sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tol Jakarta-Cikampek, momok menakutkan tiap mudik lebaran

Harapan akan mudik lancar belum bisa terwujud tahun ini. Tol Jakarta-Cikampek masih seperti yang dulu..

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Kamis, 06 Jun 2019 22:02 WIB
Tol Jakarta-Cikampek, momok menakutkan tiap mudik lebaran

Harapan masyarakat akan perjalanan mudik yang lancar sempat melambung saat pemerintah menggemborkan ruas-ruas jalan tol di lintas Jawa dan Sumatera sudah siap digunakan untuk musim Lebaran 2019. Di beberapa hari menjelang lebaran, media nasional dan linimasa juga cukup ramai dengan kabar jalur mudik bebas macet tahun ini.

Sayangnya, pada H1 dan H2 lebaran, banyak dari masyarakat, khususnya mereka yang mudik menuju selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur justru terjebak dalam kemacetan yang parah di beberapa ruas jalan tol. 

Kepadatan kendaraan terparah tahun ini kembali terjadi di ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Ruas tol ini memang menjadi momok menyeramkan setiap tahun di musim lebaran.

Antrean panjang menuju tempat beristirahat (rest area) dan gerbang tol jadi pemandangan lagi. Paling parah, banyak pengemudi yang tidak bisa mencapai rest area memilih untuk beristirahat di bahu jalan karena lelah yang tak tertahan.

Awalnya, Ellen Piri akan mengira perjalanan mudiknya menggunakan mobil via jalan tidak akan menemukan kesulitan. Pasalnya, sebelum itu ia sempat melihat pemberitaan yang menyebutkan bahwa jalur Tol Cikampek relatif lancar.

Pemberitaan tersebut pada akhirnya mendorong Ellen untuk berangkat bersama keluarganya menggunakan mobil untuk mudik dari Bekasi menuju Bandung, Jawa Barat. 

Ellen berangkat pukul 20.00 WIB dari Jatiwarna Bekasi pada Rabu (5/6) atau H1 Idulfitri 1440 H. Waktu tempuh menuju Bandung biasanya hanya dua jam. Namun, Ellen baru sampai pukul 03.00 WIB dini hari esoknya (7/6) di Bandung.

“Intinya saya menempuh perjalanan lebih dari enam jam, dan satu jam saya sempat berhenti ngopi di KM-57 karena ngantuk berat,” kata Ellen kepada Alinea.id, Kamis (6/6).

Menghadapi keadaan seperti itu, Ellen sedikit kecewa dengan pemberitaan yang sempat ia lihat. Ia juga menyesal karena tergiur dengan informasi yang menyatakan bahawa jalur Tol Cikampek relatif lancar. 

Ellen menyebut, kalau saja ia mengetahui keadaan akan sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya, ia pasti memilih untuk menggunakan kereta api sehingga tidak akan merasakan perjalanan selama enam jam tersebut.

Kendaraan pemudik antre memasuki Gerbang Tol Cikampek Utama, Cikampek, Jawa Barat, Sabtu (1/6). / Antara Foto

Berdasarkan penuturan Ellen, sepanjang jalan tol menuju Bandung sangat padat. Mulai dari Bekasi Barat hingga Karawang mobil-mobil berjejer hampir tidak bergerak. Semuanya terjadi hingga rest area di sekitar KM-57.

Menurut Ellen, kepadatan di setiap rest area turut menjadi penyebab kemacetan. Meskipun sebetulnya petugas rest area telah mengimbau agar pengendara hanya beristirahat maksimal satu jam, supaya dapat bergantian dengan kendaraan lain.

“Yang menarik lagi banyaknya kendaraan yang sembarangan parkir di bahu jalan. Memang sih mereka kelelahan, sementara masih terlalu jauh sampai di rest area. Tapi itu menambah kemacetan karena berhenti sembarangan,” ucap Ellen.

Bukan hanya itu, Ellen menerangkan keadaan juga diperparah karena masih banyak terdapat pengerjaan proyek pembangunan dan perbaikan jalan. Sehingga, mobil-mobil harus berjalan dengan kecepatan yang lebih lambat di titik-titik proyek tersebut. Padahal, yang ia tahu selama lebaran proyek dihentikan. 

Menurut Ellen, mulai dari KM-60 ia baru merasakan kelancaran perjalanan menuju kampung halaman.

 “Contra flow juga tidak signifikan menekan antrean. Karena di beberapa titik mereka kena macet,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengakui kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan terjadi pada H2 lebaran atau Kamis (6/6) terutama di daerah Jabodetabek. Hal ini menurut dia akibat kurangnya antisipasi.

Budi meminta kepada PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sebagai operator jalan tol untuk segera berkoordinasi dengan Korlantas Polri mengambil langkah diskresi rekayasa lalu lintas.

“Antisipasinya sedikit terlambat seperti hari ini. Saya sudah tugaskan PT Jasa Marga supaya diskresi itu cepat diambil,” kata Budi.

