sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Presiden perintahkan penerapan tes cepat Covid-19

Kepala Negara juga memerintahkan peningkatan jumlah alat dan laboratorium pemeriksaan coronavirus.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Kamis, 19 Mar 2020 11:21 WIB
Presiden perintahkan penerapan tes cepat  Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 70736
Dirawat 34668
Meninggal 3417
Sembuh 32651

Presiden Joko Widodo memerintahkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 agar menerapkan uji cepat atau rapid test dalam memastikan infeksi coronavirus. Kepala Negara juga memerintahkan peningkatan jumlah alat dan laboratorium untuk pemeriksaan virus corona tipe dua tersebut.

“Segera lakukan rapid test dengan cakupan lebih besar agar deteksi dini indikasi awal seseorang terpapar Covid-19 bisa dilakukan,” ujar Presiden saat memulai rapat terbatas Laporan Tim Gugus Tugas Covid-19 melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/3).

Presiden juga menginstruksikan agar protokol kesehatan penanganan corona di masyarakat agar disusun lebih jelas dan mudah dipahami. Dengan demikian, petugas medis dapat menentukan opsi karantina mandiri atau karantina di RS setelah rapid test dilakukan.

“Penyiapan protokol kesehatan yang alurnya jelas dan mudah dipahami. Ini penting, terkait hasil rapid test, apakah dengan karantina mandiri atau memerlukan layanan RS. Protokol kesehatan yang jelas,” ujar Jokowi.

Kepala Negara juga menginstruksikan agar alat dan laboratorium pemeriksaan Covid-19 diperbanyak. Gugus Tugas beserta Kementerian Kesehatan dapat menggandeng Rumah Sakit (RS) milik pemerintah, BUMN, TNI, Polri, Pemerintah Daerah, RS Swasta, hingga lembaga riset terekomendasi, untuk melakukan pemeriksaan.

Kemarin, juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, Kementerian Kesehatan sedang mengkaji untuk menerapkan deteksi cepat.

Metode pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan spesimen darah, bukan dari tenggorokan seperti selama ini dilakukan. Salah satu keuntungan rapid test ini tak membutuhkan sarana pemeriksaan laboratorium pada bio security level dua. Artinya, pemeriksaan rapid test ini dapat dilaksanakan di hampir seluruh laboratorium kesehatan yang ada di rumah sakit di Indonesia.

“Hanya permasalahannya adalah bahwa karena yang diperiksa adalah immunoglobulin, maka kita membutuhkan reaksi immunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi paling tidak seminggu. Kalau belum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu, kemungkinan immunoglobulin akan memberikan gambaran negatif," jelas Yurianto.

Sponsored

Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara Arya Sinulingga menyatakan kementeriannya tengah memproses pengadaan alat rapid test tersebut. PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI sedang menunggu izin dari Kementerian Kesehatan untuk mengimpor alat rapid test coronavirus.

"PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) sedang pesan sekitar 500.000 pieces. Tapi kami menunggu izin dari Kementerian Kesehatan, kalau sudah bisa, langsung kami distribusikan alat itu," ujar Arya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, izin impor alat kesehatan itu sudah diregistrasi sejak 10 Maret 2020. Alat tersebut bakal diimpor dari Hangzhou, China.

Arya menjelaskan, alat tersebut memungkinkan masyarakat melakukan pemeriksaan mandiri infeksi Covid-19. Jika positif, masyarakat dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit rujukan Covid-19.

"Dengan rapid test orang ada kepastian awal. Dia bisa indikasi corona sedini mungkin. Kalau sudah ada kecenderungan terpapar bisa melakukan pengambilan sampel dengan swab di rumah sakit," kata Arya. (Ant)

Berita Lainnya