sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Risiko kematian akibat Covid-19 menghantui anak-anak

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengungkap, angka kematian anak yang terinfeksi Covid-19 di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara, yakni mencap

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Jumat, 02 Apr 2021 06:26 WIB
Risiko kematian akibat Covid-19 menghantui anak-anak
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Awal Februari 2021, Bani Qoryati dihinggapi rasa khawatir. Anak perempuannya yang baru berusia dua tahun, ikut tertular SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, setelah beberapa hari ia terinfeksi. Bani yang terlebih dahulu dibawa ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat berinisiatif membawa anaknya itu isolasi di sana.

“Akhirnya anak aku dirujuk juga ke Wisma Atlet, setelah ketahuan positif. Diurus sama puskesmas setempat atas permintaanku,” kata Bani saat dihubungi reporter Alinea.id, Selasa (30/3).

Anaknya diantar sang suami ke Wisma Atlet. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai analis di salah satu laboratorium kesehatan ini kemudian mengurus anaknya di Wisma Atlet. Ketika mengurus anaknya di Wisma Atlet, dirinya merasa khawatir dengan kondisi buah hatinya.

“Ujiannya lebih ke mental. Saya jadi sering sedih. Jadi lebih khawatir,” ujarnya.

Namun, ia merasa beruntung anaknya tak punya penyakit penyerta dan memiliki imunitas yang cukup baik, sehingga bisa sembuh tanpa mengalami kondisi kritis. Setelah menjalani perawatan selama 10 hari, anaknya dinyatakan negatif dan bisa pulang.

Kasus Covid-19 pada anak tinggi

Siswa menjalani pemeriksaan suhu tubuh sebelum memasuki lingkungan Jakarta Nanyang School, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (4/3/2020)/Foto Antara/Fauzan.

Bani adalah satu dari banyak ibu di Indonesia yang cemas karena anaknya terpapar virus. Kondisi anak yang terinfeksi Covid-19 tak bisa dianggap remeh.

Sponsored

Beberapa waktu lalu Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengungkap, angka kematian anak yang terinfeksi Covid-19 di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara, yakni mencapai 1,7%.

Bahkan, dalam rapat virtual bersama Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) pada Kamis (4/2), Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan menyebut, kasus kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia tertinggi se-Asia Pasifik. Dalam rapat tersebut, Aman mengatakan, setiap minggu kasusnya masih tinggi, antara 8% hingga 9%.

Awal Januari 2021, melalui siaran pers di kanal YouTube Sekretariat Presiden, juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito pun mengungkap, kelompok anak usia sekolah menyumbang 8,87% atau dari total kasus Covid-19 nasional.

Hingga 5 Januari 2021, kata Wiku, sebanyak 59.776 anak usia sekolah terinfeksi Covid-19. Anak usia 7-12 tahun paling banyak menyumbang kasus Covid-19, sebesar 17.815 atau setara 29,8%. Diikuti anak usia 16-18 tahun, sebanyak 13.854 atau setara 23,17%.

Provinsi Jawa Timur menyumbang kematian akibat Covid-19 pada anak terbesar, mulai dari rentang usia 3-6 tahun (4,6%), 7-12 tahun (4,6%), 13-15 tahun (4,96%), dan 16-18 tahun (4,62%). Sementara kematian anak usia 0-2 tahun akibat Covid-19 paling besar ada di Sulawesi Utara, yakni 6,78%.

Reporter Alinea.id sudah berusaha menghubungi Ketua Umum IDI Daeng Mohammad Faqih, Ketua Umum IDAI Aman Bhakti Pulungan, Ketua Satgas Covid-19 IDAI Yogi Prawira, dan juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito untuk mengonfirmasi terkait data yang mereka sebutkan. Namun, hingga artikel ini terbit, keempatnya belum merespons.

Meski demikian, juru bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Wiweko memandang, data yang disampaikan IDI maupun IDAI tentang kematian anak di Indonesia akibat Covid-19 tak sepenuhnya tepat.

“Kalau melihat data kami itu kurang dari 1% pada anak. Malah angkanya untuk anak di bawah 18 tahun itu hanya 1,5% yang meninggal,” kata Nadia saat dihubungi, Selasa (30/3).

Ia pun mengatakan, Kemenkes tak sepakat dengan data yang dipaparkan Wiku mengenai angka kematian anak akibat Covid-19 di beberapa provinsi. “Anak-anak itu betul-betul kami jaga. Makanya, kita sarankan pembelajaran jarak jauh,” tuturnya.