Sejumlah kendaraan melintas di dekat jalan menuju pintu tol Semarang-Batang yang ditutup karena pemberlakuan satu jalur di Kendal, Jawa Tengah, Minggu (2/6). / Antara Foto

Skema one way

Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Danang Parikesit membenarkan adanya kepadatan kendaraan pada beberapa titik rest area. Di ruas tol Jakarta-Cikampek, selain KM-57 dan KM-47, bahkan titik kepadatan juga ada pada KM-42.

Dalam kondisi yang lebih parah, pengendara yang belum bisa mencapai rest area memilih untuk menepi atau beristirahat di bahu jalan.

“Karena rest area penuh, mereka menggunakan bahu jalan,” kata Danang kepada Alinea.id.

Berdasarkan pengakuan Danang, pihaknya sejauh ini telah memberikan imbauan dan informasi rest area dengan fasilitas yang dibutuhkan juga tersedia setelah Gerbang Tol Cikatama dan Kaliurip. Namun demikian, masih banyak pengguna jalan tol yang tidak mengindahkan hal tersebut.

Lebih lanjut, Danang mengatakan, jika menemukan hal demikian, pihaknya akan menindak tegas para pengemudi jalan. Danang mengaku Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga akan melakukan koordinasi dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), Korps Lalu Lintas (Korlantas) Kepolisian RI dan Ditlantas Polda agar keadaan ini tidak terjadi lagi pada arus balik.

“Yang sifatnya penegakan aturan, Korlantas dan Ditlantas Polda akan memindah kendaraan atau menderek,” ujarnya.

Sementara, Danang mengimbau agar pemudik melakukan perencanaa untuk menghadapai arus balik. Salah satu yang disarankan oleh Danang yakni mengatur jam keberangkatan.

“Pagi lebih baik karena cukup banyak yang jalan malam di tanggal 7-9 Juni ini,”

Selain itu, ia mengimbau agar pemudik dapat memanfaatkan rest area sebaik-baiknya dan bergantian dengan pengemudi lain. Kemudian, pemudik disarankan untuk memperhatikan rambu dan marka sementara untuk saat one way dan contra flow.

“Usahakan atur pengisian BBM dan e-money. Juga pastikan kondisi badan fit dan kendaraan prima,” kata dia.

Sementara itu, Kabag Ops Korlantas Polri Kombes Benyamin menerangkan, kepadatan di ruas jalan tol Cikampek disebabkan karena banyaknya pemudik susulan yang berangkat sejak hari H1 lebaran. Selain itu, kepadatan juga terjadi karena banyak warga yang hendak ke tempat wisata.

"Banyak yang masih ada acara di Jakarta. Biasanya ini adalah orang-orang yang rekreasi dan jarak-jarak dekat sebelum Cirebon," terang Benyamin.

Oleh sebab, polisi akan memberlakukan sistem satu arah atau one way dari Gerbang Tol Cikampek Utama sampai Palimanan. Hal itu dilakukan, karena titik kepadatan acap kali terjadi di rest area

One way diterapkan mulai pukul 11.00 WIB untuk mengurai kemacetan yang disebabkan antrean kendaraan di rest area,” kata dia.

 

 

Strategi tumpul dan tidak merata

Menanggapi kondisi demikian, Ketua Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Tranportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menilai arus kendaraan dan kepadatan jalan untuk mudik tahun ini tidak merata.

Djoko mengungkapkan arus mudik yang cukup lancar terjadi lantaran beberapa ruas jalan tol yang tadinya masih fungsional, sudah beroperasi penuh sebelum lebaran tahun ini. 

"Secara khusus, untuk mudik jarak jauh itu lancar, bahkan sejak tahun lalu. Tapi ini belum merata," kata Djoko.

Djoko juga mengapresiasi langkah pemerintah karena sudah menyelesaikan proyek infrastruktur tersebut. Terutama untuk jaringan Tol Trans Jawa dan Trans Sumatera yang dirasa sangat membantu masyarakat.

"Pemudik paling banyak itu memang ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari infratruktur dan strategi manajemen rekayasa lalu lintas yang diterapkan itu juga bagus," kata Djoko.

Meski demikian, Djoko mengatakan, kemacetan masih ditemukan di sejumlah ruas jalan tol dan jalan nasional. Banyak pemudik yang mengeluh terjebak belasan jam di titik kemacetan menuju kampung halaman.

“Artinya strategi belum diterapkan secara merata. Masih banyak yang harus dievaluasi,” kata dia.

Menurut Djoko, salah satu penyebab kemacetan yakni masih banyaknya gerbang tol (GT) di ruas-ruas jalan tol. Oleh karena itu, ia mendorong Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) untuk menghapus GT yang tidak diperlukan.

“Misal Cikarang Utama sudah pindah ke Cikampek utama sama Kaliurip Utama. Kalau seandainya tahun berikutnya gerbang tol lainnya hilang kan bisa lancar," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga harus melakukan pengawasan pada setiap rest area yang disediakan. Djoko menilai, rest area juga menjadi faktor penyebab kemacetan atau kepadetan di jalan tol bagi pemudik.

