sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tim pemeriksa perlintasan Harun Masiku sebut ratusan ribu pendatang tak terdata

Terdapat 120.661 data perlintasan orang dari Terminal 2F Bandara Soetta tak terdata.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Rabu, 19 Feb 2020 16:48 WIB
Tim pemeriksa perlintasan Harun Masiku sebut ratusan ribu pendatang tak terdata
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26940
Dirawat 17662
Meninggal 1641
Sembuh 7637

Tim gabungan independen pemeriksa perlintasan keimigrasian Harun Masiku menyebut terdapat ratusan ribu orang masuk ke Indonesia dari luar negeri yang lolos tak terdata di Terminal 2F Bandar Udara Soekarno-Hatta (Soetta). Ratusan ribu pendatang itu mulai tidak terdeteksi sejak 23 Desember 2019 hingga 10 Januari 2020.

Tim gabungan tersebut terdiri dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Inspektorat Jenderal Kemenkumham, Bareskrim Polri, serta Badan Siber dan Sandi Negara.

Menurut Kepala Seksi Penyidikan dan Penindakan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Syofian Kurniawan, penyebab tidak terdatanya para pendatang itu lantaran adanya kesalahan konfigurasi uniform resource locator (URL) saat perbaruan sistem data perlintasan.

Adapun, sistem yang dimaksud ialah Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM) V.1 ke Simkim V.2 pada tanggal 23 Desember 2019.

"(Akibatnya) terdapat 120.661 data perlintasan orang dari Terminal 2F yang tidak terkirim ke server lokal dan server Pusdakim di Ditjen Imigrasi," kata Sofyan, di Gedung AHU Kemenkumham, Jakarta Selatan, Rabu (18/2).

Disinggung adanya kekhawatiran masuknya pihak yang memiliki iktikad baik datang ke Indonesia, Sofyan enggan menjawab. Dia hanya menyampaikan, bahwa pihaknya telah berupaya untuk memperbaiki sistem data perlintasan tersebut.

Baginya, tim gabungan independen pemeriksa perlintasan keimigrasian Harun Masiku tidak memiliki kapasitas dalam menjawab kekhawatiran tersebut. Dia 

"Oleh karena ini, berkenaan dengan kekhawatiran terkait dengan data (120.661 orang yang tak terdaftar) itu, dari tim tidak tepat menyampaikan informasi, dan kewenangannya itu menjadi ada Pak menteri," ucap dia.

Sponsored

Harun merupakan tersangka penyuap Komisioner Komisi Pemilihan Umum, Wahyu Setiawan. Dia diduga menyuap Wahyu ratusan juta agar ditetapkan sebagai anggota dewan melalui pergantian antarwaktu dari daerah pemilihan Sumatra Selatan I, menggantikan Nazarudin Kiemas, anggota DPR terpilih yang meninggal dunia.

Harun berhasil lolos dari kejaran komisi antirasuah saat KPK melakukan operasi tangkap tangan pada 8 dan 9 Januari 2020. Hanya tiga dari empat tersangka yang telah ditahan. Mereka adalah Wahyu; orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina; dan pihak swasta, Saeful Bahri.

Saat itu, Ditjen Imigrasi Kemenkumham mengklaim Harun bertolak ke Singapura melalui Bandara Soekarno-Hatta, Banten, pada 6 Januari 2020. Belakangan, beredar rekaman kamera pengawas Bandara Soekarno-Hatta yang menunjukkan Harun kembali tiba di Indonesia keesokan harinya. 

Namun pihak Imigrasi baru mengumumkan bahwa Harun telah kembali ke Indonesia pada 22 Januari 2020. Sebelum itu, Yasonna dan pihak Imigrasi menyebut Harun masih berada di luar negeri dan belum kembali memasuki wilayah Indonesia.

Berita Lainnya