sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mahfud MD bentuk tim investigasi gabungan soal penembakan pendeta di Papua

Kasus tersebut harus diusut tuntas karena fakta-faktanya harus dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Kamis, 01 Okt 2020 11:14 WIB
Mahfud MD bentuk tim investigasi gabungan soal penembakan pendeta di Papua
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 377.541
Dirawat 63.576
Meninggal 12.959
Sembuh 301.006

Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) mengambil dua sikap atas terbunuhnya dua anggota TNI dan dua warga sipil di Intan Jaya, Papua.

Pertama, Kemenko Polhukam mendesak Kepolisian mengupayakan mengungkap kasus secara profesional. Kedua, Kemenko Polhukam akan membentuk tim investigasi gabungan yang melibatkan pejabat-pejabat terkait, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, hingga akademisi.

“Tim investigasi gabungan yang bisa lebih objektif menggali ini agar tidak menimbulkan kontroversi,” ujar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dalam konferensi pers daring, Kamis (1/10).

Kasus tersebut harus diusut tuntas karena fakta-faktanya harus dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo. Apalagi kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) senantiasa memicu keributan-keributan pada September. Di tahun lalu, juga terjadi keributan untuk menyongsong peringatan KKSB di Papua pada 1 Desember.

“Karena memang di sana ada sekelompok orang yang ingin memisahkan diri. Memisahkan Papua atau bekerja sama dengan provokator-provokator. Dari warga negara asing maupun gerakan sendiri di dalam dan itu kami hadapi karena melanggar hukum,” tutur Mahfud.

Berkaca pada hasil referendum (penentuan pendapat rakyat/Papera) pada 1969 melalui PBB, Papua sudah final bergabung dalam negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). “Hasil referendum sah dan sejak saat itu tidak ada jalan lagi (negosiasi) bagi Papua. Bagi orang-orang tertentu di Papua untuk meminta kemerdekaan,” ucapnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menuding aparat TNI sebagai pelaku penembakan. Tudingan itu berasal dari keterangan seorang pemimpin gereja di Papua. Dijelaskan pula, pendeta Yeremia masih hidup setelah tertembak, tetapi kemudian ditusuk sampai meninggal dunia.

Di sisi lain, Kepolisian Daerah Papua dan TNI menuding pelaku penembakan pendeta Yeremia adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang ingin memancing perhatian global jelang sidang umum PBB pada akhir bulan ini.

Sponsored

Kontak senjata antara TNI dengan kelompok bersenjata semakin tegang dalam sepekan belakangan. Puncaknya, ketika Pratu Dwi Akbar dari Yonif 711/RKS/Brigif 22/OTA yang ditugaskan ke Intan Jaya sebagai persiapan pembentukan Koramil baru tewas ditangan kelompok bersenjata.

Berita Lainnya