sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Punya komorbid, Siti Fadilah dukung vaksin Nusantara

Bekas Menkes, Siti Fadilah Supari, menghadiri pengambilan sampel darah untuk vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto, Rabu (14/4).

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Kamis, 15 Apr 2021 14:34 WIB
Punya komorbid, Siti Fadilah dukung vaksin Nusantara

Bekas Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, terlihat menghadiri kegiatan pengambilan sampel darah untuk vaksin Nusantara di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (14/4). Salah satu alasannya, memiliki penyakit penyerta.

"Saya orang tua yang mempunyai komorbid. Saya tahu tidak ada dari vaksin yang ada (saat ini) tidak bisa (untuk pasien komorbid) dan ini ada suatu harapan, kemungkinan bahwa ini personal karena memang harus personal," ucapnya, Kamis (15/4).

Kedua, menghargai mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, sebagai ilmuwan. "Saya ikut penelitian ini. Ini penelitian bukan vaksinasi."

Siti mengaku, mengenal Terawan sejak lama dan mendukung pengembangan vaksin Nusantara. Meski demikian, betul atau tidaknya khasiat "penawar" tersebut tetap harus dibuktikan. "Kita, kan, kalau mau menyampaikan itu betul atau tidak, kan, harus terbukti," jelasnya.

Sponsored

Terawan berpartisipasi dalam pengembangan vaksin Nusantara untuk mengatasi pandemi Covid-19. Pembuatannya menggunakan sel dendritik, metode yang dilakukan Cell Cure Center RSPAD Gatot Soebroto sejak 2015.

"Saya waktu itu selaku menteri kesehatan ikut peran serta di dalam ada kegiatan anak bangsa yang ingin mengembangkan vaksin Covid-19 berbasis dendritic cell. Karena sifatnya autologous (donor menggunakan sel Anda sendiri), sifatnya adalah individual, tentunya sangat-sangat aman," ujarnya, 10 Maret lalu.

Dia melanjutkan, pengembangan dan uji klinis vaksin Nusantara hasil kerja sama antara PT Rama Emerald Multi Sukses bersama AIVITA Biomedical asal Amerika Serikat, Universitas Diponegoro, dan RSUP dr. Kariadi Semarang. Pun mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) saat tahap uji klinis dan dikawal Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Berita Lainnya