Ia memberikan contoh yang terjadi hari ini di Cikampek. Berdasarkan pemantauannya, masih terjadi kepadatan kendaraan karena banyak kendaraan keluar masuk rest area.

"Orang keluar masuk, keluar masuk jadi menggangu yang lain. Padahal mereka hanya meeting point saja di sana, janjian mau ketemu saudara ketemu bukan belanja," sambung Djoko.

Lebih lanjut Djoko mengungkapkan, pemerintah sebaiknya tidak hanya fokus membenahi infrastruktur untuk mudik jarak jauh, namun juga untuk mudik jarak dekat. Selain itu, bukan hanya jalur darat, namun udara, laut juga harus menjadi perhatian.

Menurut Djoko, lalu lintas yang dilalui pemudik jarak dekat masih banyak yang tesendat. Contohnya yang terjadi di Jawa Barat. Djoko menilai hal ini disebabkan minimnya angkutan umum di daerah tersebut.

"Nah, mereka mau silaturahmi, mau berwisata tidak ada angkutan umum. Sehingga menggunakan kendaraan pribadi, sementara prasarana juga belum memadai," kata Djoko.

Petugas mengatur lalu lintas di Gerbang Tol Cikampek Utama, Jawa Barat, Jumat (31/5). / Antara Foto

Optimalisasi jalur mudik

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sunadi menyatakan kelancaran arus mudik tidak lepas dari pembangunan infrastruktur yang menghubungkan kota ke kota, baik di Jawa maupun Sumatera.

Selain itu, ia juga menjelaskan hal tersebut didukung dengan strategi-strategi yang ada untuk mengurangi kemacetan.

 "Tahun 2019 adalah pembuktian bahwa pembangunan infrastruktur sangat berguna bagi masyarakat dari kota ke kota," ucapnya.

Keberhasilan infratruktur ini, kata Budi, dapat dibuktikan dari waktu tempuh perjalanan mudik lebih singkat dari sebelumnya. Dia mencontohkan, waktu tempuh Jakarta ke Semarang hanya 6 jam, Jakarta ke Solo 8 jam, dan Jakarta ke Surabaya 10 jam.

Pemerintah memang telah membuka sepanjang 1.468 kilometer (km) ruas jalan tol di guna mendukung kelancaran arus mudik 2019. Seluruhnya berada pada jaringan Jalan Tol Trans Jawa dan Jalan Tol Trans Sumatera, baik yang berstatus operasional maupun fungsional.

Pada Jalan Tol Trans Jawa, diketahui panjang jalan yang dibuka mencapai 965 km dan 31 km sesi ruas Pandaan-Malang. Kemudian, pada Jalan Tol Trans Sumatera panjang jalan dibuka sepanjang 503 km yang mencangkup 278 km jalur operasioanl dan 225 km jalur fungsional.

Adapun ruas operasional yang dibuka seperti Bakauheni-Terbanggi Besar (140,9 km), Palemban-Indralaya (21,93 km), Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (62,11km), dan Belawan-Medan-Tanjung Morawa (42,7km).

Sementara ruas fungsional yang dibuka meliputi Terbanggi Besar-Pematang Panggang (189 km), Kayuagung-Palembang-Betung (33 km), dan Medan Bijani Seksi (12,8 km).

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebagai upaya penanganan arus balik angkutan Lebaran 2019, Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan dengan beberapa instansi terkait melakukan koordinasi demi kelancaran arus balik. Upaya tersebut sebagai berikut: 1. Pemasangan rambu-rambu di akses masuk rest area sebelum tanggal 7 Juni 2019. 2. Penambahan mobil toilet, termasuk kanopi pelindung untuk antrean toilet sebelum tanggal 7 Juni 2019. 3. Untuk mengantisipasi mobil yang mogok di jalan tol, BUPTJ menambah mobil Layanan Jalan Tol (mobil patroli) dan menempatkan bengkel APM (Agen Pemegang Merek) di rest area tipe A sebelum tanggal 7 Juni 2019. 4. Penempatan informasi call center bantuan emergency yang dapat dihubungi setiap saat, yang ditempatkan di bawah rambu-rambu serta tempat-tempat strategis. 5. Penambahan mobile reader dari 28 unit menjadi 38 unit dan EDC dari 2 menjadi 12 di Gerbang Tol Palimanan. 6. Pelaksanaan one way tanggal 7 s/d 10 Juni 2019 dimulai pukul 12.00 WIB s/d 24.00 WIB dari KM 414 Kalikangkung s/d KM 70 Cikampek Utama dan selanjutnya diberlakukan contra flow dari KM 70 s/d KM 65 atau sesuai dinamika di lapangan dengan pertimbangan diskresi Kepolisian. @kemenhub151 @ditjen_hubdat #PenghubungIndonesia #MudikSelamatGuyubRukun #MudikBerkeselamatan #MudikBarengAsyikLancar

A post shared by Kemenhub 151 (@kemenhub151) on

 

Berita Lainnya