sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

WNI eks ISIS didominasi perempuan dan anak-anak

Hal ini menjadi salah satu hal yang dikaji pemerintah terkait rencana pemulangan mereka.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Jumat, 07 Feb 2020 15:33 WIB
WNI eks ISIS didominasi perempuan dan anak-anak
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 381.910
Dirawat 63.733
Meninggal 13.077
Sembuh 305.100

Ratusan orang mantan anggota Islamic State of Iraq and Syria atau ISIS yang mengaku warga Indonesia dilaporkan didominasi perempuan dan anak-anak. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT Suhardi Alius mengatakan, hal ini menjadi salah satu hal yang dikaji pemerintah terkait rencana pemulangan mereka.

Namun Suhardi mengatakan hal ini masih perlu diverifikasi. Hal ini lantaran informasi tersebut sampai ke pihak BNPT melalui pihak ketiga, seperti Palang Merah Internasional.

"Jadi yang 600 lebih itu kami dapatkan informasi adalah mayoritas perempuan dan anak-anak," ucap Suhardi dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (7/2).

Menurutnya, semua kalangan bisa terpapar paham terorisme, tidak terkecuali anak-anak. Keterlibatan orang tua dalam jaringan teroris, berperan besar pada terpaparnya anak-anak oleh paham terorisme.

Di sisi lain, anak-anak eks ISIS yang saat ini masih berada di Timur Tengah sudah terpapar paham terorisme cukup parah. Di antaranya bahkan ikut terlibat melakukan aksi terorisme.

Suhardi memberi contoh ihwal anak Imam Samudera, terpidana mati dalam kasus terorisme Bom Bali I yang terjadi pada 2002. Saat tragedi di Pulau Dewata terjadi anak Imam berusia sekitar 3-4 tahun. Belakangan diketahui anak Imam Samudera meninggal di Suriah atas keterlibatannya dengan jaringan ISIS.

"Imam Samudera kejadian bom Bali anaknya 3-4 tahun. Sekarang sudah mati di Syria. Lebih keras dari bapaknya," kata Suhardi.

Menurutnya, kondisi ini justru harus menjadi perhatian pemerintah untuk melindungi generasi muda. Sebagaimana hukum internasional, negara harus turun tangan menyelamatkan anak-anak yang terlibat dalam perang. 

Sponsored

Suhardi mengatakan, pemantauan aktivitas perlu dilakukan secara ketat. Ini dikarenakan paparan terorisme juga dapat terjadi tanpa kontak langsung. Saat ini, paparan paham kekerasan bisa dilakukan secara mandiri dengan bermodalkan internet. 

"Yang perlu kita siapkan, anak-anak kita, generasi muda, jangan sampai terpapar. Semuanya bisa terpapar, bahkan enggak berkontak sama orang pun bisa," ucap dia.

Berita Lainnya