Remisi, tak sekadar kado indah narapidana

Remisi ribuan narapidana saat Lebaran, tak hanya jadi kado bagi tahanan yang berkelakuan baik, tapi bisa memangkas biaya hingga Rp32 miliar.

Remisi, tak sekadar kado indah narapidana Ilustrasi narapidana yang menjalani hukuman penjara di lapas./ Pixabay.

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM menyatakan, pemberian Remisi Khusus (RK) Idul Fitri 1439 Hijriah akan menghemat anggaran biaya makan narapidana lebih dari Rp32 miliar.

"Biaya makan narapidana yang dihemat Rp32.417.910.000, yakni biaya makan per orang per hari sebesar Rp14.700 dikalikan 2.205.300 hari tinggal yang dihemat karena remisi," kata Dirjen Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami, dalam siaran persnya di Jakarta, Minggu (10/6) lalu.

Dalam momentum tersebut, sejumlah 80.430 narapidana beragama Islam mendapat remisi. Sebanyak 446 napi di antaranya langsung bebas, sisanya 79.984 orang masih harus menjalani sisa pidana usai diganjar pemotongan masa hukuman.

Ihwal pengaturan pemberian remisi, tercantum dalam UU Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan, serta Keputusan Presiden Nomor 174 Tahun 1999 tentang Remisi.

Khusus untuk remisi Idul Fitri, menurut aturan tersebut, diberikan kepada narapidana beragama Islam yang telah memenuhi persyaratan administratif dan substantif, antara lain telah menjalani pidana minimal enam bulan, tidak terdaftar pada register pelanggaran disiplin narapidana, serta aktif mengikuti program pembinaan di lapas.

Saat ini napi dan tahanan yang menghuni lapas dan rutan berkisar 250 ribu orang, sedangkan kapasitas atau daya tampung yang tersedia hanya untuk 124 ribu orang.

"Remisi ini paling tidak dapat mengurangi kelebihan daya tampung, karena napi dapat lebih cepat bebas dengan pengurangan masa menjalani pidana, sekaligus menghemat anggaran negara ," ujar Sri Puguh.

Remisi yang diberikan, imbuhnya, diharapkan dapat memotivasi narapidana lain, agar mencapai penyadaran diri untuk terus berbuat baik, selama menjalani hukuman bui. Selain itu, pemberian remisi digadang-gadang, juga jadi salah satu wujud negara hadir, di bidang hukum.

Direktur Pembinaan Napi, Latihan Kerja, dan Produksi Harun Sulianto, mengatakan besaran remisi yang diberikan mulai dari 15 hari, sampai dengan dua bulan, tergantung masa pidana yang telah dijalani.

Tahun ini yang terbanyak adalah penerima remisi satu bulan (51.775 napi), disusul 15 hari (21.399 napi). Kemudian satu bulan 15 hari (6.125 napi) dan terahir remisi dua bulan hanya untuk 1.131 napi saja.

Sementara, dari lima kanwil Kemenkumham terbanyak penerima remisi, kata Harun, adalah Jawa Barat (8.654 napi), Jawa Timur (6.947), Sumatera Selatan (6.228), Sumatera Utara (5.780), Jawa Tengah (5.717), dan Kalimantan Timur (4.773). 


Berita Terkait