sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Polri tetapkan 99 tersangka dalam ricuh RUU KUHP

Mereka terindikasi merusak fasilitas umum dan menjadi provokator saat aksi unjuk rasa berlangsung. 

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Kamis, 26 Sep 2019 20:32 WIB
Polri tetapkan 99 tersangka dalam ricuh RUU KUHP

Kepolisian menetapkan 99 orang sebagai tersangka dalam kericuhan yang menyertai aksi unjuk rasa memprotes Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) di berbagai daerah. 

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigjen Pol Dedi Prasetyo, mereka terindikasi merusak fasilitas umum dan menjadi provokator saat aksi unjuk rasa berlangsung. 

"Di Sumut 40 orang, di Jakarta 49, di Bandung 4 orang, di Surabaya 4 orang, dan Polda Sulsel 4 orang," kata Dedi di gedung Humas Polri, Jakarta, Kamis (26/9).

Dalam aksi unjuk rasa yang ricuh di lima daerah itu, menurut Dedi, terdapat sejumlah korban yang mengalami luka-luka. Tidak hanya dari kalangan pengunjuk rasa, aparat kepolisian juga jadi korban. 

Di Sumut misalnya, tujuh peserta aksi unjuk rasa dan tiga personel kepolisian luka-luka. "Di Bandung korban dari pendemo empat orang dan polisi 12 orang. Di Sulsel korban dari massa 44 dan anggota polisi tiga orang," tutur Dedi.

Selain menetapkan tersangka kericuhan, Dedi mengatakan, Polri juga tengah mengejar kreator berita bohong atau hoaks meninggalnya mahasiswa Al-Azhar Faisal Amir. Menurut dia, hoaks itu turut membuat panas situasi pascaaksi unjuk rasa. 

"Dari tim siber melakukan patroli siber bersama (Kementerian) Kominfo dan BSSN (Badan Sandi dan Siber Nasional). Melakukan profiling kepada akun yang menyebarkan berita hoaks," kata dia. 

Dedi mengklaim pihaknya sudah mengetahui akun media sosial yang membuat dan menyebarkan berita hoaks tersebut di media sosial. Namun, Dedi tidak mau mengungkap identitas pemilik akun. 

Sponsored

"Tentunya akun itu didalami apakah ada perbuatan melawan hukum. Kalau ada, akan dilakukan penindakan. Sekali lagi, Polri bekerja berdasarkan alat bukti," ujarnya.

Menurut Dedi, kebanyakan akun yang menyebarkan hoaks dan provokasi adalah akun-akun lama yang sebelumnya sudah terbukti membuat propaganda di Pilpres 2019. "Pemainnya masih yang lama-lama, seperti Whitebaret, Opposite," kata dia. 

Terkait mahasiswa bernama Randi yang tewas di Kendari, Sulawesi Tenggara, Dedi mengatakan, Polri perlu menggelar uji balistik untuk memastikan kematiannya. Menurut dia, peluru yang menewaskan Randi bukan berasal dari personel kepolisian. 

“Kebijakan Polri dalam mengawal dan mengamankan aksi unras (unjuk rasa), personel Polri tidak dibekali senjata api maupun peluru tajam. Hanya water canon, gas air mata, dan tameng sebagai pelindung diri untuk menghadapi para perusuh," kata Dedi. 

Randi diketahui adalah kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Ia mengikuti aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Provinsi Sultra. Dalam foto yang beredar media sosial, terlihat ada luka tembak di bagian dada kanan Randi.