sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sidang isbat awal Ramadan digelar secara daring

Sidang isbat Ramadan digelar melalui video konferensi mencegah Covid-19.

Fathor Rasi
Fathor Rasi Minggu, 05 Apr 2020 17:39 WIB
Sidang isbat awal Ramadan digelar secara daring
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 27549
Dirawat 17951
Meninggal 1663
Sembuh 7935

Sidang isbat (penetapan) awal Ramadan 1441 Hijriah akan digerlar melalui video konferensi atau sambungan komunikasi jarak jauh, Kamis (23/4/2020).

Hal ini merupakan upaya Kementerian Agama (Kemenag) untuk mencegah penyebaran virus corona penyebab Covid-19.

"Sidang isbat awal Ramadan akan kita gelar dengan kehadiran peserta yang terbatas, selebihnya secara video konferensi," kata Direktur Jenderal Pembinaan Masyarakat Islam Kemenag, Kamaruddin Amin via siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (5/4).

Sidang isbat secara daring tersebut, kata Kaharuddin, akan digelar terbatas yakni akan dihadiri perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), perwakilan DPR, dan perwakilan Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama Cecep Nurwendaya.

Dari pejabat eselon I dan II, yang diundang hanya dari Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat Islam saja, sementara undangan lainnya bisa mengikuti melalui saluran komunikasi daring yang akan disiapkan Kemenag.

"Sidang akan dimulai sebelum magrib, diawali paparan posisi hilal awal Ramadan 1441 H oleh Cecep Nurwendaya," ucapnya.

Selepas maghrib di Jakarta, sidang penetapan awal Ramadan akan digelar tertutup, dan hasilnya akan diumumkan Menteri Agama Fachrul Razi melalui jumpa pers.

"Kamaruddin mengatakan pihaknya juga sedang mengkaji kemungkinan jumpa pers juga dilakukan melalui video konferensi sehingga media juga bisa mengikuti dari kantornya masing-masing," pungkasnya.

Sponsored

Sebelumnya, Badan Intelijen Negara (BIN) memprediksi puncak penyebaran coronavirus secara luas (outbreak) di Indonesia berlangsung pada Mei 2020, tepatnya Ramadan 1441 Hijriah.

"Kita memperkirakan bahwa masa puncak di Indonesia itu akan berlaku 60 hari sampai 80 hari sejak infeksi pertama itu diumumkan tanggal 2 Maret. Jadi kalau kita hitung-hitung, masa puncak itu mungkin jatuhnya di bulan Mei. Berdasarkan permodelan ini, bulan puasa," kata Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) Bidang Intelijen Teknologi, Mayjen TNI Afini Boer dalam diskusi bertajuk Bersatu Melawan Corona, di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Jumat (13/3).

Simulasi BIN tersebut berdasarkan permodelan yang dilakukan China dan beberapa negara Eropa. Di Negeri Tirai Bambu, puncak penyebaran Covid-19 ditetapkan 60 hari, sementara negara Eropa 130 hari.

Dikatakan Afini, dalam membuat simulasi ini BIN tidak berdiri sendiri. Mereka menggandeng stakeholder lain, namun Afini tidak menyebutkannya.

"China tadi masa puncaknya 60 hari. Sementara kalau di Inggris mereka membuat permodelan ini mereka memperkirakan 130 hari masa puncak tadi. Kalau di Inggris ini permodelannya beda lagi, ada faktor-faktor asimtomatik (tanpa gejala)," jelas dia.

Lebih jauh, Arfini mengatakan, masih ada tantangan pemerintah dalam menangani penyebaran Covid-19, yakni masih adanya faktor asimtomatik dimana masyarakat tidak menyadari dirinya telah positif terpapar Covid-19. (Ant)

Berita Lainnya