sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Survei: Hanya 35% pekerja laksanakan WFH di DKI Jakarta

LaporCovid-19 bersama Social Resilience Lab NTU Singapura lakukan survei PSBB DKI Jakarta.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Jumat, 18 Sep 2020 08:00 WIB
Survei: Hanya 35% pekerja laksanakan WFH di DKI Jakarta
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 392.934
Dirawat 61.851
Meninggal 13.411
Sembuh 317.672

LaporCovid-19 bersama Social Resilience Lab Nanyang Technological University (NTU) Singapura menggelar survei kondisi psikososial masyarakat DKI Jakarta ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kedua diberlakukan sejak Senin (14/9/2020).

Hasilnya, secara keseluruhan, warga DKI Jakarta semakin sadar terhadap bahaya pandemi Covid-19 dibandingkan tiga bulan lalu. Kesadaran warga DKI Jakarta semakin tinggi karena banyak orang yang dikenal responden terpapar Covid-19.

Temuan lainnya adalah sebanyak 24% warga DKI Jakarta mengalami perubahan status pekerjaan selama masa pandemi. Dari mereka yang kehilangan pekerjaan dan banting setir menjadi wirausaha, hingga yang harus menerima konsekuensi pemotongan gaji.

Terkait anjuran bekerja dari rumah atau work from home (WFH), LaporCovid-19 bersama Social Resilience Lab NTU Singapura juga menemukan hanya 35% yang menjalankannya.

Sedangkan sebanyak 26% melaksanakan anjuran WFH untuk sebagian pekerjaannya, dan sebesar 20% responden terpaksa bekerja di luar rumah karena mata pencaharian mengharuskannya.

Disisi lain, sebanyak 17% responden mengaku hanya sesekali dapat melakukan WFH. Sisanya, 2% responden tidak diperbolehkan untuk WFH oleh pembuat kebijakan di tempat kerjanya.

“Hasil survei ini adalah bahwa masyarakat DKI Jakarta berada dalam suasana psikososial yang kondusif untuk mendukung penerapan PSBB. Dan, itu artinya warga DKI memiliki tingkat kepatuhan yang baik dan mampu bertahan secara psikososial sekali pun kebijakan PSBB tambah ketat,” ujar sosiolog bencana sekaligus Asociate Professor NTU, Sulfikar Amir dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9).

Hasil survei menunjukkan bahwa dukungan publik terhadap kebijakan pemerintah cukup tinggi. Skor untuk variable ini mencapai 6.96.

Sponsored

“Dari semua temuan ini, kami menyimpulkan bahwa penerimaan masyarakat DKI Jakarta terhadap PSBB 2.0 cukup tinggi dan kepercayaan publik terhadap pemerintah DKI kuat,” ucapnya.

Survei dilakukan secara online dari tanggal 11 September hingga 14 September 2020 dengan metode Quota Sampling berdasarkan variable penduduk per kelurahan.

Penyebaran survei menggunakan aplikasi pesan instan (WhatsApp) kepada warga DKI Jakarta melalu jejaring LaporCovid-19 dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Survei berhasil menggaet 82.655 responden yang tersebar secara merata di seluruh wilayah DKI Jakarta. Pengelolaan data survei ini menggunakan metode statistik deskriptif, analisas Spearman Rho dan mapping Covid Mood.

Covid Mood merupakan metode riset kuantitatif untuk menganalisis emosional warga dengan menggunakan semantic differential scale. Kepuasan publik terhadap kebijakan pemerintah dan kebahagiaan publik terhadap situasi sosial-ekonomi menjadi dua variabel yang diukur.

Diketahui, sebesar 65,38% responden berjenis kelamin perempuan, dengan rentang usia terbanyak 36-45 tahun atau 33,35%. Disusul kemudian, responden usia 46-55 tahun atau 28,64%. Dari segi pekerjaan, ibu rumah tangga merupakan responden terbanyak atau 48,02%.

Berita Lainnya