logo alinea.id logo alinea.id

Sepanjang 5 bulan, Densus 88 menangkap 68 teroris JAD

Dari jumlah teroris yang ditangkap, delapan orang di antaranya tewas.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Jumat, 17 Mei 2019 15:18 WIB
Sepanjang 5 bulan, Densus 88 menangkap 68 teroris JAD

Sepanjang lima bulan terakhir atau dari Januari sampai Mei 2019, tim Detasemen Khusus atau Densus 88 telah menangkap 68 terduga teroris. Mereka yang ditangkap diketahui berasal dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen M. Iqbal, mengungkapkan dari 68 terduga teroris tersebut, delapan di antaranya telah meninggal dunia. Adapun rinciannya, sebayak tujuh terduga teroris tewas saat operasi penangkapan. Lalu satu sisanya meledakkan diri. 

“Delapan meninggal dunia. Dari delapan itu, satu tersangka meledakkan diri di Sibolga, tujuh tersangka dari Januari meninggal setelah dilakukan tindakan tegas karena mengancam nyawa petugas,” kata Iqbal di Jakarta pada Jumat (17/5).

Lebih lanjut, Iqbal merinci di Januari Densus 88 menangkap sebanyak empat orang terduga teroris. Kemudian pada Februari satu orang, Maret 20 orang, April 14 orang, dan 29 orang ditangkap pada Mei. Hingga saat ini, Densus 88 masih melakukan pengejaran terhadap jaringan teroris lainnya.

Iqbal menjelaskan, dua terduga teroris yang ditangkap pada Mei 2019 merupakan pihak yang sempat dideportasi dari Suriah ke Indonesia. Dua orang tersebut diketahui pernah belajar merakit bom di Camp Aleppo Suriah, Timur Tengah.

“Dari 11 tersangka yang ditangkap terakhir, sembilan di antaranya anggota JAD aktif yang pernah mengikuti pelatihan paramiliter di dalam negeri dan berangkat ke Suriah,” ucap Iqbal. 

“Kemudian, dua lainnya juga merupakan deportan yang sempat hijrah ke Suriah dan belajar merakit bom di Camp Aleppo Suriah.”

Adapun 11 tersangka yang ditangkap terakhir itu merupakan jaringan JAD Jawa Tengah. Mereka diakui sebagai kelompok yang membahayakan karena memiliki pengalaman di Suriah tersebut. Bahkan, mereka cukup lihai dalam menggunakan senjata api.

Sponsored

Lebih lanjut, Iqbal mengatakan, tujuh terduga teroris yang ditangkap di Jawa Tengah pada Selasa (14/5) dan pernah ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok ISIS oleh pihak Densus 88 telah lama dipantau.

"Kami memiliki data tersebut, siapa yang sudah berangkat ke Suriah, siapa yang terafiliasi di kelompok Filipina dan sebagainya," ujar Iqbal.

Iqbal menjelaskan, Densus 88 tidak bekerja seperti Korps Brigade Mobil (Brimob) yang biasa dimintai bantuan saat melakukan penangkapan terhadap terduga teroris dan menjinakkan bom di lapangan.

Densus 88 disebutnya bekerja melalui upaya-upaya intelijen, pemetaan hingga pengejaran saat data terkumpul semua terkait aliran serta jaringan.

Iqbal menambahkan, dalam penanganannya pun Densus 88 tidak selalu menggunakan pendekatan koersif berupa paksaan dan kekerasan, tetapi juga melalui pendekatan deradikalisasi kepada para terduga teroris.

Saat ditanya jumlah WNI yang kembali ke Tanah Air usai bergabung dengan ISIS di Suriah, Iqbal tak menjelaskannya lebih rinci. Namun, ia memastikan beberapa di antaranya berhasil mengikuti program deradikalisasi.

“Sepanjang mereka betul-betul ingin NKRI kami terbuka, tetapi, kita juga harus cerdas, kita lihat dulu latar belakang dan profilnya, motifnya dan lain lain,” ucap dia.