proses penyidikan.

"Perlu teknologi khusus lagi. Teknologi penguapan belum muncul, harus ada teknologi lain untuk memunculkan sidik jari," tuturnya.

Polisi menemukan dua botol yang digunakan untuk molotov yang dilemparkan ke rumah Laode. Botol pertama dalam keadaan utuh, sementara botol lainnya pecah hingga menyala dan mengeluarkan asap.

Sponsored

Lebih lanjut Dedi mengatakan, kesulitan mendeteksi sidik jari juga terjadi pada tas dan fake bomb di rumah Ketua KPK, Agus Rahardjo, yang berada di Perum Graha Indah, Blok A9/15 RT 04/14 Kelurahan Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi. Proses penjinakan fake bomb dengan menggergaji pipa paralon, menjadikan sidik jari pelaku tak mudah terdeteksi.

"Tas itu juga kan diturunkan oleh anggota sama yang di paralon (bom palsu) itu. Kan paralon itu setelah digergaji, untuk dicek komponen senyawa yang ada di paralon itu, ternyata fake bomb, ada banyak sidik jari di situ," ucap Dedi. 

Sementara itu, pemeriksaan CCTV di sekitar lokasi masih terus dilakukan pihak kepolisian. Sejumlah saksi juga terus diperiksa demi mengungkap kejadian tersebut.