sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tarif resmi LRT Gading-Velodrome flat Rp5.000

PT LRT Jakarta telah menetapkan tarif flat sebesar Rp5.000 untuk layanan Lintas Rel Terpadu (Light Rail Transit/LRT) koridor Kelapa Gading.

Sukirno
Sukirno Selasa, 02 Apr 2019 23:54 WIB
Tarif resmi LRT Gading-Velodrome flat Rp5.000

PT LRT Jakarta telah menetapkan tarif flat sebesar Rp5.000 untuk layanan Lintas Rel Terpadu (Light Rail Transit/LRT) koridor Kelapa Gading-Velodrome.

Corporate Communication PT LRT Jakarta Melisa Suciati mengatakan, penetapan tarif segera diberlakukan setelah operasional secara komersial.

"Tarif LRT Jakarta Koridor Kelapa Gading-Velodrome telah ditetapkan flat sebesar Rp5.000 (lima ribu rupiah)," ujarnya, Senin (2/4).

Penetapan tarif itu diatur berdasarkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 34/2019 tentang Tarif Angkutan Perkeretaapian Mass Rapid Transit dan Kereta Api Ringan/LRT.

Meski sudah menetapkan tarif, tanggal operasi komersial LRT Koridor Kelapa Gading-Velodrome masih belum ditetapkan.

"PT LRT Jakarta telah menyampaikan laporan kesiapan operasi untuk menjadi pertimbangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menetapkan tanggal dimulainya operasi komersial," ujar Melisa.

LRT Koridor Kelapa Gading-Velodrome membentang sepanjang 5,8 kilometer dengan struktur layang dan melayani enam stasiun yakni Stasiun Pegangsaan Dua, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian dan Velodrome.

Dalam keterangannya, Melisa juga menyampaikan seluruh rangkaian kereta LRT Jakarta telah mendapatkan Sertifikasi Sarana dari Kementerian Perhubungan dan dinyatakan telah memenuhi persyaratan teknis dan layak operasi.

Sponsored

"Rekomendasi Safety Assesment (Penilaian Keselamatan) juga telah diterbitkan oleh Kementerian Perhubungan," ujarnya.

PT LRT Jakarta juga masih terus melakukan penyempurnaan sistem LRT untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang disyaratkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Tempat sampah MRT

Sementara itu, pengguna jasa transportasi publik Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) Ratangga mengeluhkan minimnya tempat sampah yang tersedia di area dalam stasiun mengakibatkan sulit untuk membuang sampah.

"Terlalu sedikit, harusnya diperbanyak seperti di KRL," ujar seorang pengguna MRT, Budi di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa (2/4).

Budi mengatakan, terbatasnya tempat sampah yang tersedia di stasiun MRT dapat memicu pengguna KRL membuang sampah sembarangan lantaran tidak menemukan tempat sampah. Akibatnya area stasiun bisa menjadi lebih mudah kotor.

Warga Lebak Bulus itu meminta pihak MRT dapat mencermati hal tersebut dan mempertimbangkan untuk lebih banyak menyediakan tempat sampah, baik di area loket maupun di dalam peron stasiun.

Toni, pengguna MRT lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Dia mengaku kesulitan menemukan tempat sampah untuk membuang struk kertas yang dia peroleh usai membeli kartu MRT harian.

"Tadi saya bingung mau buang struknya di mana, akhirnya saya kantongi saja daripada menyampah di stasiun," ujar Toni.

Toni mengatakan sikap yang dia ambil belum tentu bisa diikuti penumpang lainnya. Minimnya tempat sampah di stasiun MRT bisa membuat masyarakat menjadi abai dan dengan mudah membuang struk pembelian kartu MRT harian di sembarang tempat.

Toni berharap pihak MRT bisa segera menambah jumlah titik penempatan tempat sampah di dalam stasiun. Dengan adanya penambahan tempat sampah, dia optimistis stasiun MRT akan menjadi lebih bersih, pun masyarakatnya juga semakin tertib.

Menanggapi keluhan masyarakat tersebut, Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta Muhamad Kamaluddin mengatakan bahwa pihaknya memang sengaja untuk membatasi jumlah tempat sampah di area stasiun MRT.

"Memang di dalam stasiun kami minimalkan sekali supaya sebelum masuk stasiun mindset-nya sudah untuk mengurangi sampah," ujar Kamaluddin di Jakarta, Selasa.

Kamal mengatakan dalam menjaga kebersihan di area stasiun, MRT Jakarta menerapkan konsep "TSP", singkatan dari tahan, simpan dan pungut.

Dia menjelaskan, istilah tahan dapat diartikan sebagai sikap menahan diri pengguna MRT untuk tidak makan dan minum di area stasiun yang berpotensi menimbulkan sampah.

Istilah simpan dimaknai sebagai sikap para pengguna MRT untuk menyimpan sampah yang dibawa, untuk kemudian dibuang ketika telah menemukan tempat sampah.

Sedangkan istilah pungut ditujukan kepada pengguna MRT untuk memungut sampah apabila menemukannya di area stasiun.

"Untuk pungut, yang pasti kami pungut sampah yang kelihatan, tapi kalau ada warga yang juga sukarela, pengguna sukarela memungut sampah, itu juga kami apresiasi," ujar Kamaludin.

Dia menambahkan, saat ini tempat sampah di stasiun MRT hanya tersedia di toilet dan area retail, yakni kafe, restoran dan minimarket. Kamaluddin mengimbau kepada pengunjung area retail untuk tertib membuang sampah di area tersebut.

"Seperti kafe, restoran ada minimarket ya harus makan minumnya di dalam kafe, di dalam batasan areanya kafe itu, tidak boleh keluar," ujar dia. (Ant).

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Akhirnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan DPRD menyepakati besaran tarif moda raya terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) Ratangga maksimal Rp14.000 per penumpang. Pemprov DKI mematok tarif sebesar Rp3.000 ketika masuk ke dalam stasiun. Ketika penumpang akan melanjutkan perjalanan tarif akan bertambah Rp1.000. Begitu pun untuk tujuan menuju stasiun selanjutnya hingga besaran tarif maksimal sebesar Rp14.000. Tarif MRT Jakarta akan dikenakan setelah tahap uji coba berakhir pada 31 Maret 2019. Sehingga, penumpang akan dikenakan tarif mulai 1 April 2019. • • #alineadotid #MRT #tarif #kereta #train #transportasi #transportation #railway #railwaystation #indonesia #massrapidtransit #travel #instapost #instanews #informasi #tarifMRT

A post shared by Alinea (@alineadotid) on

Berita Lainnya
×
tekid