Seiring waktu, Nadia menyebut, pembelajaran jarak jauh sudah tak efektif bagi siswa. Maka, pemerintah perlu membuka pembelajaran tatap muka, dengan catatan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Pemerintah berencana membuka pembelajaran tatap muka secara terbatas pada Juli 2021. Hal itu sesuai arahan surat keputusan bersama (SKB) empat menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Menteri Kesehatan (Menkes), Menteri Agama (Menag), dan Menteri dalam Negeri (Mendagri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19.

Risiko kematian pada anak

Petugas medis menyiapkan fasilitas baru untuk pasien anak yang terinfeksi Covid-19 di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (30/4/2020). Foto Antara/Aditya Pradana Putra.

Sementara itu, epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Windhu Purnomo membenarkan jika anak-anak di Indonesia memiliki risiko kematian yang lebih tinggi akibat Covid-19. Bahkan, ia menyebut, risiko kematiannya bisa mencapai 10 kali lebih tinggi dibandingkan negara lain, seperti Amerika Serikat atau China.

“Kenapa? Karena anak-anak di Indonesia gizinya kurang baik dibandingkan Amerika Serikat, China, atau negara Asia Tenggara lainnya,” ucap Windhu ketika dihubungi, Selasa (30/3).

Problem gizi buruk ini dinilai Windhu membuat anak-anak rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk Covid-19. “Di negeri kita itu banyak stunting dan malnutrisi,” katanya.

Belum lagi anak-anak harus menghadapi penyakit infeksius yang tergolong banyak di Indonesia, selain Covid-19. Kondisi ini diperparah dengan penanganan kesehatan ibu hamil yang belum begitu baik. Menurut Windhu, ibu hamil di Indonesia memiliki tingkat kematian yang tinggi. Kesehatannya pun masih rendah.

“Artinya, anak yang akan dilahirkan itu kondisi kesehatannya kurang baik dibandingkan negara lain. Makanya, kalau dia tertular Covid-19, risiko meninggal lebih tinggi,” ucap Windhu.

Namun, Nadia mengatakan, Kemenkes sudah berupaya mencegah munculnya kasus gizi buruk dan penyakit infeksius pada anak-anak melalui program rutin kementerian.

“Selama ini tetap berjalan itu program tuberkolosis, orang dengan HIV, cacingan, mencegah stunting. Termasuk program permasalahan gizi,” kata dia.

Akan tetapi, Nadia mengakui bila program-program rutin Kemenkes itu tak bisa berjalan optimal sejak pandemi Covid-19 karena terkendala pembatasan sosial demi mencegah penularan. Masalah ada pada kegiatan yang aktif di masyarakat, seperti mendeteksi stunting atau anak-anak yang membutuhkan perawatan khusus.

“Tapi kami melakukan,” tutur Nadia.

Di sisi lain, ujar Nadia, sejauh ini Kemenkes belum melihat ada lonjakan kasus Covid-19 yang tinggi pada anak-anak. Sehingga, Kemenkes dirasa belum perlu menambah ruang intensive care unit (ICU) khusus anak.

Nadia mengatakan, sejauh ini Kemenkes terus memantau kasus Covid-19 di kalangan anak-anak, agar tak kecolongan saat terjadi lonjakan angka kasus infeksi dan kematian. “Pasti kita melakukan penambahan-penambahan untuk mengatasi itu. Termasuk ICU di pelayanan kesehatan,” kata Nadia.

Berbeda dengan Nadia, Windhu justru khawatir jika sekolah dibuka bakal membuat ruang ICU khusus anak di rumah sakit kolaps. Ia mengatakan, ruang ICU khusus anak terbilang sedikit di rumah sakit.

Oleh sebab itu, Windhu berpandangan pemerintah jangan terburu-buru mengizinkan pembelajaran tatap muka. Ia menuturkan, kendati imunitas anak-anak lebih kuat, tetapi mereka berisiko menjadi penular dan berpotensi memicu timbulnya klaster keluarga.

Infografik Alinea.id/Bagus Priyo.

"Dia bisa saja tertular, tapi enggak sakit. Namun, dia membawa virusnya pulang ke rumah, di mana di rumah ada orang yang lebih tua," ujar Windhu.

Demi mencegah penularan, Nadia mewanti-wanti orang tua agar tak sembarangan membiarkan anak-anaknya tak mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Nadia melihat, sekarang ini banyak orang tua yang tak peduli terhadap protokol kesehatan bagi anak-anaknya.

“Orang tua mungkin sudah lelah dengan situasi ini. Padahal, peran orang tua dalam melindungi anak itu sangat penting,” ucapnya.

Lebih lanjut, Windhu mengingatkan pemerintah agar tak menganggap enteng kasus Covid-19 di kalangan anak-anak. "Memang anak-anak itu imunnya lebih kuat dibanding orang tua,” katanya. “Tapi ada masalah lain, yaitu gizi buruk, penyakit penyerta, dan masalah ibu hamil.”

Berita Lainnya