sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

RUU Cipta Kerja mengancam kedaulatan perempuan

Perempuan berhadapan dengan relasi kuasa yang timpang dalam RUU Cipta Kerja.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Rabu, 22 Jul 2020 15:28 WIB
RUU Cipta Kerja mengancam kedaulatan perempuan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 389.712
Dirawat 62.649
Meninggal 13.299
Sembuh 313.764

Pelaksanaan analisis dampak lingkungan (amdal) berspektif gender akan sulit diwujudkan dengan disahkannya Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Cipker). Draf itu justru bakal merampas tanah, sumber-sumber kehidupan perempuan, serta menghilangkan pengetahuan dan sistem pengelolaan lingkungan yang selama ini dilestarikan.

"Sehingga, kedaulatan perempuan juga menjadi hilang," ucap Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan (SP), Dinda Nuurannisaa Yura, dalam keterangan tertulis kepada Alinea.id, Rabu (22/7).

Dirinya menyatakan demikian lantaran amdal dan kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) bukan semata instrumen administrasi. Namun, mekanisme yang memungkinkan masyarakat memberikan pendapat serta berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait wilayah kelolanya. "Termasuk menolak suatu proyek yang tidak memiliki amdal."

Dinda mengakui, pelaksanaan amdal masih lemah, khususnya partisipasi perempuan. Sehingga, yang mestinya dilakukan adalah penguatan dengan memastikan situasi spesifik perempuan serta akses, kontrol, partisipasi, dan manfaat bagi perempuan sesuai komitmen Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) pada 2018.

Sponsored

Dia melanjutkan, RUU Cipker pun menganggap perempuan tidak penting. Pangkalnya, bakal menghilangkan hak cuti haid dan keguguran.

"Identitas perempuan yang tidak tunggal menjadikan perempuan mengalami lapisan demi lapisan ketidakadilan yang akan dihasilkan oleh RUU Cipta Kerja ini. Perempuan berhadapan dengan relasi kuasa yang timpang, tidak hanya relasi kuasa antara negara dan warga negara maupun investor dengan masyarakat, tetapi juga antara perempuan dan laki-laki, bahkan di dalam masyarakat atau komunitas itu sendiri," paparnya.

"Pada akhirnya," imbuh Dinda, "RUU Cipta Kerja akan merampas kedaulatan perempuan serta memperkuat ketidakadilan dan kekerasan terhadap perempuan."

Berita Lainnya