logo alinea.id logo alinea.id

Teroris JAD incar kerumunan massa saat People Power

Tak hanya itu, Pos Polisi Jatiasih pun turut menjadi sasaran aksi amaliah mereka.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Senin, 06 Mei 2019 15:47 WIB
Teroris JAD incar kerumunan massa saat People Power

Terduga teroris dari Jamaah Ansharut Daullah (JAD) jaringan Lampung yang ditangkap di Bekasi, Jawa Barat dan Bitung, Sulawesi Utara, berencana menyerang sekumpulan massa people power pendukung paslon nomor urut 02. Mereka juga hendak menyerang pos polisi.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan, Pos Polisi Jatiasih menjadi sasaran aksi amaliah mereka. Beruntung, rencana penyerangan oleh kelompok JAD tersebut gagal setelah delapan terduga teroris dilumpuhkan oleh tim Densus 88.

Ada delapan orang yang dibekuk. Mereka berinisial RH dan M, dibekuk di Bitung, Sulawesi utara. Lalu MC ditangkap di Jalan Waringin, Gang 13 Nomor 27 RT 004 RW 004 Kelurahan Mintaragen, Kecamatan Tegal Timur, sekitar pukul 14,30 WIB. Selanjutnya, SL ditangkap di Jalan Pondok Ungu Permai Sektor V, Bahagia, Babelan, Bekasi, sekitar pukul 04.34 WIB.

Terduga teroris berinisial AN ditangkap di Jalan Keramat Kedongdong, Kelurahan Mangun Jaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, sekitar pukul 08.49 WIB. Kemudian menyusul pelaku MI dan IF yang juga dicokok di Bekasi, Jawa Barat.  

Dedi mengungkapkan, kelompok JAD Lampung ini terkenal lebih militan. Bahkan, mereka lebih terstruktur dan membahayakan dibandingkan kelompok jaringan Sibolga. Untuk menjalankan aksinya, terduga teroris jaringan Lampung ini telah memetakan sasaran secara matang. Mereka menunggu ada kesempatan untuk meledakkan bom yang telah siap pakai.

“Kelompok ini sudah siap meledakkan, tinggal menunggu momentum saja. Ketika ada momentum mereka lakukan itu,” kata Dedi di Humas Mabes Polri Jakarta pada Senin (6/5).

Menurut Dedi, sampai saat ini masih ada sejumlah anggota kelompok mereka yang masih dalam pengejaran. Anggota yang lari tersebut memiliki kemampuan merakit bom.

“Mereka memiliki kemampuan untuk merakit bom. Belum bisa diketahu apakah mereka membawa bom siap pakai, makanya Densus 88 kalau melakukan penangkapan harus sistem kejut, kalau tidak seperti kejadian di Sibolga,” ucap Dedi.

Sponsored

Adapun tempat persembunyian terduga teroris di sebuah toko di Kampung Pangkalan, RT 11/04, Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dikabarkan telah dijual oleh pemilik lamanya sebesar Rp11 juta. Di lokasi ini aparat Densus 88 menggerebek mereka.

"Dulu pemiliknya Ki Opung, namun sejak tujuh bulan lalu dijual kepada Bapak Menin alias Mandor Patek," kata warga setempat, Maryanto (35).

Maryanto mengetahui hal itu setelah dia bersama warga menelusuri kepemilikan toko tersebut. Pada Sabtu (4/5) siang, bahkan Maryanto selaku Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Kedung Pengawas ini sempat menemui Ki Opung.

"Tadi siang saya ketemu dengan Ki Opung dan beliau menjelaskan bahwa tokonya sudah dijual seharga Rp11 juta. Itu pun pembayarannya belum lunas," ujar Maryanto.

Kepada Maryanto, Ki Opung bercerita bahwa Manin alias Mandor Patek baru menyetor uang sebesar Rp6 juta untuk membeli toko tersebut. Namun sampai sekarang, pemilik baru belum membayar sisa uang sebesar Rp5 juta kepada Ki Opung.

"Setelah dijual kepada Bapak Manin, lalu sama dia (Manin) dikontrakkan ke orang lain. Mungkin terduga teroris ini yang mengontrak," ungkap Maryanto.

Dia menjelaskan, harga toko tersebut begitu murah karena berdiri di lahan milik pihak pengairan, Perum Jasa Tirta II. Sebelumnya, toko tersebut digunakan oleh Ki Opung sebagai tempat usaha las.

"Jadi ini lahan garapan Ki Opung yang kemudian dijual ke orang lain," kata Maryanto.