sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Wali Kota Jakarta Utara bantah ada penolakan warga Sunter yang digusur

Pemprov DKI sebut tidak ada warga yang menuntut pekerjaan meskipun telah digusur.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Senin, 18 Nov 2019 16:54 WIB
Wali Kota Jakarta Utara bantah ada penolakan warga Sunter yang digusur

Penataan kawasan di Jalan Agung Perkasa 8, Kelurahan Sunter Jaya dan Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok pada Kamis lalu (14/11) berujung bentrok antara kelompok yang menolak penggusuran dengan petugas Satpol PP. 

Warga yang digusur mengaku sebagai pendukung Anies Baswedan saat Pilgub DKI 2017 dan menagih janji sang Gubernur. Wali Kota Jakarta Utara Sigit Wijatmoko angkat suara atas kejadian tersebut. 

Sigit menegaskan, mereka yang menolak digusur tidak mengikuti pemilihan kepala daerah di Jakarta. 

"Cek saja, di daftar pemilih sementara maupun daftar pemilih tetap, mereka ada tidak. Mereka tidak pemilu dan tidak terdaftar di TPS dan DPT kok," ujar Sigit pada Senin (18/11) di Balai Kota DKI Jakarta.

Sigit menyebut mereka yang menolak adalah pendamping warga setempat, bukan warga Sunter yang kena penggusuran. Hanya disebut sebagai pendamping warga.

Saat ini kata Sigit, warga yang terdampak penataan kawasan di Jalan Agung Perkasa 8, Kelurahan Sunter Jaya dan Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok telah kembali ke tempat asal masing-masing. Sebab, banyak bangunan yang digusur juga bukan pemukiman, melainkan tempat usaha.

Pemprov DKI disebut Sigit telah menawarkan rumah susun di Marunda kepada warga sebagai pengganti tempat tinggal. Namun, hingga kini warga enggan mendaftar karena yang digusur bukanlah tempat tinggal mereka.

"Itu dominan kan tempat usaha, berupa lapak barang bekas. Meski sudah kita tawarkan untuk rumah susun Marunda, mereka pada umumnya kembali ke tempat tinggal ada di Penggilingan, ada juga di Kebon Bawang, dan Tanah Abang," kata Sigit.

Sponsored

Selain itu Sigit mengaku, tidak ada warga yang menuntut meminta pekerjaan usai penggusuran tersebut. Ia juga membantah terjadi kericuhan saat penggusuran terjadi. Sebab, penggusuran sudah disosialisasikan sejak dua bulan lalu dan semua warga sudah mengetahui.

"Damai, saat ini pun damai. Itu sudah dilakukan dua bulan lebih dengan warga, semua sepengetahuan warga. Bahkan proses pembongkaran itu kita hanya membantu. Itu dilakukan sendiri oleh mereka," kata Sigit.