sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tolak Riza-Anca, Fraksi PKS Jakarta dianggap 'kudet'

Sulhy menganjurkan adanya koordinasi antara fraksi dengan pengurus.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Senin, 20 Jan 2020 16:09 WIB
Tolak Riza-Anca, Fraksi PKS Jakarta dianggap 'kudet'

Partai Gerindra menyesalkan respons Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD DKI Jakarta terkait penolakannya terhadap dua nama yang diumumkan sebagai calon wakil gubernur (cawagub). Fraksi "partai dakwah" dianggap kurang update (kudet).

"Kami menyayangkan sikap Pak Yani (Ahmad Yani, red) selaku Sekretaris Fraksi PKS. Masa 'kudet' dengan keputusan DPP dan DPW PKS Jakarta?" ujar Wakil Ketua II DPD Gerindra Jakarta, Ahmad Sulhy, kepada Alinea.id, di Jakarta, Senin (20/1).

"Padahal," ucap dia, "Kedua nama yang diumumkan Gerindra tadi sudah sesuai kesepakatan. Ada hitam di atas putih".

Gerindra mengumumkan dua nama cawagub Jakarta pengganti Sandiaga Uno, yang mundur karena mengikuti Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Mereka adalah Wakil Ketua Komisi II DPR sekaligus kader Gerindra, Ahmad Riza Patria dan eks Bendahara Umum DPP PKS, Nurmansjah Lubis alias Anca.

Nama keduanya disekapati Gerindra dan PKS. Bahkan, dokumen kesepakatan ditandatangani delapan pihak disertai stempel partai masing-masing dan bermaterai.

Mereka yang paraf adalah Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal DPP Gerindra, Prabowo Subianto-Ahmad Muzani; Presiden dan Sekretaris Jenderal DPP PKS, Sohibul Iman-Mustafa Kamal; Ketua dan Sekretaris DPD Gerindra Jakarta, Mohamad Taufik-Husni Thamrin; serta Ketua Umum dan Sekretaris Umum DPW PKS Jakarta, Sakhir Purnomo-Agung Yulianto.

Terpisah, Yani mengklaim, taktahu agenda Gerindra tentang pengumuman dua nama cawagub itu. PKS pun memilih absen. Dalihnya, bersikukuh mengusung Agung sebagai pendamping Gubernur DKI, Anies Baswedan.

Gayung bersambut. Sulhy menganjurkan Fraksi PKS DPRD DKI berkoordinasi dengan jajaran pengurus. Baik di pusat maupun Ibu Kota.

Sponsored

"Supaya di internal PKS 'satu suara'. Enggak elegan juga, kalau ternyata sikap fraksi berbeda dengan pengurus. Ini sangat disayangkan," katanya.

Sandi, sapaan Sandiaga, mundur sebagai DKI-2 per 10 Agustus 2018 saat hendak mendaftar sebagai calon wakil presiden dan berpasangan dengan Prabowo.

Hingga kini kursi wagub kosong. Nyaris dua tahun lamanya. Dus, Anies memerintah seorang diri.

Sebelum nama Riza dan Anca muncul, PKS dan Gerindra melakukan serangkaian kegiatan dalam mencari cawagub. Kemudian, muncul Agus dan Anggota Fraksi PKS DPR, Ahmad Syaikhu.

Kendati begitu, DPRD DKI tak pernah menggolkannya. Jalan PKS merengkuh kursi wagub selalu kandas. Lantaran rapat paripurna terkait pemilihannya tidak pernah kuorum.

Berita Lainnya