sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Soal penutupan toko ritel, Darmin: Dunia sedang berubah

Cara belanja secara elektronik mengubah pola masyarakat.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Sabtu, 19 Jan 2019 07:20 WIB
Soal penutupan toko ritel, Darmin: Dunia sedang berubah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, menilai bahwa penutupan beberapa toko ritel besar terjadi karena saat ini ada perubahan pola belanja masyarakat, dari semula langsung ke cara elektronik.

“Kalau soal ritel, karena dunia sedang berubah,” kata Darmin di Jakarta.

Cara belanja secara elektronik tersebut, kata Darmin, telah mengubah pola masyarakat, sehingga ritel yang tidak mampu beradaptasi harus melakukan sejumlah penyesuaian termasuk di antaranya menutup toko.

“Ini memang mengubah konstalasi, jadi mesti ada yang tersingkir ya,” ujar Darmin.

Sebelumnya, beberapa ritel besar seperti PT Hero Supermarket maupun PT Central Retail Indonesia harus menutup sejumlah toko karena ada pergeseran minat maupun tren belanja masyarakat.

Sementara itu, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, menilai penutupan sejumlah toko ritel besar di Indonesia disebabkan karena kondisi yang tidak mampu bersaing. Bukan karena pasarnya melemah. 

"Soal banyak toko tutup, itu bukan karena pasarnya (melemah), tapi tokonya yang tidak bisa bersaing," kata Aviliani.

Karena Indonesia diklaim memiliki bonus demografi cukup besar, seharusnya tidak mengalami penurunan daya beli. Peningkatan kelas menengah di Tanah Air dapat mendorong tingkat konsumsi masyarakat.

Sponsored

Selain itu, ia menyebutkan penutupan ritel bisa saja disebabkan oleh faktor internal perusahaan karena di sisi lain masih banyak perusahaan lain yang justru terus berekspansi dan tidak ada persoalan daya beli.

"Ada yang ekspansi, ada yang tutup. Berarti ada perusahaan yang tidak bisa 'survive' (bertahan). Pasarnya tidak turun," ujarnya.

Karena itu, Aviliani menekankan perlunya inovasi dan kreativitas ritel untuk menggaet konsumen. Ini dibutuhkan agar toko ritel bisa bertahan di era daring seperti saat ini.

"Perusahaan yang tidak berekosistem juga akan bisa mati karena orang sekarang maunya 'satu untuk semua'. Tidak perlu ekosistem dalam satu grup, tapi bisa kerja sama dengan perusahaan lain," kata Aviliani.

Menurutnya, walau pengalaman belanja daring sedikit mempengaruhi pola konsumsi masyarakat, tapi faktor tersebut tidak signifikan. Pola daring itu, lanjut dia, justru harus diperhatikan demi mendukung perkembangan bisnis ke depan.

"Satu lagi, perusahaan yang tidak berekosistem juga akan bisa mati karena orang sekarang maunya 'satu untuk semua'. Tidak perlu ekosistem dalam satu grup, tapi bisa kerja sama dengan perusahaan lain," ujar Aviliani. (Ant)