sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Radikalisasi via internet suburkan teroris lone wolf

Anak muda disebut mudah akses situs bermuatan radikal.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Minggu, 04 Apr 2021 15:19 WIB
Radikalisasi via internet suburkan teroris lone wolf

Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Benny Mamoto, mengatakan, anak muda sangat mudah mengakses situs yang diterka bermuatan radikal. Di sisi lain, mereka malah tidak akses kanal institusi yang menangani masalah teror.

"Ini terbukti setelah kami menangani jihadis milenial, saya interview, saya tanya, kamu pernah akses nggak website institusi yang menangani masalah teror? (Dijawab) Enggak, pak, buat apa saya akses itu, saya sudah tahu isinya apa," ujarnya dalam webinar Crosschek, Minggu (4/4).

Menurutnya, situs yang tak jelas pengelolanya malah digandrungi anak muda. Padahal, informasinya berisi hal-hal yang mengarah ke proses radikalisasi.

Pada kesempatan yang sama, pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel, mengatakan, dalam psikologi sudah dikenal istilah adiksi internet, sosial media, dan gangguan kecemasan akibat media sosial. Menurutnya, istilah itu menunjukkan kuatnya pengaruh internet.

Kemajuan teknologi, jelas Reza, berpotensi membuat seseorang bisa meradikalisasi diri sendiri. Dia menyebut proses itu dengan dua mekanisme, yaitu self radikalization dan self recruitment.

"Pertama, self radicalization, bagaimana orang-orang kemudian memanfaatkan informasi di media sosial, bisa meradikalkan isi kepala mereka sendiri," ujar dia.

Ketika isi kepala sudah diradikalisasi sendiri, maka masuk fase kedua, "Yaitu bagaimana si calon pelaku melakukan pembaiatan terhadap dirinya sendiri. Dia angkat sumpah setia untuk melakukan sebuah operasi yang dia yakini sebagai sebuah kebenaran. Ini saya istilahkan sebagai self recruitment," imbuhnya.

Melalui dua mekanisme tersebut, setiap orang bisa saja menjadi pelaku teror, terlebih anak muda karena paling banyak mengakses internet. Oleh karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan, sebab, bukan tidak mungkin proses radikalisasi diri sendiri membuat kian banyak pelaku teror yang bergerak mandiri atau lone wolf.

Sponsored

"Saya tidak bermaksud mendramatisasi, tapi kemungkinannya kemunculannya lone wolf-lone wolf baru boleh jadi akan berlangsung secara masif karena mereka tidak membutuhkan jaringan, tidak harus ada kartu identitas, tidak harus bertemu dengan siapapun, kemudian menjadi pelaku-pelaku teror yang baru," ucap Reza.

Berita Lainnya