sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Radikalisme sasar anak muda usia 17-24 tahun lewat medsos

Selain paham radikalisme, hoaks yang bisa memecah belah persatuan dan mengarah pada tercabutnya semangat nasionalisme juga ditemui di medsos

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Sabtu, 10 Agst 2019 16:00 WIB
Radikalisme sasar anak muda usia 17-24 tahun lewat medsos

Juru bicara Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto mengatakan, paham radikalisme umumnya menyasar generasi muda, yang cenderung kurang waspada terhadap isi informasi yang menyebar di media sosial. Menurut dia, dampak nyatanya muncul pelaku teror, misalnya bom bunuh diri, dari perempuan dan laki-laki rentang usia 17-24 tahun.

“Jangan menelan mentah-mentah informasi (di media sosial) tanpa mengkroscek kebenarannya,” kata Wawan dalam diskusi bertajuk “Enzo, Pemuda, dan Kemerdekaan” di kawasan Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (10/8).

Lebih lanjut, Wawan mengatakan, selain paham radikalisme, hoaks yang bisa memecah belah persatuan dan mengarah pada tercabutnya semangat nasionalisme juga ditemui di media sosial.

Wawan menuturkan, BIN rutin menggelar patroli siber untuk memantau generasi muda dalam menggunakan media sosial.

“Ancaman masuknya paham radikalisme yang banyak dipengaruhi pola seperti ISIS, ini sebuah fakta yang perlu dicegah sejak dini,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Plt Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Ferdinandus Setu mengatakan, pihaknya berupaya mencegah penyebaran konten radikal dengan melakukan pemblokiran jalur akses publik pada situs-situs yang disinyalir bermuatan paham anti-Pancasila.

Sepanjang 2009 hingga 2019, Kemkominfo telah menutup akses 11.800 lebih akun dan situs yang bermuatan negatif, seperti yang bemuatan hoaks, ujaran kebencian terhadap perangkat negara, dan pornografi.

“Kami tak bermaksud membatasi, tapi menentukan koridor akses publik pada nilai-nilai hidup yang sejalan dengan semangat NKRI,” kata Ferdinandus.

Selain itu, Kemkominfo juga menerapkan program literasi digital yang telah merangkul lebih dari 100 universitas, BUMN, dan kementerian untuk mengampanyekan sikap bijak berinternet.

Sponsored

“Kami datang ke seluruh pelosok tanah air untuk terus menumbuhkan literasi digital ini. Tapi tantangan masih cukup berat. Tugas kita semua untuk mencegah sejak dini dan mengurangi bahaya hoaks yang dapat meracuni pandangan publik,” kata Ferdinandus.