sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tangis Ibu bocah korban 'sembako maut Monas' pada Jokowi

Komariah tak kuasa menahan tangis. Dia adalah Ibu korban bocah yang tewas pada pembagian sembako di Monas, Jakarta.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Rabu, 02 Mei 2018 22:38 WIB
Tangis Ibu bocah korban 'sembako maut Monas' pada Jokowi

Komariah tak kuasa menahan tangis. Dia adalah Ibu korban bocah yang tewas pada pembagian sembako di Monas, Jakarta.

Berkerudung ungu, tangis Komariah pecah. Kerut wajahnya tak dapat menyembunyikan kesedihan mendalam akibat kehilangan anak laki-laki kesayangan.

"Pak Presiden Jokowi, tolong saya. Saya orang kecil, anak saya meninggal," tuturnya lirih sembari terisak.

Dia tak kuasa membendung tangis di hadapan para jurnalis. Meski banyak ditanya, Komariah tak mampu berbicara panjang lebar.

Komariah baru saja melaporkan kematian anak ketiganya, Muhammad Rizky Syahputra, kepada Badan Reserse Kriminal Polri, Rabu (2/5). Dia ditemani oleh kuasa hukum Muhammad Fayadh.

Ibu yang akrab disapa Kokom itu meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk mengusut tuntas kasus kematian anak bungsunya itu. Dalam tangis, dia berharap agar presiden bersedia membantunya.

“Tolong agar diusut tuntas pak presiden, jangan berhenti di tengah jalan. Soalnya anak saya tidak 'dijual' baru. Tolongin saya, saya punya rumah ngontrak. Sudah rumah ngontrak anak saya ilang pak. Kasihan saya ya pak. Saya orang kecil, saya mau cari ke mana lagi anak saya pak, Ya Allah,” ucapnya sambil menyeka air mata.

Kronologi 'Sembako Maut'

Sponsored

Kejadian itu berawal dari pemberian kupon pembagian sembilan bahan pokok (Sembako) melalui tetangganya yang bernama Sri. 

Acara pembagian sembako yang diselenggarakan Forum Untukmu Indonesia itu ternyata dihadiri oleh ratusan ribu massa yang tidak hanya datang dari Jakarta, tetapi juga dari wilayah sekitar Jakarta lainnya. Bocah berusia sebelas tahun itu terseret saat dalam dekapan ibunya yang mengantri untuk mendapatkan sembako.

“Pada saat itu korban ikut dalam antrean sekitar pukul 10.30 WIB di antrian. Kemudian chaos di TKP itu pukul 11.30 WIB, yang mana dalam genggaman ibu Komariah, korban terseret oleh orang yang berdesak-desakan dan terinjak-injak,” kata kuasa hukum Komariah, Muhammad Fayadh di Bareskrim Polri, Rabu (2/5).

Fayadh menjelaskan, ricuhnya acara tersebut dimulai ketika pertengahan acara, saat panitia memutuskan untuk membagi sembako dari yang berisi beras, minyak dan mi instan, menjadi hanya salah satu saja yang bisa dipilih. Kokom bukanlah satu-satunya ibu yang menyertakan anaknya dalam antrean tersebut.

“Karena keseharian anak itu tidak bisa lepas dari ibunya,” Fayadh menjelaskan alasan Kokom membawa anaknya.

Dia juga menjelaskan bahwa Rizky adalah anak penderita down syndrom. Setelah terseret-seret, dia dibawa oleh ibunya untuk berteduh di bawah pohon dan kemudian diberikan minum. Kemudian Rizky muntah dan kejang-kejang sampai akhirnya ditolong oleh dua anggota TNI untuk dievakuasi ke Posko kesehatan yang ada di sekitar lokasi.

Sayangnya, pada saat itu Posko kesehatan tidak memiliki peralatan yang lengkap. Rizky pun kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Tarakan, Jakarta Pusat.

Sesampainya di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD Tarakan pukul 14.00 WIB, Rizky ditangani dan dipindahkan ke ruang ICU pukul 02.00 WIB keesokan harinya. Sampai pada akhirnya pukul 04.35 WIB, Rizky dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.

Atas kejadian tersebut, keluarga beserta kuasa hukum memutuskan melaporkan kelalaian panitia yang menyebabkan orang meninggal. Dev Revano Sentosa selaku ketua panitia penyelenggara acara dilaporkan dengan pasal 359 KUHP dan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Tidak hanya terkait kelalaian yang menyebabkan kematian seseorang, panitia acara dianggap menggunakan logo Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tanpa izin. Serta, melakukan penyalahgunaan izin atas acara budaya sebagai bentuk merayakan hari tari nasional yang pada kenyataannya merupakan acara bagi-bagi sembako.

Sampai saat ini, Fayadh menyatakan tidak ada satupun panitia yang datang menemui pihak keluarga ataupun dirinya. Bahkan, pada saat kejadianpun panitia menyatakan sedang sibuk saat Kokom meminta bantuan.

Senin lalu, Kokom justru didatangi oleh dua orang yang mengaku dari relawan Merah Putih. Menurut Fayadh, kedatangannya untuk mengucapkan bela sungkawa dan memberikan sejumlah uang. Akan tetapi, mereka meminta pihak keluarga tidak menyampaikan kejadian ini kepada siapapun.

“Makannya, ini saya secara resmi menyampaikan bahwa benar pihak relawan merah putih selain memberikan tanda bela sungkawa juga mengatakan hal seperti itu,” ujarnya.

Langkah selanjutnya yang akan dilakukan Kokom beserta kuasa hukumnya adalah meminta konfirmasi dari rumah sakit yang tidak menyertakan alasan meninggalnya Rizky. Selain itu, mereka juga akan menemui Ketua DPR RI, Fadli Zon untuk meminta dukungan diusutnya kasus ini.

“Kami akan bertemu pimpinan DPR RI bukan untuk mengadukan, tapi meminta dukungan atas terjadinya perkara ini yang sudah ditangani oleh pihak Mabes Polri, agar ikut membantu, agar perkara ini bisa selesai prosudural. Sehingga jangan sampai ada pihak yang mengintervensi,” jelas Fayadh.

Berita Lainnya