logo alinea.id logo alinea.id

Saling tuding konspirasi Habib Rizieq versus BIN

Kasus pemasangan bendera tauhid berwarna hitam yang diduga panji Ar-rayah simbol militansi ISIS di rumah Rizieq Shihab belum reda.

Dimeitri Marilyn
Dimeitri Marilyn Jumat, 09 Nov 2018 21:01 WIB
Saling tuding konspirasi Habib Rizieq versus BIN

Efek domino kasus pemasangan bendera tauhid berwarna hitam yang diduga panji Ar-rayah simbol militansi ISIS di rumah Rizieq Shihab belum mereda. Kasus ini pun semakin hari, semakin menjadi bola liar tak bertuan. 

Hal ini lantaran tudingan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) yang merasa ada konspirasi tingkat tinggi dalam kasus penangkapan Rizieq Syihab pada Senin (5/11) dan Selasa (6/11) di Makkah, Arab Saudi. Termasuk penahanan Rizieq selama 28 jam oleh Mabahis Aamah atau intelijen umum Makkah.

Padahal, Rizieq memastikan bahwa sebagai tuan rumah di tempat tinggalnya di Makkah, dia tidak mengetahui keberadaan bendera tersebut. Rizieq baru mengetahui bendera itu saat kepolisian Kerajaan Arab Saudi dan Intel Pol Makkah mendatanginya pada Senin pekan ini pukul 16.00 waktu setempat.

"Yang jelas sampai saat ini pasti ada permainan intelijen di dalamnya. Karena ini konspirasi tingkat tinggi. Karena semuanya tersusun rapi," ucap Kuasa Hukum FPI Sugito Atmo Prawiro kepada Alinea.id, Kamis (8/11) malam singkat.

Pernyataan Sugito tersebut jauh lebih gamblang dibandingkan pernyataan dia sebelumnya. Saat itu, Sugito memaparkan bahwa ada keganjilan dari peristiwa ini karena mudahnya pembicaraan kekonsuleran antara Indonesia dengan Arab Saudi. 

Termasuk pelaporan bendera di dinding belakang rumah Rizieq Syihab dari tetangganya berupa foto yang dibuat sangat rapi sampai terdengar ke telinga intelpol Arab Saudi.

"Saya duga ini ganjil karena semua terstruktur. Terbukti ada yang merekam bendera tersebut, memfotonya dan melaporkan ini ke pihak intelpol Mekah. Jadi saya pikir ini ter- setting rapi," ujar Sugito sehari sebelumnya.

Apalagi dari laman resmi twitter @IB_HRS menyatakan bahwa BIN telah menyewa rumah di sekitar kediaman Rizieq memantau kegiatan Rizieq sebelum penangkapannya awal pekan ini. 

Sponsored

Tudingan Rizieq ini beralasan karena dia menduga BIN mau melakukan pengamanan jelang gerakan alumnus 212 di gelar pada Desember mendatang.

Mohammad Rizieq Syihab diperiksa kepolisan Arab Saudi (Facebook).

BIN bantah intervensi

Tak ingin terbawa arus kasus bendera Rizieq, Badan Intelijen Negara (BIN) pun buka suara. Melalui Juru Bicara Kepala BIN Wawan Hari Purwanto menegaskan bahwa BIN tidak terlibat  penangkapan Habib Rizieq Syihab di Arab Saudi.

BIN merasa keberatan dengan beberapa cuitan Habib Rizieq di akun @IB_HRS yang menilai sudah sejak lama dipantau oleh BIN. Sampai kasus pemasangan bendera tauhid berwarna hitam yang identik dengan simbol gerakan militan Negara Islam Irak dan Suriah (the Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) terjadi.

"Tuduhan BIN mengganggu HRS tidak benar. Apalagi menuduh bahwa anggota BIN mengontrak rumah di dekat kontrakan HRS, memasang bendera maupun mengambil CCTV. Semua hanya pandangan sepihak," kata Juru Bicara Kepala BIN Wawan Hari Purwanto dari keterangan resmi.

Wawan menilai tudingan Rizieq tersebut tidak mendasar karena mengkambinghitamkan BIN di masalah tersebut. Apalagi, dari sekian banyak tudingan Rizieq tak satupun menyertakan bukti forensik menguatkan asumsinya itu.

"Tuduhan pemasangan bendera Tauhid di tembok juga tidak ada bukti bahwa yang memasang adalah BIN, apalagi memfoto kemudian lapor ke Polisi Saudi," ujar Wawan.

Masih kata Wawan, BIN justru menghendaki sebaliknya. BIN berharap agar masalah cepat selesai dan tuntas, sehingga tidak berkepanjangan dan berakibat pada berkembangnya masalah baru Rizieq di luar negeri. Di mana sistem hukum dan pemerintahannya Kerajaan Arab Saudi tentu berbeda dengan aturan KUHP yang berkiblat kepada hukum Belanda dan Eropa.

Dalam rilisnya, Wawan pun meyakini bahwa BIN tidak pernah menganggap Habib Rizieq Shihab ulama nomor wahid di FPI sebagai musuh. "Tidak benar jika ada anggapan bahwa HRS adalah musuh, semua adalah anak bangsa yang masing-masing memiliki pemikiran yang demokratis yang wajib dilindungi. Jika ada sesuatu yang kurang pas wajib diingatkan," ujar Wawan.

Sekali lagi, mantan pengamat intelijen ini beranggapan bahwa hubungan Indonesia dengan Arab Saudi hanya sebatas hubungan bilateral kenegaraan saja. Namun, untuk kebijakan kewenangan bernegara dan aturan kejahatan dan teritorial negara Indonesia tidak punya kuasa atas hal tersebut.

"Saudi adalah negara berdaulat yang tidak bisa diintervensi oleh Indonesia. Operasi intelijen di negara lain adalah dilarang. Mereka bisa di-persona non grata atau dideportasi atau bahkan dijatuhi hukuman sesuai dengan UU yang berlaku di negeri itu," tutup Wawan.

Ikhwal kasus ini bermula dari keterangan resmi Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengirimkan rilis resmi terkait penangakapan Rizieq oleh kepolisian Arab Saudi. Keterangan itu pun terkonfirmasi dari beberapa cuitan Habib Rizieq di laman twitternya. 

Saat itu, Menurut Dubes, tempat tinggal Rizieq didatangi oleh pihak kepolisian Makkah pada 5 November 2018 sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Sore harinya pukul 16.00 Rizieq dijemput oleh aparat keamanan lalu dibawa ke kantor polisi untuk proses penyelidikan dan penyidikan.

Rizieq ditahan oleh pihak kepolisian wilayah Makkah. Setelah selesai menjalani pemeriksaan di Kantor Mabahis`Aamah atau intelijen umum, Rizieq diserahkan kepada Kepolisian Sektor Mansyuriah Kota Makkah pada hari Selasa (6/11) sekitar pukul 16.00 waktu setempat.

Sampai pada malam harinya pukul 20.00, dengan didampingi staf KJRI Jeddah, Rizieq dikeluarkan dari tahanan kepolisian Makkah dengan jaminan.