sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Publik diharap tak keliru tafsirkan efikasi CoronaVac 65,3%

Masyarakat mesti mempertimbangkan hasil studi di Brasil dan Turki dalam memberikan penilaian.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Selasa, 12 Jan 2021 12:19 WIB
Publik diharap tak keliru tafsirkan efikasi CoronaVac 65,3%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Ahli epidemiologi dan biostatistik Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, meminta publik tidak salah menafsirkan akan penetapan efikasi CoronaVac sebesar 65,3% oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Alasannya, uji klinis terhadap vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Science Co itu belum rampung.

“Jangan hanya mengandalkan studi di Bandung yang belum selesai. Harusnya (juga) melihat dari studi-studi lain, seperti di Brasil dan Turki. Yang di Brasil itu efikasi vaksin Sinovac 78% dan di Turki 91,25%. Kalau di Bandung diteruskan, mungkin efikasinya akan 70-80%, mendekati 80%,” ucapnya kepada Alinea, Selasa (12/1).

Bandung merupakan lokasi uji coba fase 3 CoronaVac di Indonesia, yang dilakukan PT Bior Farma (Persero) bersama Universitas Padjadjaran (Unpad). Sekitar 1.620 relawan terlibat sebagai penerima suntikan, baik vaksin asli maupun plasebo.

Karenanya, menurut Pandu, publik perlu mempertimbangkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) dari BPOM dengan meninjau aspek keamanan dan manfaat yang telah terbukti.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan efikasi Sinovac sebesar 65,3% tersebut. Soalnya, kesimpulan itu dipengaruhi sasaran uji klinis di Bandung yang melibatkan masyarakat umum sebagai sukarelawan, sedangkan di Brasil menggandeng tenaga kesehatan (nakes), kelompok berisiko tinggi terpapar Covid-19, dan di Turki campuran kedua kelompok tersebut.

"(Efikasi 65,3% artinya) kalau diberikan vaksin, maka risiko untuk terinfeksi 1/3 lebih rendah daripada yang tidak mendapatkan vaksin atau yang tidak dapat vaksin itu tiga kali lebih tinggi risiko terpapar daripada yang mendapatkan vaksin,” tuturnya.

Juru bicara Vaksinasi Covid-19 dari BPOM, Lucia Rizka Andalusia, sebelumnya mengatakan, sebanyak 25 dari 1.620 relawan uji klinis CoronaVac di Bandung terinfeksi Covid-19. Kasus ini menjadi penentu besarnya efikasi vaksin.

Dirinya melanjutkan, perhitungan efikasi 65,3% merupakan hasil interim analisis (analisis sementara) sehingga akan tetap melanjutkan uji klinis dan memantaunya selama enam bulan. Dengan demikian, kesimpulan tersebut masih bisa direvisi dan dikalkulasi kembali jika ada penambahan relawan yang dinyatakan terinfeksi.

Sponsored

Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito, menambahkan, angka efikasi 65,3% tergolong baik dan dapat menurunkan kasus Covid-19 di Indonesia.

“Kalau 65,3% dari 800.000 (total akumalasi kasus Covid-19 belakangan ini) itu besar sekali. Itu dalam uji klinis, ya, estimasinya. Untuk meyakinkan kita, vaksin tersebut harus digunakan. Artinya, bisa mengurangi angka kasus dan kita terus memantau kejadian di populasi nanti,” urainya.

Berita Lainnya